Edit dengan apl Dokumen
Membuat penyesuaian, memberi komentar, dan berbagi dengan yang lain agar dapat mengedit secara bersamaan.
LAIN KALIGUNAKAN APLIKASI
ITA 10
Pak Udin melajukan mobilnya menyusuri jalan desa yang berdebu, matahari siang menyengat kulitnya melalui kaca jendela yang setengah terbuka. Udara panas bercampur bau tanah kering membuatnya semakin gelisah. Pikirannya masih terjebak pada hajatan tempo hari, acara pernikahan Bu Aini. Di sana, dia melihat Susi – janda montok yang kini jadi supplier kain linen untuk bisnisnya – bergerak lincah di antara kerumunan. Susi tertawa lepas dengan pria-pria itu, tubuhnya yang bongsor bergerak menggoda, payudaranya yang besar menonjol di balik baju kebaya ketat, dan bokongnya yang bulat sempurna membuat mata siapa saja sulit berpaling. Pak Udin ingat betul bagaimana Susi bermain games biadab itu, beruntung sekali mertua Bu Aini kala itu. Cemburu membara di dadanya, seperti api yang tak bisa dipadamkan.
"Wanita seperti Susi kuwi pancen subur, montok, cocok jadi istri. Kalau ndak sekarang, dia bakal jatuh ke tangan orang rendahan. Aku kudu miliki dia segera, sebelum terlambat."
Sebagai haji yang terpandang di desa, Pak Udin selalu sok suci di depan umum. Tapi di balik statusnya, nafsunya terhadap Susi sudah seperti racun yang merayap. Setiap malam, dia melamun tentang tubuh Susi: kulitnya yang halus dan bersih, payudaranya yang penuh dan bergoyang saat berjalan, pinggulnya yang lebar mengundang tangan untuk meremas.
"Dia janda, sendirian, pasti butuh laki-laki sepertiku," pikirnya sambil menggenggam kemudi lebih erat.
Hari ini, janji temu bisnis rutin di gudang linen miliknya adalah kesempatan sempurna. Dia akan sampaikan maksudnya: mempersunting Susi sebagai istri kedua. Bukan cuma nafsu, tapi juga kalkulasi kikirnya – bisnis Susi yang mendadak melejit bisa digabung, kekayaannya bisa dia kuasai.
"Ya, itu rencana bagus," gumamnya, senyum tipis muncul di bibirnya yang tebal.
Gudang linen berdiri di pinggir dusun jalan kecamatan, bangunan luas dengan dinding galvalum, penuh tumpukan kain putih dan warna-warni yang digulung rapi. Udara di dalamnya pengap, campur bau kain baru dan keringat buruh. Pak Udin memarkir mobilnya di depan, turun dengan langkah tegas, kemejanya sedikit basah oleh keringat. Dia dorong pintu gudang yang setengah terbuka, dan langsung disambut pemandangan yang membuat darahnya mendidih pelan.
Di sana, Susi sudah menunggu. Wanita itu duduk di bangku kayu, tubuhnya yang sintal terbungkus outfit sederhana tapi menggoda: atasan camisole lembut berwarna lilac dengan hanya ditopang tali tipis bergelayut di bahunya yang berisi. Menutup dada raksasanya agar tak meluap, juga lengannya yang gempal menggoda. Garis lembah payudaranya tampak sangat panjang dan dalam. Dipadu jeans longgar yang membungkus bagian bawahnya yang tak kalah padat juga. Membuatnya tampak seperti betina yang menggiurkan. Bersenda gurau dengan Pak Naryo, buruh tua yang kurus dekil berkulit gosong oleh matahari dan otot lengan yang menonjol, Susi tertawa lepas, suaranya renyah menggema di gudang, sambil sesekali menepuk lengan Pak Naryo karena geli.
Badan mereka dekat sekali. Bongkahan di dada Susi tadi seperti habis bersentuhan dengan lengan Pak Naryo sebelum Pak Udin datang. Lembah susu itu tampak dalam sekali. Sementara Pak Nardi, buruh tua yang lain, tidak terlihat.
"Oalah Pak Bos toh, heehehe," kata Pak Naryo sambil tersenyum lebar, suaranya serak penuh makna ganda.
"Selamat siang, Pak…”, sapa Susi ramah.
Pak Udin merasa jantungnya berdegup kencang, cemburu seperti ular yang merayap di perutnya.
"Sialan! Buruh tua ini berani-berani dekat Susi lagi? Lama-lama makin ngelunjak!" gumamnya dalam hati, wajahnya memerah tapi dia tahan.
Dia batuk keras untuk menyembunyikan amarah, lalu langsung menegur buruhnya, "Heh, Naryo! Bukan kerjo, malah godain wong wadon. Dosa, jaga adab! Mau gajimu kupotong?!!"
Suaranya tegas, tapi mata-nya tak bisa lepas dari tubuh Susi yang masih dekat dengan buruhnya. Pak Naryo mundur pelan, tapi senyum licik, seolah tahu sesuatu yang Pak Udin tak tahu.
Pak Udin memperhatikan lebih seksama, dan matanya mengunci sekejap pada tonjolan celana Pak Naryo yang sedikit basah di depan – noda basah yang mencurigakan, seperti bekas cairan kental yang merembes melalui kain tipis celana katun itu.Jika diperhatikan lebih seksama, tubuh renta berkaos singlet itu penuh peluh, dada-nya naik turun seperti habis olahraga berat, keringat menetes dari dahinya.
"Apa tadi mereka...?" pikir Pak Udin, imajinasinya liar. Anehnya, bayangan laknat seperti itu malah membuat kontol-nya bereaksi di balik celana.
"Keringetmu banyak tenan, perasaan ndak sepanas kuwi lho" tanya Pak Udin tajam, mata-nya menusuk Pak Naryo.
Buruh tua itu cengengesan, "Habis bersih-bersih bagian belakang gudang, Pak Bos. Capek."
Jawaban itu masuk akal, tapi Pak Udin tidak percaya sepenuhnya.
"Wis, sana keluar dulu. Aku mau bicara empat mata sama Mbak Susi," usir Pak Udin, suaranya tegas.
Sekarang, hanya Pak Udin dan Susi di ruangan itu. Merekapun langsung mengobrol seputar bisnis mereka. Hingga Susi kemudian mengambil dan menunjukkan sampel kain sutra halus yang dia bawa.
"Pak, ini kain premium, cocok untuk dipasok ke garmen langganan hotel mewah," kata Susi sambil Tubuhnya membungkuk pelan, seperti bunga mawar yang merunduk di embun pagi, membuat payudaranya yang montok dan penuh itu bergelayut lembut, seperti buah matang yang mengundang gigitan.
Belahan dada-nya semakin terbuka, lembah dalam yang mengkilap oleh keringat halus, memancarkan panas yang membara. Pak Udin merasa napasnya tersendat, konsentrasinya buyar seperti kabut yang tersapu angin, mata-nya tak kuasa menahan godaan, sesekali melirik ke sana, terpikat oleh keindahan yang begitu hidup dan menggiurkan, birahi yang merayap pelan di nadinya seperti api yang tak terpadamkan.
Cepat-cepat Pak Udin mengusap sutra itu. Memang lembut, selembut kulit yang membawanya. Maka tanpa bertele-tele, Pak Udin langsung sepakat untuk memasok kain tersebut.
Di sinilah iblis mulai bermain. Tanpa Pak Udin sadari, ambisi Pak Udin untuk memiliki Susi adalah jerat yang menguncinya secara perlahan. Godaan janda bertubuh sintal itu merasuk sedikit demi sedikit membuatnya mabuk kepayang. Terbukti dengan dia yang sudah tidak mempermasalahkan lagi Susi mau berpakaian seperti apa di depannya. Ditambah lagi, di luar jangkauan benaknya, ia lebih gampang meng iya kan apa yang perempuan sundal itu mau. Mata Susi yang sayu dan dalam itu seakan menembus sukma Pak Udin, membuat Haji itu terbuai tidak hanya oleh raga tapi kehadiran sepenuhnya Susi.
“Yang saya tau, Pak Udin sudah kaya sejak dulu… bahkan sejak buyut Bapak ya?, pantes wae gudangnya besar dan bisnisnya bagus”, pancing Susi.
“Hahaha… lhayo kuwi kan wis rahasia umum to Mbak”, gelak Pak Udin pongah.
Melihat ada kesempatan ketika Susi seperti sedang mengagumi dirinya, Pak Udin langsung ke inti. Dia ambil napas dalam, lalu sampaikan maksudnya.
"Mbak Susi, aku mau menyambung omonganku saat sampean kesini pertama kali lalu…”
“Aih aih, yang mana nggih, Pak?”
“Kuwi lho soal mensejahterakan janda…”
“Nggih?” Susi pura-pura polos.
"Mbak Susi, sebagai janda, sendirian kuwi abot. Agama mengajarkan cara yang mulia untuk melindungi wanita seperti Mbak, menikah, daripada sendirian dan rawan fitnah."
“Aih aih… aku belom kepikiran menikah Pak. Lagian nggih sama siapa? Ada-ada wae loh”
“Lho, harus sama yang bisa membimbing ke jalan yang baik, kayak aku iki. Ya to?”
Susi terdiam sambil mengarahkan bola matanya ke atas seolah berpikir.
“Kita ini kan rekan bisnis, Mbak. Bayangin wae dulu, kalau menikah, bisnis linen iki bisa digabung, Mbak ndak perlu capek kesana kemari dewe. Daripada menjanda berusaha dewe, lebih baik punya suami yang bisa membantu dan wis mengerti seluk beluk bisnis iki to?"
“Hihihi… apa iya Pak Udin yang juragan terpandang di dusun, berilmu tinggi dan disegani banyak warga iki kok mau sama janda?”
"Lho lho lho, jangan salah Mbak. Sampean kuwi ayu, justru kalo menikah denganku, Mbak bakal dihormati, ndak dihina lagi seperti dulu pas suami meninggal”
DEG
Menyebut suami seolah memantik magma yang mendidih dalam sanubari Susi. Bagaimana perlakuan orang macam Pak Udin dahulu kepada mendiang suaminya, tak bisa ia hapus dari benaknya. Namun, ia sudah sangat tahu bagaimana menguasai diri agar tetap tenang.
“Ndak tau sampean sadar atau ndak yo, badanmu yang montok kuwi, bisa banyak didekati orang-orang mesum, bahaya. Kayak kemaren misal, pas hajatan kawinan BuGuru, sampean dimodusin banyak orang to? Pada cari kesempatan deket-deket denganmu. Pada gendeng wong-wong kuwi…”
Susi bergerak, sedikit menggeser pantat kenyalnya, "Hmm, Pak Udin serius? Soal kayak gini ndak bisa dipikir sembarangan…, tapi mungkin enak juga punya suami kaya dan berstatus haji tulen", kata Susi sambil memperhatikan raut muka Pak Udin.
Dan benar saja, si tua sombong itu tampak sedikit panik dan tersenyum kecut. Ternyata benar yang diungkap oleh Pak Naryo tadi.
Sesungguhnya “servis” yang didapat Pak Naryo oleh tangan halus Susi sebelum Pak Udin datang tadi tidak gratis. Ada sebuah imbalan yang sangat berharga bagi Susi. Sebuah informasi bahwa gelar “Haji” yang disandang dan disombongkan oleh Pak Udin hanyalah palsu. Naryo mengaku pernah mendengar Pak Udin dan istrinya cekcok perihal dokumen palsu keberangkatan ibadah mereka ke tanah suci yang disembunyikan di almari rumah mereka.
Susi pun langsung menemukan sebuah ide brilian.
"Tapi Pak, aku ini kan janda, aku akui memang kadang kesepian dan butuh belaian….”
Pak Udin bersemangat lagi.
“Cuma… kalo aku nyari suami itu nggih… Aku suka orang yang fisiknya kuat… seperti Pak Naryo atau Pak Nardi. Kuat banget kerjanya tadi", ujar Susi sambil tersenyum licik dalam hati.
Pak Udin terbakar cemburu lagi, tapi dia berusaha tenang. Perempuan sundal ini membuatnya geregetan.
"Mungkin aku pikir-pikir dulu…"
Jawaban itu bukanlah yang diharapkan, namun itu bukanlah penolakan. Ada kesempatan yang diyakini Pak Udin.
“Baik kalo begitu, aku pamit dulu Pak”
“Lho, lha kok buru-buru?”
“Hihi, nggih. Soalnya aku sudah ada urusan lain. Mari”, kata Susi sambil berdiri dan beranjak pergi.
Pak Udin hanya bisa bengong sambil melihat punggung dan geolan pinggul bidadarinya pergi melenggang. Di kejauhan, ia menatap langkah Susi yang mantap masuk ke kursi belakang mobilnya yang sudah standby disopiri Jono.
Sesaat setelah mobilnya melaju, Pak Udin dengan geram mencari Naryo dan Nardi. Ia menemukan mereka sedang di bagian belakang gudang sedang bersantai.
"Kalian ngapain tadi sama Mbak Susi?!"
“Hah? Apa to Pak Bos?”
“Halah! Ndak usah banyak bacot. Naryo, ngapain tadi kowe duduk deket-deket Mbak Susi? Ora sopan! Dan kenapa celanamu basah kuwi, heh?!
“A, anu Pak Bos, tadi Mbak Susi nunjukin corak kain batik yang bagus di hapenya. Kalo celanaku kan pancen basah karena keringat Pak Bos, sampean kan tahu sendiri panas tenan ini…”, Pak Naryo beralasan dengan lancar.
“Huh…”, Pak Udin hanya bisa berdengus kesal, “Awas wae sampe bener kejadian macem-macem, kupastiin kalian ndak bisa kerja lagi!”, ancamnya.
Pak Nardi hanya terdiam menunduk di sebelah hapenya yang masih menyala. Lalu Pak Udin beranjak pergi dengan kesal. Namun ketika ia melewati meja, ia melirik hape yang menyala itu. Menu galeri sedang terbuka, meski masih di mode kolase, ada satu foto yang sekilas menarik perhatianya. Foto wanita seksi tanpa muka duduk di tumpukan kain, rok naik menunjukan paha montok, tangan memegang payudara besar seperti sengaja menawarkan, badan basah keringat, dan tahi lalat di bawah bibir bawah. Pak Udin tiba-tiba terpantik nafsunya. Ia hendak ngomel lagi, tapi kepalanya terlalu pusing, di antara cemburu dan syahwat.
—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari berbeda, senja mulai turun saat Susi tiba di rumah setelah seharian bernego harga kain di pasar, langit jingga memantul samar di jendela kaca baru yang ia pasang bulan lalu. Udara mulai sejuk, angin sore membawa bau tanah basah dari pekarangan di belakang, dicampur aroma masakan dari tetangga—bau sambal terasi yang pedas menggoda, membuat perutnya sedikit keroncongan. Ia masuk melalui pintu depan, meletakkan keranjang kain batik di meja kayu ruang tamu, suara kain bergesek terdengar lembut seperti bisikan. Rumah sunyi, hanya suara jam dinding tik-tok yang pelan dari dinding tamu, dan desir angin menyusup lewat celah pintu, membawa hembusan dingin yang menyegarkan kulitnya yang sedikit lengket oleh keringat. Susi menarik napas dalam, bau rumahnya sendiri memenuhi hidung: bercampur antara wangi bunga melati di vas sudut ruang tamu dan samar amis dari ritual malam sebelumnya yang masih menempel di udara kamar.
Jono dibiarkan pergi tadi, izin mau nonton dangdut katanya. Susi pikir biarlah budaknya itu melepas syahwatnya dengan menonton biduan-biduan favoritnya.
Susi lepas sepatu di depan pintu, telapak kakinya menyentuh lantai keramik dingin ruang tamu, jari-jari rapinya merasakan kesejukan yang menyegarkan setelah seharian panas di pasar. Langkahnya pelan menuju kamar, ruangan favoritnya di rumah. Kamar itu sederhana tapi nyaman: tempat tidur besar dengan rangka kayu polos, sprei putih bersih yang lembut seperti sutra, dinding putih yang tenang tanpa lukisan, hanya gorden tipis warna krem yang bergoyang pelan oleh angin dari jendela. Lemari kayu di sudut berisi tumpukan kain-kain mewah dari bisnisnya, aroma kain baru samar tercium, campur debu halus dari hari-hari sibuk. Cahaya senja masuk lewat jendela kecil, membuat ruangan berwarna hangat oranye, seperti api unggun yang pelan memudar.
Susi duduk di tepi tempat tidur, tangannya mulai membuka simpul wrap dress yang berbelahan dada rendah itu, pelan seperti ritual harian yang sudah jadi kebiasaan. Kulit dada bersihnya terbuka dulu, tulang selangkanya hampir tidak tampak karena tubuhnya semakin berisi, berkilau keringat tipis yang masih tersisa dari panas siang. Dada jumbonya terbebas perlahan, bra hitam polos yang ia pakai seharian masih menahan bobot berat itu, tapi ia lepas kaitannya dengan jari panjangnya, membiarkan payudara bulat beratnya jatuh bebas, bergoyang pelan seperti buah matang yang jatuh dari pohon. Kulit tipisnya memperlihatkan urat-urat hijau samar, seperti sungai kecil yang mengalir tenang di bawah permukaan putih susu hangat. Putingnya masih tenggelam dalam, rata tersembunyi di areola pucat, seperti menunggu panggilan rahasia yang hanya ia dan tuyulnya tahu.
Sekarang, inti malam dimulai, seperti setiap malam sejak ritual dengan Mbah Jenggot dulu. Susi berbaring telentang di tempat tidur, pinggang berisinya yang sedikit montok menyentuh sprei lembut, perut ratanya naik-turun pelan seiring napas yang mulai dalam. Tubuhnya rileks, tapi ada getar antisipasi di kulitnya, seperti listrik statis sebelum badai. Ia panggil pelan, suaranya manja tapi penuh kuasa, bergema lembut di kamar sunyi.
"Kemari, sayang... nih jatah susumu...", ucapnya sambil menggerakan bahu pelan.
Dari bawah kolong tempat tidur, ada suara kecil seperti desis angin malam, lalu gesekan kaki kecil di lantai keramik yang dingin. Tuyulnya muncul pelan-pelan, makhluk kecil botak itu merayap keluar dari kegelapan, tubuh abu-abu pucatnya dingin seperti malam dusun, mata hitam besarnya berkilat lapar seperti binatang liar yang haus. Bau khasnya langsung tercium: samar amis seperti tanah kubur basah setelah hujan, dicampur bau susu dari malam sebelumnya yang masih menempel di mulutnya.
Ia naik ke tempat tidur dengan gerakan lincah, tangan kecilnya yang dingin seperti es menyentuh betis ringan Susi, merambat naik pelan ke paha atas tebal berisinya, bagian dalam yang lembut dan lebih pucat itu bergetar pelan saat disentuh, seperti daun bergoyang angin.
“kik kik kikkik kik…”
Susi tersenyum tipis, bibir bawahnya yang lebih berisi digigit pelan oleh giginya sendiri, sensasi kecil yang menambah panas di tubuhnya.
"Lapar yo, Nak? Tak kasih susu banyak malam ini, kenyot yang banyak biar sehat”, gurahnya.
Si Tuyul mendekat, mulut kecilnya yang dingin langsung mencari payudara kiri Susi, bibir pucatnya menyentuh kulit hangat itu seperti hembusan angin dingin. Dan seketika, putingnya bereaksi ganas—mencuat pelan dulu, seperti bangun dari tidur panjang, lalu memanjang cepat, keras dan panjang hampir dua senti, areolanya mengerut ganas seperti kulit yang merinding. Susu mulai mengalir deras, hangat, mengisi mulut tuyul yang menghisap rakus seperti bayi kelaparan.
“Nyooott nyoottt nyottt nyottt nyottt…”
Suara hisapan itu basah dan vulgar, seperti bayi tapi lebih ganas, membuat ruangan bergema pelan dengan bunyi cipratan kecil, campur desahan Susi yang mulai keluar.
"Ahh... begitu, sayang. Sedot kuat-kuat, biar susunya keluar semua"
Kenikmatan menyebar seperti gelombang panas yang tak terkendali, dari dada jumbonya ke seluruh tubuh, membuat selangkangannya basah seketika, cairan hangat merembes pelan ke kain dress yang ia letakkan saja tadi di atas sprei.
Ia remas payudara kanannya sendiri dengan tangan kanan, jari-jarinya yang panjang dan kuat meremas daging empuk itu seperti adonan roti, membuat puting satunya juga mencuat ganas, memanjang seperti saudaranya, susu menetes pelan dari ujungnya yang keras. Bau susu segar memenuhi kamar, manis menggoda dicampur keringat Susi yang semakin deras, aroma lucah yang membuat udara terasa berat. Si Tuyul tak berhenti, tangan kecilnya meremas paha dalam Susi, dingin kontras dengan panas kulitnya, membuatnya menggelinjang pelan, pinggul lebarnya bergoyang kecil di sprei.
"Ya... kenyot lagi, anak setanku. Indukmu suka begini, nikmat sekali rasanya," bisiknya mesum, suaranya parau birahi seperti orang haus yang akhirnya minum.
Bokong bulat penuhnya bergesek ke sprei lembut, menciptakan friksi kecil yang membuatnya semakin basah, rasa sentuhan tuyul seperti listrik dingin yang membakar, membuat vagina Susi berdenyut kuat, cairan panas mengalir deras, membasahi paha dalamnya yang lembut dan pucat.
Malam semakin gelap di luar jendela, suara jangkrik bernyanyi pelan dari halaman kecil, angin malam menyusup dingin melalui celah gorden, membuat puting Susi semakin keras dan sensitif. Ia tarik kepala tuyul lebih dalam dengan tangan kirinya, rambut botaknya yang dingin terasa aneh di telapak tangannya, membuatnya merasa seperti induk sejati—kuat, dominan, dan penuh nafsu yang tak terkendali. Hisapan si tuyul semakin ganas, gigi kecilnya menggigit pelan puting yang mencuat, membuat Susi berteriak kecil.
"Sshh... enak tenan, bangsat. Memekku mau ngecrit... ahh!"
“Crrrrrrssshhhhhhhhhh……”
Orgasme datang tiba-tiba seperti badai, tubuhnya terkejat pelan, susu menyembur lebih banyak ke mulut si tuyul disambut rintihan panjang yang lirih sang induk. Bau keringat dan pemandangan tubuh semoknya yang bergoyang pelan terpantul cermin di dinding kamar.
Si Tuyul masih menyucup rakus, puting Susi tetap mencuat panjang dan keras. Air susunya mengalir tanpa henti saat tiba-tiba dering telepon HP Susi berbunyi dari meja samping tempat tidur. Susi membuka mata sayunya, tangan kanannya meraih HP itu pelan, sementara makhluk itu tetap menyusu, hisapannya tak terganggu, membuat dada Susi bergoyang kecil di setiap sedotan. Layar HP menyala, Susi menyeringai licik menatap nama yang tertera.
—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di sudut RT 4, Pak Udin duduk gelisah di ruang tamu rumahnya yang megah, cahaya lampu bohlam kuning samar memantul di dinding marmer yang dingin, membuat ruangan terasa lebih sepi dari biasanya. Malam sudah turun di desa, suara jangkrik bernyanyi nyaring dari kebun belakang, bercampur hembusan angin malam membawa bau tanah. Tubuhnya yang tambun bersandar di sofa kulit empuk, kemejanya sudah dibuka kancing atasnya, keringat malam masih menempel di dadanya, tapi bukan panas udara yang membuatnya resah, melainkan bayangan Susi yang tak henti-hentinya berputar di benaknya seperti roda gerobak yang menggelinding.
Dia ingat betul pertemuan kemarin di gudang: tubuh Susi yang sintal, atasan camisole yang membungkus dada raksasanya dan tali tipis di pundak janda yang sering melorot itu. Sehingga punggung dan lengannya yang berisi jadi terekspos. Serta bagaimana dia tertawa lepas sambil berdekatan dengan buruhnya.
"Wedus! Buruh tua dekil itu berani pegang Susi? Dan celana basah itu... " gumamnya pelan, tangan-nya tanpa sadar menggosok tonjolan celana-nya sendiri yang mulai mengeras.
Foto di galeri Pak Nardi masih membekas di pikiran: wanita montok tanpa muka, paha tebal terbuka, tangan meremas payudara besar seperti menawarkan dosa.
"Kuwi pasti Susi! Tahi lalat di bibir bawah kuwi lho... aku kenal tenan dari foto kontaknya."
Cemburu membakar dadanya seperti arang panas, tapi anehnya, itu malah membuat birahinya membara. Dia membayangkan Susi sedang "istirahat" di gudang, tubuh bulat-nya bergoyang di atas tumpukan kain, erangannya manja memanggil nama buruh-buruhnya itu.
"Ndak boleh! Susi harus jadi milikku, sebagai istri kedua. Aku ini Haji, Aku yang pantes!" desisnya, tapi tangannya sudah meremas penisnya pelan melalui celana, imajinasi liar membuatnya ngos-ngosan.
Bu Udin, istrinya, sudah tidur di kamar atas, suara dengkur samar terdengar dari tangga. Pak Udin meraih HP dari meja, jari gemuknya gemetar saat mencari nomor Susi.
"Aku harus telpon sekarang, membujuknya lagi. Ndak bisa nunggu besok," pikirnya, jantungnya berdegup kencang seperti drum hajatan.
Dia tekan tombol panggil, nada sambung berdering pelan di telinganya, membuat gelisah-nya semakin menjadi. Akhirnya, suara angkat—tapi bukan salam biasa, melainkan desahan pelan yang samar dari seberang.
"Ahh... enak... pelan-pelan, sayang..."
Pak Udin membeku, telinga-nya langsung panas.
"Itu suara apa? Desahan? Susi lagi apa?!" pikirnya liar, imajinasinya langsung melompat ke gambar buruk: Susi telanjang di ranjang, tubuh montok-nya bergoyang di atas pria lain—mungkin Pak Naryo atau Pak Nardi, yang dekil, tangan kasarnya meremas payudara besar itu, atau Jono supirnya yang preman kampung, kontolnya menusuk dalam sambil Susi mendesah manja. Cemburu seperti pisau menusuk dadanya, tapi penisnya malah semakin keras, birahi membara seperti api yang di kipasi angin.
"Sus? Ini aku, Pak Udin," katanya cepat, suaranya parau campur tegang.
Di seberang, Susi angkat HP ke telinga sambil tetap berbaring, si tuyul masih mencucup rakus di payudara kirinya, hisapannya basah dan ganas membuat desahannya keluar tanpa kendali.
"Aah... selamat malam, Pak... maaf, lagi... hmm... capek nih," jawab Susi pelan, suaranya manja tapi terputus desahan kecil lagi, "Sshh... ya, begitu...".
Si Tuyul menggigit pelan putingnya, membuat air susu menyembur dan Susi menggelinjang, pinggulnya bergoyang kecil, cairan panas semakin basah di selangkangannya.
Pak Udin menelan ludah, curiga semakin dalam.
"Sampean lagi opo to? Kok suaranya aneh gitu? Jangan-jangan sampean lagi... sama orang?" tanyanya hati-hati, tapi nadanya penuh cemburu.
Dalam hati Pak Udin sangat penasaran tentang siapa di sana? Naryo? Atau Nardi malam-malam ke rumah Susi? Dia mengumpat, membayangkan saja sudah panas dingin. Tapi birahinya malah naik, dia membayangkan Susi sedang digagahi, buah dadanya berguncang, erangan mesum itu untuk pria lain, membuat batangnya berdenyut kuat, tangannya tanpa sadar meremas selangkangan lagi.
Susi tersenyum licik di kegelapan kamar, tahu efeknya.
"Ah, ndak kok, Pak... lagi mijitin badan sendiri nih, capek seharian. Tapi... hmm... enak tenan, Pak... aaaaaaahh..." desah-nya lagi, sengaja dibuat panjang saat si tuyul mengenyot lebih kuat, suara cipratan susu samar terdengar lewat telepon.
Ia meremas payudara kanannya sendiri, pentilnya mencuat hingga susu menetes ke sprei, aroma laktasi semakin kuat di kamar. Di seberang telepon, Pak Udin sangat gelisah, duduknya menjadi tak tenang di sofa, keringat dingin menetes di punggungnya.
"Sus, aku serius soal tempo hari. Aku mau kowe jadi istri keduaku. Aku bisa melindungimu, membimbingmu ke jalan lurus. Daripada sendirian, rawan fitnah, Sus. Aku bisa kasih segalanya—rumah bagus, bisnis gabung, bahkan keturunan untukmu…", suara-nya memohon, tapi terputus desahan Susi lagi.
"Ooouhh... iya, kuat lagi... ahh..."
"Sampean lagi sama siapa to? Kok desah gitu? Jangan bohong, Sus!"
Susi tertawa kecil, suara-nya renyah, "Hihi, ndak ada siapa-siapa, Pak. Cuma lagi... relaksasi malam. Tapi nggih, proposal Pak Udin tadi menarik. Enak juga punya suami kaya, bisa nemenin malam-malam... ahh... seperti ini." Desah-nya lagi, kali ini lebih panjang, saat si tuyul pindah ke payudara kanan, empotan mulutnya membuat tubuh Susi bergetar, bokongnya bergesek ke sprei, birahinya memuncak.
"Tapi Pak, aku suka e laki-laki yang kuat, seperti... hmm... yang pernah aku bilang. Yang perkasa, Pak... bisa bikin aku... sshh... puas, pekerja kasar kayak kuli atau buruh… mmmmh"
Pak Udin cemburu gila, membayangkan Susi sedang disenggamai Naryo atau Nardi, tangan kasar mereka merengkuh tubuh montok itu, kontol hitam dekil yang menusuk dalam memaksa Susi merintih nikmat.
"Jangan gitu, Sus! Aku wis mesti lebih baik dari orang-orang kayak gitu! Aku bisa kasih kebahagiaan, bisnis aman, status haji. Sayang kalo kowe jatuh ke tangan rendahan!" katanya memohon, tapi birahinya membara, tangannya sudah membuka resleting celana, meremas kontolnya pelan sambil mendengar desahan Susi.
"Ahh... ya, sedot terus... enakkk...".
Penasaran membuat Pak Udin frustasi, "Kowe lagi ngapain sebenernya? Aku denger suara aneh, seperti... orang lagi... intim. Jangan bohong, Sus!"
Susi menggoda lagi: "Hihi, Pak Udin curiga ya? Ndak kok, cuma lagi... main sendiri. Tapi kalau Pak Udin jadi suami, mungkin bisa nemenin seperti ini... ahh... setiap malam."
Desahan Susi semakin menjadi-jadi seiring sedotan si tuyul yang semakin brutal, orgasme kecil lagi datang, suaranya parau.
"Ooooooh... iyaaaaah... keluar lagiiiiih..."
Pak Udin tak tahan, ia mengocok pelan burungnya di sofa, mengkhayalkan Susi sedang bersetubuh, cemburu bercampur nafsu membuatnya memacu spermanya agar segera keluar.
"Sus, janji ya pikirkan! Aku mau jawaban secepetnya!" katanya sambil tubuhnya gemetar, obsesinya semakin dalam.
Hening.
“Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh……..”
Satu erangan panjang di ujung handphone, lalu disambung nada telepon yang terputus. Pak Udin geram tiada terkira.
—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Malam itu, di lapangan bola kampung tetangga ramai luar biasa, komunitas pemuda kampung tersebut menggelar acara dangdutan. Panggung berdiri megah di tengah, diterangi lampu warna-warni berkelipan seperti kunang-kunang, cahaya menyapu wajah penonton yang berdesak-desakan. Speaker Horeg berdengung kencang, bass-nya menggelegar sampai tanah bergetar di bawah kaki, membuat dada penonton ikut berdenyut berisik.
Udara malam sedang panas lembab, bau rokok kretek tebal bercampur keringat pria yang berdesakan di depan panggung, juga aroma bakaran sate kambing dari warung pinggir lapangan. Penonton lelaki lebih dominan, mata mereka liar menatap panggung seperti serigala kelaparan. Beberapa pemudi, ibu-ibu, maupun penonton lain menyaksikan di belakang, bercengkrama sambil kipas-kipas, tapi sesekali ikut joget kecil. Musik koplo sedang heboh-hebohnya, lagu "Cerita Anak Jalanan" bergema syahdu, alunan musiknya membuat pasukan joget semakin heboh bergoyang.
Di atas panggung, Desy Tata sedang jadi pusat perhatian. Biduan yang sudah kondang di acara orkes kampung ini memang suka berjoget heboh, memamerkan buah dadanya yang seperti buah melon matang, menonjol ganas di balik tube dress merah yang menempel body, membuat putingnya samar-samar menonjol setiap goyang. Kulit sekitar dadanya mengkilap karena keringat, namun tak menyurutkan semangatnya. Outfitnya memang “nakal”, rok mini sangat pendek, menempel ketat di bokong bulat tebalnya, memamerkan pahanya yang mulus. Rambut panjang hitamnya beterbangan liar, dan mata genitnya berbinar di bawah lampu panggung. Tubuhnya montok namun lincah, setiap gerakan membuat penonton laki-laki pada ngiler.
Selain aksi panggung yang enerjik, Desy Tata memang punya suara merdu powerful, vokalnya menembus bass sound system, tapi andalannya tentu goyang erotisnya. Apalagi ketika gestur menghentakkan pinggul kencang ke depan seperti menggenjot. Satu lagi ialah pantat semoknya ia sodorkan dengan menungging, lalu menggerakkannya ke kiri dan kanan seperti itik. Membuat ujung bawah rok mininya perlahan naik dan semakin menunjukkan lapisan celana dalam yang model short-pants. Sengaja dia memakai yang hodel begitu karena kalau pakai celana dalam biasa, tentu sangat beresiko di depan predator-predator birahi alias penikmat koplo di depan panggung.
Penonton laki-laki terutama pemuda, merangsek makin liar bergoyang karena Desy sedang on fire. Hal itu dikarenakan di atas panggung ada Jono yang sedang asyik menyawer si biduan idaman. Semakin besar nominal saweran, semakin semangat Desy untuk bergoyang binal. Dan dengan kondisi Jono yang lebih berduit sekarang, saweran 50ribuan bukan hal sulit ia dikeluarkan. Sejak Jono naik dan mengeluarkan banyak lembaran biru-biru, mata Desy langsung berbinar lebar. Ia berdiri di depan Jono, mengangkangkan kakinya dan menghentakan selangkangannya sambil bernyanyi dan mendesah seiring tempo musik koplo.
Yang beruntung tentu penonton yang berada tepat di depan panggung. Tidak setiap manggung Desy berjoget sebinal itu. Alhasil entah berapa penis yang ereksi saat ini. Dan mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk segera mengarahkan handphone ke tubuh Desy yang meliuk-liuk liar mengitari Jono. Mereka merekam gerak-gerik pengundang syahwat itu, tentu sebagai koleksi pribadi di galeri masing-masing.
Tak terkecuali dua teman Jono yang malam ini menemaninya menyatroni biduan favorit itu. Salah satu teman ini adalah si tukang cuci mobil di pinggiran kota, satunya lagi pengangguran saja. Mereka bertiga memang kawan sejak lama, seperkawanan pemuda bermasa depan suram sebelumnya. Gemar mabuk, malak, dan maniak dangdut koplo, bahkan beberapa kali melakukan aksi maling kecil-kecilan.
“Aseeeekk, goyang teruss Jon!”, seru temanya dari bawah panggung melihat Jono yang berkemeja dan bercelana jeans menempelkan tubuhnya ke badan semok Desy Tata.
“Bro, enak si Jon banyak duit sekarang yo?”, tanya satu teman lainya di tengah deru sound yang menggelegar.
“Yoi bro, juragan dia orang kaya baru”
“Juragan yang di tunjukin fotonya kemaren kwi, Bro?”
“Iyo… yang susune gede kwi lho, hehe!”
“Asu, bejo tenan si Jon…”
“Hehe… sekarang bahkan wis bisa nyawer Desy. Dulu kan cuma nyimpen videonya di hape buat bacol tok”
“Nah nah lihat tuh, tanganya… dia sengaja pura-pura nyawer di dada, tapi sambil gesek susunya Si Desy, bisa wae modusnya si Jon, hahaha”
Mereka bertiga sudah mabuk tipis-tipis, dua temanya dibawah asyik berjoget, Jono diatas panggung terus menggerayangi tubuh Desy Tata sambil memberikan saweranya. Bahkan dengan sengaja si biduan merangkul leher Jono dan memaju mundurkan selangkangannya di atas paha Jono seiring ketukan kendang. Akhirnya, Desy Tata yang tidak pernah mau dipegang oleh penyawer, memegang lalu mengarahkan tangan Jono untuk merangkul kulit pinggang mulusnya yang terbuka. Saat itulah Jono merasa impian sudah tercapai. Namun kenikmatan itu harus terhenti ketika dia merasakan getaran di sakunya. Jono merogoh dan mengeluarkan hape. Susi menelepon.
“Eeh… lho lho mass, mau kemanaa…?’, canda Desy Tata ketika Jono beranjak turun panggung tiba-tiba,”...oalahh… sini to… sawer-sawer lagi masseee…”
Tapi Jono tidak peduli, ia segera menjauh dari hingar bingar untuk menerima telepon dari juragannya. Susi adalah yang utama. Kedua teman Jono terheran, lalu berjalan mengikuti Jono. Di pinggir jalan agak jauh dari dangdutan, mereka menemukan Jono yang terlihat serius menerima telepon. Kemudian telepon berakhir.
“Coy, aku ada kerjaan buat kita…”, kata Jono pada kedua temannya.
“Kerjaan opo, Jon?”
“Kerjaan dari Mbak Susi”
“Mbak Susi juraganmu? Yang montok kuwi, Jon? Weleh-weleh…”
“Iyo, jangan khawatir, bayaranya mahal. Sekarang ayo kita pulang ke rumah Mbak Susi”
“Wah, jos tenan iki. Akhirnya kita ketemu Mbak Susi! Hehehe…”
—------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi itu matahari baru terbit di timur dusun Losawah, cahaya lembut menyusup lewat jendela kaca rumah megah Pak Udin, memantul di lantai marmer dingin yang selalu dibersihkan pembantu. Udara pagi sejuk, bau embun bercampur aroma kopi tubruk yang baru diseduh di dapur. Burung pipit berkicau pelan di pohon mangga depan rumah, suara ayam berkokok samar dari kandang tetangga—pagi desa yang biasa damai, tapi di dalam rumah, seolah akan ada mendung yang datang.
Pak Udin bangun dengan kepala pusing berat, malam tadi dia susah tidur. Memang 2 hari belakangan ini begitu, desahan Susi di telpon beberapa waktu lalu masih menghantui telinganya "Ahh... enak... lebih kenceng...". Bayangan Susi sedang berbugil ria dengan pria, mungkin buruh dekil atau Jono preman itu, membuatnya masturbasi, tapi pagi ini malah tambah gelisah. Obsesinya semakin menjadi seiring cemburu yang membara.
"Susi harus kukawini secepetnya, sebelum jatuh ke tangan orang-orang gembel," gumamnya pelan sambil turun tangga, badan tambunnya bergerak lambat, kemeja tidur dan sarungnya kusut dan basah karena keringat.
Pak Udin berniat mengecek ulang asetnya. Sebagai orang kikir nan pelit, ia perlu perhitungan yang matang sebelum melakukan langkah besar hendak mengawini seseorang. Di ruangan lantai 1 sebelah tangga, terdapat sebuah kamar berisi brankas dan lemari penting. Dia masuk ke ruang itu, brankas besi hitam yang selalu terkunci rapat, kuncinya dia simpan di saku celana. Pak Udin membuka pintu lemari, memasukan kode, menarik laci, perasaanya tidak enak.
Dia pilin satu persatu map, dia merasa ada yang kurang. Dia ulangi beberapa kali lagi… keringat dingin mulai merembes di kulitnya. Tanganya gemetar. Kini ia pastikan satu dokumen tidak ada!
Dokumen haji.
Surat dari agen travel bohongan, bukti transfer dana masjid yang dia korupsi buat bayar "pengganti" naik haji, semuanya raib. Hanya duit receh dan surat kontrak distribusi kain yang ada.
"Waduh! Ilang iki!" seru Pak Udin pelan dulu, tapi suara-nya naik jadi panik.
Wajahnya memerah seperti tomat busuk, tangan gemuknya gemetar. Jantungnya berdegup kencang seperti drum hajatan, napasnya ngos-ngosan.
"MALING!”, ia teriak.
Bu Udin, yang sedang di dapur menyeduh kopi, langsung berjalan pelan ke arah suara suaminya. Saking seringnya mereka kehilangan uang, sampai-sampai membuat si Ibu muak mendengar teriakan yang sama.
"Opo to Pak? Ilang duit lagi?!", katanya di ambang pintu sambil mengaduk kopi di cangkir.
Tapi pas melihat muka Pak Udin pucat dan brankas kosong, matanya melebar kaget. "Lho Pak, dokumen apa yang hilang? Jangan bilang... dokumen ITU?!"
Pak Udin mengangguk lemas, duduk di kursi kayu sambil memegang kepala.
"Iya Bu... raib! Surat itu, bukti transfer dana masjid... semuanya! Kalau bocor, kita habis!"
Suara-nya gemetar, tangan dingin memegang kepalanya yang nyut-nyutan.
Bu Udin langsung panik, tapi cerewetnya keluar, "Ya ampun Pak! Kubilang apa dari dulu-dulu, jangan korupsi dana masjid untuk haji bohongan! Kowe maksa-maksa terus sih. Sekarang matih kita! Kalau bocor ke warga, kita bisa dikucilkan! Reputasi kita hancur, piye bisnis kita?!”
Pak Udin marah tapi seolah sudah tak sanggup bersungut-sungut, "Diam Bu! Ini wis kelewatan! Pasti ada yang menyalahi kita! Panggil semua pembantu, sopir, dan semua buruh juga karyawan yang kita punya!”
Bu Udin mulai terdiam dan menangis, membayangkan statusnya jika orang-orang tahu.
“Wueladalah! Malah nangis lho! Cepet sebelum dokumen itu sampe ke tangan yang berwajib, kita musti introgasi satu-satu semua orang kita! Mau macam-macam sama aku, cari mati itu orang!”
Bu Udin langsung beranjak memanggil semua pembantunya, sementara Pak Udin menelepon semua karyawan dan buruhnya untuk datang ke rumahnya saat itu juga. Mereka yakin diantara orang-orang mereka, ada yang nakal dan terkait kehilangan dokumen itu.
bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar