Jumat, 31 Oktober 2025

Pesugihan 5

Wanita cantik itu mematut di depan cermin dengan mata berbinar-binar. Leni memperhatikan dirinya yang telah berubah. Perlahan Leni membuka pakaiannya hingga tak bersisa, ia lalu menatap tubuhnya dipantulan cermin. Kemudian dalam hatinya langsung berkata kalau dirinya kini lebih cantik dan lebih molek dari yang dulu. Sekarang tidak ada orang yang dapat mengenalinya lagi, karena perubahanya itu. Selain berubah penampilan fisik, Leni pun merubah identitas diri dengan mengganti nama belakangnya.

Beberapa menit berselang, wanita cantik itu mengeluh dalam hati. Leni membaringkan tubuhnya yang telanjang di atas kasur. Lagi-lagi ia harus menahan hasrat seksual yang setiap hari dan setiap malam menyerangnya. Leni melenguh panjang dan pelan, merasakan tubuhnya makin panas dan terangsang. Rasa menggelitik di perut bagian bawah makin menggila dan menggelora. Nafasnya memburu dan kini pikirannya sudah tidak terkontrol, nafsu birahinya semakin membara.

“Maaf Kanda ... Aku sudah tidak kuat ...” Gumamnya sambil mencium cincin intan berlian pemberian Zalanbur.

Tak lama, muncul gumpalan asap hitam, kemudian dari dalamnya keluar Zalanbur sang raja. Zalanbur mengetahui benar apa yang dirasakan permaisurinya itu. Tanpa berkata, sang raja siluman mendekati sang permaisuri yang disambut oleh pelukan mesra Leni. Zalanbur langsung menindih dan membenamkan kejantanannya yang gagah perkasa ke dalam vagina Leni.

“Aaahhh ... Kanda ... Aaakkuu ... Merindukannyaaaaa ....” Lenguh nikmat Leni.

Zalanbur terus menyetubuhi Leni. Penisnya yang besar dan panjang terus bergerak dengan lincah, keluar masuk merasakan gesekan dinding vagina. Leni pun demikian, dia sangat menikmati persetubuhan ini. Leni terus mendesah dan mengerang merasakan nikmat permainan, tubuhnya terus menggeliat. Birahinya terus mendaki puncak-puncak kenikmatannya. Peluh sudah membanjiri wajah cantik dan tubuh moleknya. Rasa dingin udara malam, tak lagi dirasakannya, hanya kehangatan birahi yang ada. Penis raksasa itu semakin cepat bergerak dan membawa Leni pada puncak kenikmatannya. Tubuhnya mengejet, beberapa kali dalam dekapan sang raja siluman.

Untuk sementara Zalanbur menghentikan gerakkan penisnya. Setelah Leni menikmati masa orgasmenya dia mulai bergerak lagi, menyetubuhi permaisurinya yang cantik itu.
“Ahhh… Kandaaa… aaaaahhh…” Erang Leni. Zalambur terus bergerak beberapa saat lagi sampai dia melepaskan benihnya. Leni dapat merasakan cairan cinta Zalanbur mengisi liang vaginanya dan terus mengalir masuk ke rahimnya.

“Maafkan aku kanda ... Aku tidak kuat menahannya ...” Lirih Leni sambil mengusap wajah Zalanbur mesra.

“Aku yang harus minta maaf ... Aku lupa memperhitungkan kebutuhan seksmu dinda ... Walau keinginan seks dinda berkurang sangat banyak, tetapi di alam manusia dinda termasuk ke dalam golongan hiperseks ...” Jelas Zalanbur.

“Lalu bagaimana? Haruskah aku memanggil kakang setiap hari, saat aku membutuhkannya?” Keluh Leni.

“Itu tidak mungkin ... Sekarang aku ijinkan dinda mencari pasangan sendiri untuk menyalurkan gairah dinda ...” Ucap Zalanbur memberi kebebasan seks pada permaisurinya.

“Benarkah kanda?” Tanya Leni sangat senang.

“Ya ...” Jawab Zalanbur.

“Kanda ... Aku ada permintaan ...” Ucap Leni manja.

“Apa permintaanmu ...?” Tanya Zalanbur.

“Aku ingin kanda membunuh seorang bangsa manusia ... Aku sangat sakit hati padanya.” Pinta Leni.

“Tidak mudah membunuh bangsa manusia, dinda ... Bangsa jin sepertiku tidak bisa membunuh manusia tanpa ada perjanjian terlebih dahulu ... Jika itu dilanggar, maka akan menimbulkan bencana yang sangat besar bagi bangsa jin ...” Jelas Zalanbur pada permaisurinya.

“Lantas aku harus bagaimana kanda? Aku sangat sakit hati pada orang itu.” Ucap Leni sedikit murung.

“Lakukanlah dengan cara manusia ... Pakai tipu muslihat ...” Saran Zalanbur.

“Oh ... Gitu ya kanda ... Baiklah kalau begitu ...” Sahut Leni. “Kanda ... Bolehkah aku minta satu permintaan lagi!” Lanjut Leni.

“Katakanlah!”

“Aku minta pelayan dari bangsa siluman ... Untuk melayaniku dalam segala hal, termasuk kebutuhan ranjangku ...” Pinta Leni pelan dan malu-malu.

“Baiklah ... Berapa yang kau perlukan?” Tanya Zalanbur sembari bangkit dari tubuh Leni.

“Eem ... Lima ... Sepuluh ...” Sahut Leni yang juga ikut bangkit dari posisinya.

“Baiklah ....” Jawab Zalanbur.

Bagi Zalanbur tidaklah sulit untuk memanggil wadya balad tentaranya. Lima siluman raksasa yang sakti mandraguna terpilih sebagai pelayan sang permaisuri. Tiga siluman laki-laki dan dua siluman perempuan. Semua siluman tersebut memiliki kesaktian yang tinggi diantaranya memiliki ilmu mengubah diri sebagai manusia yang bisa diraba dan dirasa bangsa manusia, sebagaimana ilmu yang dimiliki Zalanbur dan Mareksa sang gendruwo. Setelah itu, Leni memberikan penjelasan dan pengarahan kepada para anak buah silumannya tentang tugas mereka. Dengan kedigdayaan yang dimiliki Zalanbur, kelima siluman raksasa itu tunduk dan patuh pada perintah Leni.

-----Milf_Love-----

Pagi yang cerah, matahari bersinar terang, udara yang sejuk, gemercik air yang tenang, kicauan burung menambah suasana syahdu, sarapan tersedia lengkap di atas meja makan segelas susu dan sepotong roti selai coklat. Leni mulai menikmati sarapan paginya dengan ditemani kedua pembantunya. Leni memperlakukan kedua pembantunya itu seperti layaknya teman atau sahabat karena umur keduanya tidak berbeda jauh dengan dirinya.

“Nyai ... Semalem tadi saya takut ... Seperti ada yang ganggu ...” Ucap Tika, pembantu yang memiliki badan yang tinggi agak gempal tetapi tidak gemuk.

“Eh ... Sama ... Saya juga seperti ada yang megangin susu, nyai ...” Sambung Ina sembari meremas payudaranya sendiri yang berukuran jumbo.

“Tenang saja ... Nanti juga terbiasa ... Mereka cuma jail tapi baik kok ...” Jelas Leni santai. Wanita cantik itu mencoba sedikit demi sedikit memperkenalkan siluman-siluman pelayannya pada kedua pembantu itu.

“Mak-maksud Nyai apa?” Tanya Tika dengan mata terbelalak karena kaget.

“Mereka itu pelayanku ... Jangan takut ... Santai aja ...” Leni kembali mencoba menenangkan mereka.

“Jadi ... Nyai pelihara jin?” Tanya Ina ingin yakin.

“Iya ... Jin penjaga ... Mereka tidak jahat hanya jail aja ...” Jawab Leni sambil tersenyum.

“Takut ah nyai ... iiihhhh ...” Tika bergidik merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Makanya kalian harus kenalan supaya gak takut ...” Ucap Leni.

“Nyai ah ... Gak mau ... iihhh ...” Kini Ina yang bergidik.

“Kalau kalian gak mau kenalan ... Dijamin rugi ... Mereka ganteng-ganteng lo ...” Bujuk Leni dan sukses membuat Tika dan Ina interest.

“Masa sih Nyai ... Biasanya bangsa jin, mukanya jelek-jelek dan menyeramkan ...” Kata Tika mulai menggeser duduknya mendekati Leni.

“Kalau yang ini nggak ... Piaraanku ganteng-ganteng ... Hi hi hi ...” Kata Leni.

“Serius, Nyai? Kalau ganteng mah ... Kenalin dong ...!” Keluar gaya kemayu Ina.

“Pasti aku kenalkan pada kalian ... Tapi kalau kalian siap ...” Jelas Leni.

Dan obrolan seru tentang jin pelayan Leni pun mengular tak kunjung berhenti. Perlahan antusias dan keberanian Tika dan Ina pun muncul dan terpupuk. Leni pun mulai memperlihatkan keganjilan-keganjilan pada kedua pembantunya, seperti piring melayang, gelas tertuang air dan segala macam hal yang bergerak sendiri tanpa campur tangan manusia. Awalnya Tika dan Ina ketakutan namun lama kelamaan rasa takut itu berkurang.

“Tuh mereka di belakang kalian ...” Kata Leni santai sembari tersenyum.

“Nya-nyai ... sa...saya takut ...” Tika gemetar seluruh badannya.

“Gak usah takut ... Santai ... Percaya kalau mereka baik ... Dan inget, ganteng ...” Leni terus memotivasi mereka. “Coba sini tangan kalian ...” Ucap Leni. Kedua pembantu itu menyodorkan tangan kanannya. “Coba rasakan sama kalian ...” Lanjut Leni. Seketika itu juga, Tika dan Ina merasakan usapan ringan di tangan mereka masing-masing.

“Nyai ... Ada yang usap tangan saya ...” Ina merespon.

“Iya Nyai ... Tangan saya juga ...” Timpal Tika.

“Mereka juga ingin berkenalan dengan kalian ...” Lirih Leni sambil terus tersenyum.

“Mereka baik kan ... Nyai ...” Ucap Ina ingin keyakinan.

“Ya ...” Jawab Leni singkat namun penuh penekanan.

“Ganteng...?” Tanya Tika sambil tersipu.

“Ya ... Jadi sepertinya kalian sudah siap melihat mereka langsung ...” Kata Leni.

“I-iya ... Nyai ...” Jawab Ina namun ia berlari dan berdiri di belakang Leni. Begitu pun Tika yang bersembunyi di balik tubuh Leni.

Leni yang merasa kedua pembantunya sudah siap dan memang harus mengetahui makhluk astral pelayannya, segera saja menyuruh para siluman itu menampakan diri tetapi dengan bentuk dan rupa manusia, bukan bentuk aslinya. Tika dan Ina bersembunyi di balik tubuh Leni yang sedang duduk di kursi, kedua mata mereka tertutup rapat-rapat. Untuk sejenak, Leni membiarkan kedua pembantunya bertingkah demikian.

“Tika ... Ina ...” Ucap Leni lembut namun seperti perintah bagi keduanya.

Kedua wanita itu perlahan-lahan membuka matanya kemudian keluar dari persembunyiannya. Sontak saja kedua wanita itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tidak ada wajah seram, tidak ada kesan angker atau wajah yang aneh-aneh. Lima siluman pelayan sang majikan ternyata manusia biasa yang tampan dan cantik. Tidak tampak pakaian seperti pakaian kerajaan atau pakaian jaman dulu malah terkesan lebih modis pakaian di alam manusia.

“Kenalan sana ...!” Perintah Leni pada kedua pembantunya.

Singkat cerita, terjadilah perkenalan antara manusia dengan siluman, perkenalan antara kedua pembantu itu dengan kelima siluman pelayan sang majikan. Walau tempo perkenalan mereka sangat singkat, tetapi sudah mampu membibitkan rasa luar biasa di hati kedua pembantu tersebut. Mereka langsung akrab satu sama lain bahkan mulai saling bercanda. Leni sangat senang dengan situasi ini karena bagaimana pun siluman pelayannya memerlukan penyaluran syahwat mereka yang bisa didapatkan dari kedua pembantunya.

Dengan cara yang sama, Leni memperkenalkan siluman pelayannya kepada sopir dan tukang kebun. Ali sebagai sopir dan Daman sebagai tukang kebun yang keduanya berumur sekitar 30 tahunan diperkenalkan kepada para siluman. Proses perkenalan tidak sesulit dan serumit kepada para pembantunya. Sopir dan tukan kebun langsung ‘In’ dengan siluman-siluman itu terutama para siluman perempuan.

-----Milf_Love-----

Malam yang dingin tidak membuat Leni merasa kedinginan. Tubuhnya yang bugil terduduk di pinggir ranjang serasa merinding, bukan karena ketakutan ataupun kedinginan melainkan oleh gairah birahi yang mengaliri sekujur tubuhnya. Seperti aliran listrik yang membawa sensasi tersendiri hingga tubuh Leni menggeletar. Getaran itu semakin tinggi ketika salah satu siluman pelayannya dengan perlahan mendekatinya, dengusan siluman raksasa itu semakin membuat kewanitaan Leni menggeliat bergairah. Tanpa terasa, sosok tinggi besar itu telah begitu dekat sekali dengannya. Sang siluman itu kini berada di antara kedua paha mulus Leni yang seolah mengangkang begitu saja untuk membukakan jalan untuk peliharaannya berbuat sesuatu. Tanpa sadar Leni berkata lirih pada makhluk itu, ”Kemarilah …cepatlah .... berilah aku kenikmatan gairah nafsumu.“

“Ooooh .... Agggghh ...!” Leni pun mulai mengerang dengan kedua matanya merem melek didera birahi yang kian menghentak jiwanya. Kejadian itu sangat menggelitik gairahnya. Siluman itu dengan disertai dengusannya ternyata menjulurkan lidah yang panjang kesat dan mulai menjilati selangkangan Leni yang terbuka lebar.

Leni tersentak dan menjerit kembali bercampur nikmat serasa sampai ke ubun-ubun, tubuhnya bergerak erotis mengikuti jilatan lidah siluman itu pada liang vaginanya, bahkan Leni seperti merindukan sesuatu untuk bisa menuntaskan gairah nafsunya yang begitu sangat menggebu minta disetubuhi. Leni merasakan kenikmatan jilatan lidah panjang siluman itu sungguh luar biasa. Gerakan-gerakan lidah panjang kesat makhluk siluman itu begitu liar saat mengaduk-aduk gua kenikmatannya. Tak lama kemudian selangkangan Leni telah basah kuyup dengan lendir kewanitaannya. Leni tak kuasa menahan erangan-erangan yang keluar dari mulutnya

“Aaaaah ... Ooooh ... niikkmmaaattt ...!” Bagai orang yang kesurupun Leni menjemput puncak orgasmenya dengan cepat, dengan tubuh bergetar yang melengkung ke atas, Leni mengerang nikmat tiada putusnya saat jilantan lidah kesat anjing siluman itu mengais-ngais bibir kemaluannya. Pada puncaknya, Leni merasakan tubuhnya terasa lemas seperti tak bertulang. Sambil mengerang panjang badannya bergetar lalu terhempas ke belakang ke tempat tidur yang empuk.

Tak lama, perasaan birahi Leni kini muncul kembali dengan tiba-tiba, kemudian Leni menatap mata makhluk itu yang juga sedang memandangi dirinya. Leni mengambil posisi menungging dan bertumpu dengan kedua punggung tangannya di tempat tidur. Dan siluman raksasa itu naik ke atas tempat tidur lalu merapatkan selangkangannya ke pinggul Leni dan mencengkeramnya. Kedua pinggul mereka pun bersatu, dan bulu-bulu sang siluman itu serasa menggelitik geli kulit pantat Leni.

Secara spontan, terjadilah persetubuhan antara ibu muda yang cantik dan makhluk siluman berwujud raksasa itu. Dengan perlahan disertai dengus nafasnya siluman pelayan itu menusukan penisnya ke liang vagina ibu muda itu. Seketika Leni pun mengerang panjang saat batang kejantanan makhluk siluman itu kian membesar dan kandas di dasar rahimnya, dan dirasakan oleh Leni batang kejantanan yang mulai terasa panas berdenyut denyut.

“Aaaachhh .... eennaaakk ... Ooooh ...!” Tubuh Leni bergetar hebat dengan kedua mata yang merem melek saat makhluk siluman itu mulai memacu gerakan penis keluar masuk vaginanya. Kenikmatan penis besar panjang yang menggesek dinding vaginanya membuat Leni menjerit histeris di sepinya malam.

“Oooh ... teruuuus enaaak ...” Dan siluman itu kian liar dan bernafsu menyetubuhi ibu muda itu dengan suara menggeram bagai serigala lapar.

Erangan nikmat Leni telah membuat makhluk hitam itu kian buas dan dengan keras memompa penisnya di liang vagina Leni. Leni bagaikan anjing betina yang sedang birahi saat disetubuhi oleh sang jantan yang gagah perkasa. Ibu muda itu melolong panjang karena didera oleh rasa kenikmatan yang luar biasa. Gesekan penis siluman yang bergerigi itu membuat dinding vaginanya ikut berdenyut-denyut tiada henti. Dengan meremas remas sprai tempat tidurnya ibu muda itu mengerang nikmat dengan kepala mendongak ke langit langit kamar.

“Oh ... Ooooh toloooong teruuuus enaaaaaak… Agggggh...!” Leni merasakan sensasi yang sangat luar biasa.

Bentuk dan perilaku alat kelamin makhluk itu sendiri sangat berbeda. Kejantanan makhluk itu terasa semakin membesar dan membengkak sewaktu telah berada di dalam tubuhnya. Belum lagi alat kejatanan makhluk itu terasa begitu panas di dalam liang vaginanya. Saat siluman itu mulai memacu berahinya dengan liar, Leni mengerang nikmat kembali dan pinggulnya mengikuti irama kocokan makhluk perkasa itu. Suara bisikan ghaib dari makhluk itu merasuk ke dalam jiwa Leni, bisikan itu begitu memukau dan merangsangnya hingga membuat Leni kian liar dan bergoyang erotis dengan tubuh bergetar. Nafas Leni serasa hendak putus oleh karena didera kenikmatan penis besar makhluk siluman.

Kenikmatan disetubuhi oleh makhluk siluman itu telah membuat Leni berkelojotan dengan tubuh menggeletar, kenikmatan itu serasa membuat sukmanya terbang melayang keawang awang, dan Leni pun menjerit histeris, “Oooooh .... ampuuuun enaaaak ... enaaaakkk .... aaaccchhhh ...!“ Leni pun meracau nikmat saat lahar panas siluman itu menyembur dengan deras ke dalam rahimnya. Akhirnya tubuh Leni ambruk di kasur empuk, dan jilatan lidah panjang siluman itu di sekujur punggung Leni adalah sebagai isyarat, pertanda belaian mesra dari sang makhluk ganjil untuk mengucapkan terima kasih kepada ratunya.

-----Milf_Love-----

Angin semilir menelusup celah-celah helai rambutnya. Menikmati sore yang menggantungkan matahari di ujung barat untuk segera menyembunyikan dirinya. Menebarkan kilau emas keoranyean di langit kala itu. Dedaunan yang gugur melayang-layang terbawa angin. Sedikit menyapu ujung rambut dan menyapa kulit menimbulkan sensasi aneh yang sejuk atau lebih sering disebut dingin. Wanita cantik yang sedang berdiri di balkon rumah melihat seseorang masuk ke halaman rumahnya dengan tergopoh-gopoh. Leni turun ke lantai satu untuk menemui orang yang dilihatnya tadi. Sesampainya di lantai satu, Leni pun segera mempersilahkan orang tersebut masuk ke dalam rumahnya lalu mempersilahkan duduk.

“Bagaimana pak hasilnya ...?” Tanya Leni penasaran.

“Maaf Bu ... Orang yang Ibu cari sudah tidak ada ... Orang yang bernama Hilman sudah meninggal dunia ...” Jawab sang tamu.

“Meninggal??? Meninggal karena apa???” Pekik Leni sangat terkejut sampai-sampai badannya bergetar hebat.

“Maaf Bu ... Hilman dibakar warga ...” Ucap sang tamu lirih sambil memalingkan mukanya karena tak kuat menatap wajah wanita di hadapannya. Sang tamu merasakan aura yang sangat hebat memancar dari wajah cantik itu, yaitu kemarahan yang teramat sangat.

“Kenapa warga membakar dia?” Leni mengeluarkan suara geramnya yang mendirikan bulu roma siapa pun yang mendengarnya.

“Ka-karena dituduh melakukan pesugihan ... Orang itu dituduh memberikan tumbal ...” Kata sang tamu lagi yang masih tetap tak berani memandang Leni.

“Siapa dalang yang menggerakan warga membakar Hilman?” Tanya Leni dengan suara yang sedikit melembut.

“Orang itu bernama Darwis ... Rentenir tua yang rumahnya dekat kantor desa ...” Jawab sang tamu. Seketika saja itu Leni teringat pada masa-masa dirinya masih bersama Hilman. Leni teringat pada laki-laki setengah baya yang menagih hutang dengan ancaman kalau dirinya akan menjadi pengganti untuk pembayaran hutang.

“Kalau anak-anaknya?” Tanya lanjut Leni.

“Saya tidak tahu, bu ... Kami sekampung tidak tau istri dan anak-anak Hilman.” Jawab sang tamu sembari membungkuk-bungkuk badannya.

“Hhhhmm ... Ya sudah ... Ini upahnya ... Dan ingat! Tidak boleh ada orang yang tahu kalau aku menyuruhmu mencari Hilman dan anak-anaknya ...” Ucap Leni sambil menyerahkan amplop berisikan uang pada sang tamu.

“Baik, Bu ...” Sahut sang tamu lalu mundur dari hadapan Leni.

Wanita itu memikirkan apa yang barusan ia dengar, dan terngiang-ngiang semuanya di dalam isi kepalanya. Leni merasakan kejahatan dan ketidakadilan, tiba-tiba muncul perasaan marah dan tersinggung yang menggunung. Leni menganggap rentenir tua itu sudah melewati batas dan bersikap keterlaluan. “Hutang nyawa dibayar nyawa, seribu maaf kan percuma, jika nyawa telah berpisah dengan raga.” Kata hati Leni sangat geram.

Bersambung

Senin, 20 Oktober 2025

Pesugihan 3

Matanya tak berkedip, dengan penuh harapan. Sang gendruwo semakin mendekat pada dua makhluk berbeda alam yang sedang asik bersetubuh. Ranggawelang dan Leni semakin bergairah. Mereka puas jika ada yang ikut menikmatinya persetubuhan mereka. Ranggawelang menghajarkan penis besarnya ke dalam vagina Leni bertubi-tubi dari belakang. Siluman kera itu merasakan denyut kehangatan vagina sempit milik wanitanya. Leni pun mengejang, dan dia mengigit bibirnya, sambil menatap sang tamu dengan mata sayu menahan nikmat.

Tubuh Mareksa mengigil menahan hasrat birahi yang meluap-luap. Sang gendruwo merasakan penisnya semakin menggelembung walau sudah memuncratkan pejuhnya. Air liurnya menetes-netes. Entah apa yang dibayangkannya sampai begitu terpesona oleh kemolekan dan keseksian wanita manusia yang sedang digagahi oleh siluman kera itu. Dengan hanya berjarak sekitar tiga langkah, Mareksa terus menyaksikan persetubuhan mereka.

“Eem ... aahh ... aahh ... kaaanngg ... ssshhh...” Leni mendesis keenakan sambil matanya terus memandangi kejantanan Mareksa yang gagah perkasa, mencuat dan mengacung keluar dari kain penutup selangkangannya, mengangguk-angguk kepalanya naik turun. Diam-diam Leni sangat mengagumi ‘milik’ sang gendruwo tersebut.

Adegan persetubuhan itu demikian gamblang di hadapan Mareksa dan sang gendruwo tampak begitu menikmatinya. Desahan dan erangan menjadi irama merdu di telinga Mareksa dengan keringat yang membasahi tubuh Leni menjadi pemandangan paling erotis yang pernah dilihatnya. Sementara Leni semakin menikmati persetubuhan itu. Wajah dan tatapan nakalnya terus menggoda Mareksa.

Ranggawelang mempercepat tempo gerakannya saat dirasakannya Leni sudah mulai mendekati orgasmenya lagi. Keduanya sama-sama menikmati yang disebut dengan surga dunia walaupun mereka lakukan di ‘dunia lain’. Peluh bercucuran membasahi tubuh keduanya bercampur menjadi satu saat mereka merasakan akan mendekati puncak kenikmatan.

“Aaaaaccchhhh .....!!!” Leni meracau tak jelas dengan salah satu tangannya meremas kuat payudaranya sendiri saat ia merasakan sesuatu seolah akan meledak di dalam dirinya. Diikuti lenguhan panjang dari bibir Ranggawelang ketika keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.

“Aaacccchhhh ... !!” Ranggawelang menghentakan tubuhnya berkali-kali semakin dalam bersamaan dengan cairan cintanya yang menyembur keluar menyirami rahim wanitanya.

Beberapa detik berselang, Ranggawelang mencabut penisnya dari dalam tubuh Leni. Segera saja tubuh Leni ia rengkuh dalam gendongan kemudian melesat ke atas pepohonan meninggalkan Mareksa yang tersiksa oleh hawa birahinya sendiri. Namun Leni masih sempat menatap sayu sang gendruwo sambil melilitkan lidah ke bibirnya sebagai godaan terhebat untuk Mareksa.
Mareksa benar-benar sulit mengendalikan hawa birahinya. Dengan hati dan lutut yang bergetar sang gendruwo bergerak ke kediaman Zalanbur. Mareksa sangat terobsesi kepada wanita manusia itu dan sangat ingin memilikinya. Begitu bertemu Zalanbur, ia pun mengadukan apa yang dilihatnya.

“Tuan Zalanbur, aku lihat anda memiliki piaraan seorang wanita manusia cantik di pekaranganmu… Siapakah dia?” Tanya Mareksa.

“Ooh… Ya… Itu adalah tumbal pesugihanku yang tak dapat memenuhi janjinya… Ia adalah istri dari si pelaku…” Jelas Zalanbur. Mareksa manggut-manggut mendengarnya.

“Tapi mengapa ia kauberikan begitu saja pada ajudanmu? Tidakkah kau juga menyukai manusia wanita? Apalagi wanita itu sangatlah cantik…” Tanya Mareksa terheran-heran. Dan Zalanbur hanya tersenyum.

“Tentu saja aku masih suka wanita dari bangsa manusia… Mataku pun tak buta, Mareksa…” Sahut Zalanbur dengan wajah berserinya. “Aku tahu wanita itu sangat cantik… Tapi saat ini aku sedang menjalani laku wesi geni untuk meningkatkan kesaktianku… selama 12 bulan purnama… Selama itu pulalah aku harus menahan nafsu birahiku….” Lanjut Zalanbur menjelaskan perihal tapa geninya pada Mareksa. Kembali gendruwo itu manggut-manggut mendengar penjelasan Zalanbur. “Buatku tak masalah… Tak sulit bagiku untuk mendapatkan wanita dari bangsa manusia untuk di lain waktu…” Jelas Zalanbur lebih lanjut.

“Kalau begitu, berikan saja wanita itu padaku, Tuan Zalanbur…” Pinta Mareksa spontan. “Sayang sekali kalau manusia secantik itu hanya untuk melayani nafsu seekor kera… Kau kan tahu kalau aku pun sangat doyan wanita… Aku sudah langsung jatuh cinta padanya begitu melihat kecantikannya dan juga bentuk tubuhnya yang begitu aduhai panas merangsang mata… Sepertinya wanita itu benar-benar diciptakan khusus untukku…” Pinta Mareksa bersemangat. Zalanbur tampak termenung memikirkan permintaan itu. Sementara gendruwo itu tak bisa menyembunyikan keinginannya yang kuat dari wajahnya.

“Ranggawelang adalah pengikutku yang sangat setia… Walaupun hanya seekor kera, ia telah banyak berjasa bagiku… Mengambil wanita itu dari sisinya tentu akan berat baginya…. Kesedihannya adalah kesedihanku juga… Tapi, kira-kira apa yang bisa kau tawarkan padaku untuk menggantinya?” Ucap Zalanbur.

“Aku akan membawa semua kaumku untuk mengabdi padamu, Tuan Zalanbur… Apa pun akan kulakukan untuk mendapatkan wanita itu…. Aku sangat ingin menikmatinya dan mendapatkan keturunan darinya…” Tegas Mareksa. Zalanbur kembali termenung sejenak.

“Baiklah, begini saja… Kuterima tawaranmu… Kau akan kuberikan wanita itu…” Kata Zalanbur. Sontak wajah Mareksa pun berubah senang.

Saat ini Zalanbur memang membutuhkan pasukan yang cukup besar untuk mempertahankan kekuasaannya. Dengan adanya penundukan Mareksa dan anak buahnya tentu sangat disambut Zalanbur. Akhirnya, keduanya berjabat tangan erat sambil tersenyum lebar menyikapi kesepakatan itu. Sejatinya Mareksa berani berkorban hanya untuk mengedepankan sebesar apa eksistensi sukanya terhadap Leni. Sudah sejak lama Mareksa menginginkan pasangan dari golongan manusia dan baru kali inilah ia mendapatkannya.

----- ooo -----

Sepeninggal Mareksa, Zalanbur pun mengabarkan berita itu kepada Ranggawelang. Kata sepakat sudah dicapai, keputusan telah diambil. Kedua ‘piaraan’ Zalanbur ini hanya bisa mengikuti perintah tuannya dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan. Ranggawelang tentu saja sedih mendengar kabar yang tidak terduga ini. Siluman kera itu sudah merasa sehati dengan Leni. Begitu pun sebaliknya, Leni juga telah mulai terbiasa untuk memenuhi kebutuhan nafsu birahinya pada pasangannya itu. Mereka sudah sampai ke tahapan saling menikmati hubungan seks mereka dengan frekuensi dan irama yang sama. Ranggawelang pun sudah mulai ketagihan menyetubuhi wanita cantik itu dan tidak bernafsu lagi terhadap makhluk sesama speciesnya. Namun, tentu saja Ranggawelang tak mampu menolak perintah dari tuannya, Zalanbur. Apalagi, statusnya di alam itu adalah tetap sebagai piaraan Zalanbur. Ranggawelang harus pasrah dan mematuhi semua yang diperintahkan siluman tua itu.

“Aku tak bisa menolak permintaan Mareksa ... Aku memang sangat membutuhkan wadya balad tentara untuk memperkuat pasukanku ... Jadi aku terima permintaan Mareksa ...” Titah Zalanbur pada ajudan setianya.

“Keinginan Tuan adalah titah bagiku ... Hamba tidak berani membantah ...” Ucap Ranggawelang menerima keputusan itu walau berat hati.

“Baiklah ... Sejak saat ini pasanganmu menjadi milik Mareksa ... Dua hari lagi Mareksa akan menjemput Leni ... Sekarang pergilah dan jauhi Leni dari sekarang ...” Perintah Zalanbur tegas.

“Baik tuanku ...” Kata Ranggawelang dan segera mundur dari hadapan tuannya.

Zalanbur tersenyum puas dengan kesetiaan ajudannya yang sangat setia. Ya, kesetiaan Ranggawelang memang patut disalutkan. Zalanbur pun meninggalkan ruangannya mencari Leni untuk memberitahukan bahwa wanita itu telah ditukar dengan pasukan gendruwo yang dipimpin oleh Mareksa. Tak seberapa lama Zalanbur berhasil menemukan wanita yang dicarinya.

“Leni ... Ikut aku!” Perintah Zalanbur.
“Baik, Tuan ...” Sahut Leni lalu mengikuti langkah Zalanbur dari belakang.

Zalanbur dan Leni memasuki ruang ramuan hasil racikan Zalanbur. Siluman tua itu mengambil beberapa cairan lalu dicampurkannya. Tiba-tiba terdengar bunyi letupan-letupan dari cawan yang digunakan Zalanbur dan tampak asap hitam mengepul di tengah asap putih. Wangi melati semerbak terkurung. Rupanya Zalanbur sedang meracik minuman penambah daya tahan tubuh dan penambah gairah seksual. Zalanbur mendekati Leni yang sejak tadi terdiam, hanya memperhatikan tuannya bekerja.

“Leni ... Dua hari ke depan ... Kamu akan tinggal bersama Mareksa ... Dia gendruwo yang tinggal di Gunung Malat sebelah timur tempat ini.” Zalanbur mengawali ceritanya yang kemudian dilanjutkan dengan perjanjian yang ia lakukan dengan Mareksa.

Leni tersenyum dan mendengarkan penjelasan Zalanbur dengan seksama. Sebagai ‘piaraan’ Zalanbur, wanita itu mau tidak mau harus mengikuti kemauan tuannya. Bahkan ia pun mengaku tidak ada alasan untuk menolak keputusan tuannya tersebut. Di mana pun tempatnya, bagi wanita itu akan sama saja. Terlebih ada jaminan keamanan yang diberikan Zalanbur kepada dirinya.

----- ooo -----

LENI POV

Sesungguhnya aku tidak keberatan dengan keinginan tuanku ini. Terlebih aku mendapat jaminan keselamatan darinya. Hidup di dunia siluman, bangsa manusia pasti dijadikan budak. Aku masih beruntung tidak dijadikan hamba sahaya yang setiap hari mendapat siksaan dan kerja paksa. Ya, aku hanya dijadikan budak pelampiasan nafsu birahi bangsa siluman. Sejujurnya, aku menikmati peranku saat ini.

“Leni ...” Tuanku berkata.
“Ya, Tuan ...” Jawabku pelan.
“Bangsa gendruwo sangat doyan bersetubuh ... Kekuatannya melebihi Ranggawelang ... Tapi mereka biasanya cepat bosan, setelah puas dengan pasangannya bangsa gendruwo segera mencari pasangan lain dan itu biasanya dilakukan dengan menukar pasangan yang diinginkan mereka ... Ini ... Aku berikan ramuan agar kamu bisa mengimbangi tenaga mereka ... Minumlah!” Tuanku memberikan ramuan berwarna merah seperti darah. Setelah mendengarkan penjelasannya, aku tanpa ragu meminum racikan itu.

Setelah racikan itu masuk melalui kerongkongan, aku merasakan ada hawa hangat yang berpusat pada perutku. Hawa itu terus menjalar menggerayangi seluruh syaraf-syaraf tubuh, mengangkut desir birahi yang teramat sangat. Desiran darahku semakin kencang seolah badanku dialiri setrum listrik kecil-kecil. Birahi semakin mengambil alih diriku yang membuatku tanpa sadar memainkan vaginaku sendiri. Rasanya tak ada waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi.

Tiba-tiba, Tuanku bersiul keras. Tak lama datang seorang raksasa dari bangsa siluman yang sama dengan Zalanbur namun tanduk di kepalanya lebih kecil dari kepunyaan Zalanbur. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan karena telingaku telah tertutupi hasrat yang ingin segera tertuntaskan. Saking tidak tahan menahan kegatalan di bagian vaginaku, akhirnya tanpa minta izin aku bergerak hendak mencari Ranggawelang. Namun, tanganku ditahan oleh siluman yang baru datang tadi. Badanku diangkatnya sangat ringan dan aku dibawanya entah kemana.

Tak lama, aku terhempas di sebuah ranjang beralaskan kain. Sedetik kemudian raksasa yang membawaku mulai menempatkan penis besarnya ke vaginaku. Selanjutnya vaginaku menetesakan cairan sehingga aku mulai merasakan basah di daerah selangkanganku, dan dapat kurasakan wewangian dari gairah birahi yang mulai merasuk ke dalam napasku secara bertubi-tubi. Tanpa ragu, aku pegang penis raksasa itu yang besarnya selengan orang dewasa. Dan langsung kutusukan ke dalam lorong nikmatku yang sudah sangat gatal.

“Aaaaaaacchhhh ...!!!” Pekikku merasakan nikmat yang tiada taranya. Namun gatalku hanya sebagian kecil yang hilang.

Lalu makhluk itu menekan pinggulnya lebih menenggelamkan penisnya ke vaginaku yang sudah basah kuyup rasanya. Dalam hal ini pun ia sangat pandai, dimasukannya pelan-pelan, tarik-keluar, tarik-keluar. Sedap sekali rasanya. Batangnya sangat besar sehingga penuhlah rasanya lubang kemaluanku. Aku mengangkat punggung setiap kali makhluk itu menghenyakkan batangnya. Setelah itu aku seperti orang gila saja. Tak pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini. Lebih kurang limabelas menit aku merasa seperti ingin kencing. Aku tahu kalau aku sudah orgasme. Oh, nikmat sekali rasanya. Kutarik badan raksasa itu dan kudorong punggungku ke atas. Lalu kulilitkan kakiku ke pinggangnya. Lawan mainku pun saat itu menghentak lagi dengan kuat.

Aku meraung nikmat tatkala air maninya muncrat memenuhi lorong kawinku. Satu menit kami tak bergerak. Hanya saling berpelukan dengan erat. Nafas kami terengah-engah, Pandanganku nanar seakan terbang melayang ke langit ke tujuh. Selama beberapa saat aku merasakan ketenangan, kenyamanan dan perasaan puas bercampur aduk. Vaginaku terasa sangat panas dan basah kuyup. Penisnya berdenyut-denyut di dalam alat kelaminku. Setelah itu, lawan mainku menarik keluar batangnya dari dalam vaginaku. Ia tampak seperti ular piton yang tertidur setelah selesai menyantap mangsanya, terkulai.

Si raksasa meninggalkanku begitu saja. Saat aku bangkit nampak Zalanbur menghampiriku dengan senyuman khasnya. Dia duduk di sebelahku sambil mengusap-usap kepalaku sangat lembut walau kuku-kukunya panjang.

“Dua hari ke depan kamu akan bersama Mareksa ... Ini kuhadiahi baju untukmu. Pakailah!” Entah kapan datangnya, tiba-tiba di tangan Zalanbur ada sehelai kain putih transparan. Aku ambil kain itu dari tangannya lalu kupakai. Sebuah gaun malam yang panjang namun sangat tipis. Walau lekuk-lekuk tubuhku masih nampak tetapi lumayan karena aku tidak sama sekali bugil.
“Terima kasih ...” Ucapku pelan.
“Aku akan memberitahukan sesuatu padamu ... Ramuan tadi akan membuatmu selalu bergairah ... Tapi, jangan pernah sekali-kali kamu bermain dengan makhluk lain selain Mareksa kecuali atas ijinnya ... Kedua, dengan ramuan itu kamu tidak pernah akan hamil sebelum aku memberikan penawarnya. Ketiga, usahakan minum air mani Mareksa karena akan membuatmu semakin cantik dan awet muda ...” Jelas Zalanbur sangat ramah.
“Baik Tuanku ...” Sahutku.

Aku diberi pengarahan tentang kehidupan bangsa gendruwo. Dari cara Zalanbur bicara aku bisa merasakan kasih sayangnya terhadap diriku. Entah kenapa, aku nekat memeluk tubuhnya dan kuletakan kepalaku di dadanya. Zalanbur sambil terus berkata membelai rambutku mesra. Aku merasakan tidak ada batasan antara tuan dan piaraannya yang kurasa adalah kasih sayang antara laki-laki dewasa dan perempuan dewasa.

pesugihan 4

Akhirnya Leni pun diboyong oleh Mareksa, sebangsa jin dari golongan gendruw.o dan memulai hidup barunya bersama gendruwo itu. Mareksa selalu berusaha memberikan perhatian kepada wanitanya, apa saja dia lakukan untuk wanitanya, karena dia sangat menyayanginya. Perlakuan Mareksa pun dibalas lebih oleh Leni. Perlahan-lahan, Leni pun belajar untuk mencintai majikan barunya itu. Kemesraan semakin lama semakin mewarnai hubungan kedua makhluk itu. Tak ayal, mereka saling menyayangi satu sama lain layaknya keluarga.

Nafsu birahi Mareks lebih tinggi dibandingkan Ranggawelang. Untunglah Leni sudah terbiasa melayani siluman kera pasangannya terdahulu ditambah dengan racikan Zalanbur yang diminumnya sehingga ia bisa langsung beradaptasi saat dituntut melayani hasrat seks yang menggebu-gebu dari gendruwo itu. Ada satu keistimewaan Mareksa yang luar biasa. Penis gendruwo itu ternyata berukuran jumbo. Ternyata gendruwo itu pandai pula memanfaatkan ukuran alat vitalnya untuk memuaskan lawan mainnya.

Leni senantiasa bisa mengimbangi hasrat birahi Mareksa yang meledak-ledak. Mereka melakukan hubungan seks tidak kurang tujuh kali dalam sehari. Leni pun sangat ingat petuah dari tuannya terdahulu untuk meminum cairan mani milik sang gendruwo untuk meningkatkan kecantikan dan kemolekannya. Tanpa disadarinya, Leni berubah menjadi bidadari tanpa sayap. Ia bahkan menjadi pergunjingan para gendruwo bahkan bangsa siluman lain yang tak sengaja melihatnya.

Awalnya hubungan mereka sangat romatis, penuh kasih dan tahu betul bagaimana cara membahagiakan masing-masing pasangannya. Namun setelah melewati masa tiga bulan purnama, sifat dan karakter Mareksa mulai nampak di mata Leni. Wanita itu teringat dengan perkataan Zalanbur yang menyatakan bahwa bangsa gendruwo mempunyai sifat bosenan. Kini Leni mengetahui kalau Mareksa tak pernah puas dengan satu orang wanita. Ia tahu kalau gendruwo itu sering masuk ke alam manusia dan mengganggu manusia. Biasanya yang diganggunya adalah ibu-ibu rumah tangga yang sedang ditinggal pergi oleh suaminya. Mareksa biasa menyaru sebagai suami si wanita sehingga dengan leluasa bisa menyebadaninya.

Kebiasaan Mareksa yang demikian membuat Leni merasa sedih dan cemburu. Namun perasaannya itu ia pendam sendiri, tak ada keberanian untuk mengungkapkan pada pasangannya. Sedikit demi sedikit terjadi perubahan dalam diri wanita itu yang kian hari kian bersemangat melayani Mareksa. Perubahan itu pun disadari oleh sang gendruwo. Dan di suatu saat mereka pun membicarakan hal itu.

“Ada apa ini Nyai ... Beberapa hari belakangan ini, Nyai terlihat bermuran durja terus.” Kata Mareksa sambil memandangi wajah Leni.

“Kakang ... Sebenarnya aku ingin bicara sama kakang ... Tetapi aku takut kalau kakang marah ...” Jujur Leni dengan wajah sayu.

“Katakan saja ... Aku tidak pernah berani memarahimu, Nyai ...!” Ucap Mareksa lembut. Leni pun mengangkat mukanya memandangi sang gendruwo.

“Aku tahu kalau kakang suka pergi ke alam manusia ... Dan aku tahu apa saja yang kakang lakuin di sana ...” Lirih Leni sembari menundukan wajahnya kembali.

“Hhhhmm ... Maaf Nyai ... Aku tidak bisa menahannya ... Aku harap Nyai mau memakluminya ...” Mareksa berkata jujur.

“Saat kakang menyebadani wanita-wanita itu, kakang harus menyaru sebagai suami mereka… Karena kalau tidak mereka akan ketakutan dan menolakmu… Dengan diriku, kakang bisa leluasa memperlihatkan wujud asli kakang… dan aku pun selalu melayanimu sepenuh hatiku… Bahkan jika mau jujur membandingkan aku dengan mereka, rasanya wajahku juga masih jauh lebih cantik daripada wanita-wanita yang kakang tiduri itu…” Cerocos Leni tak mau berhenti mengungkapkan kekecewaan dan kekesalannya pada Mareksa. Sang gendruwo tersenyum mendengar celotehan gundiknya yang cemburu itu.

“Semua yang Nyai katakan itu benar… Tapi Nyai harus ingat, bangsa kami memang tak pernah puas menyetubuhi wanita manusia… Setiap ada kesempatan, kami pasti akan melakukannya....” Jawab Mareksa atas kekesalan Leni. “Bagaimana pun Nyai adalah gundikku yang paling istimewa… Nyai sengaja kubawa kemari, setelah aku bersusah payah memintamu dari pelukan kera itu… Sementara wanita lainnya tak ada yang kuperlakukan seistimewa seperti Nyai…” Lanjut Mareksa berusaha membesarkan hati wanitanya.

Leni termenung dan menimbang-nimbang perkataan Mareksa barusan. Diam-diam ia membenarkan perkataan Mareksa. Dirinya adalah satu-satunya wanita yang beruntung dijadikan sebagai gundik gendruwo itu di alamnya. Wanita-wanita yang lain tetap tinggal bersama suami mereka di alam manusia dan hanya dikunjungi oleh Mareksa sewaktu-waktu. Setelah dipikir dan dirasa, ternyata Leni telah terbawa perasaannya sendiri. Betapa ia seharusnya cukup menerima saja perlakuan Mareksa tanpa harus menuntut sesuatu darinya karena ia hanya sebagai ‘piaraan’ majikannya itu. Kini Leni pun bisa tersenyum lagi.

“Nyai juga harus belajar berbagi ...” Kata Mareksa mulai mengajari wanita itu. Sementara Leni mengangkat wajahnya lagi memandangi majikannya dengan raut muka yang keheranan. Mareksa tersenyum melihat perubahan mimik wanitanya itu lalu berkata, “Aku harus membagi kenikmatan seksual kepada istri-istri yang kesepian itu… Mereka jarang atau bahkan tak pernah menikmati kehidupan seks bersama suaminya… Karena itulah aku membantu mereka…” Kata Mareksa menjelaskan perilakunya. “Demikian juga halnya dengan kamu, Nyai ... Jangan dikira Nyai hanya akan melayani aku sendiri… Nanti Nyai juga harus belajar melayani teman-teman dan kerabatku sesama bangsa siluman ...” Lanjut Mareksa. Leni sangat terkejut mendengar kalimat Mareksa yang terakhir.

“Maksud kakang?” Tanya Leni dengan suara yang sangat pelan.

“Ya, Nyai… Tenang sajalah… Pelan-pelan dulu, nanti akan aku kenalkan teman-temanku satu per satu kepada Nyai… Dan Nyai bebas untuk mau melayani mereka sesuai dengan hati Nyai ...” Kata Mareksa seolah bisa membaca pikiran wanita itu.

Hati Leni terkejut namun perlahan muncul perasaan penasaran yang lambat laun menjadi ketertarikan. Leni pun memahami konsep berbagi yang diajarkan gendruwo itu padanya. Kini ia tak perlu merasa cemburu lagi jika Mareksa mendatangi wanita-wanita lain untuk disetubuhinya. Leni memandang wajah majikannya dengan suka cita. Senyumannya mengembang menyambut pengalaman baru yang akan segera ia rasakan.

Dulu, saat masih menjadi pasangan Ranggawelang, sejak diajari oleh siluman kera untuk bersetubuh di muka umum, Leni pun tahu kalau makhluk-makhluk yang kebetulan menontonnya sebenarnya jadi tergiur juga untuk ikut menyetubuhi dirinya. Hanya selama ini memang mereka takut terhadap Ranggawelang dan Zalanbur sehingga mereka sebatas jadi penonton saja, tidak pernah ikut nimbrung. Bagaimanapun, melihat minat para penontonnya, lama-kelamaan Leni mulai berfantasi disetubuhi juga oleh mereka. Ia mulai membayangkan nikmatnya disebadani oleh lebih dari satu pejantan. Tidak disangkanya kalau sekarang, setelah hidup bersama Mareksa, khayalannya itu malah akan menjadi kenyataan.

###Milf_Love###

Beberapa hari kemudian, datang sebangsa siluman raksasa kerabat Mareksa ke kediamannya atas undangan Mareksa sendiri. Jamuan pun dilakukan dan Leni sebagai pelayan dalam jamuan itu. Penguasa siluman raksasa yang bernama Gandar pun terpukau dengan kecantikan serta kemolekan Leni. Di lain pihak, Leni pun merasa tertarik pada siluman raksasa ini yang berwajah tampan. Gandar memang memiliki tubuh besar namun tak tampak sedikit pun keseraman di badannya. Gandar seperti manusia biasa hanya saja tubuhnya yang besar dan agak sedikit berbulu. Berkali-kali Gandar dan Leni salang bertatapan penuh hasrat dan kelakuan mereka sangat diketahui Mareksa.

“Kau sepertinya tertarik sama gundikku, Gandar ...” Ucap Mareksa di tengah jamuan makan pada sahabatnya itu.

“Aku memang tertarik ... Tapi aku tak berani, saudaraku ...” Ucap Gandar jujur.

“Bila ada sesuatu untukku yang sesuai ... Kau boleh merasakan kehangatan tubuhnya.” Kata Mareksa santai tanpa ekspresi. Dan tentu saja hal ini sangat disambut oleh Gandar. Sang penguasa telaga tiga warna itu langsung memberikan beberapa keping logam emas pada Mareksa. Sang gendrewo pun menerima pemberian Gandar.

“Ha ha ha ... Semalam ini dia akan menjadi milikmu ... Nikmatilah!” Ucap Mareksa sembari tertawa terbahak-bahak.

Dipanggilnya Leni oleh Mareksa untuk masuk ke ruangan penjamuan tamu. Wanita itu pun masuk lalu tangannya ditarik oleh Mareksa. Dibimbingnya Leni untuk duduk dipangkuan sang raksasa. Dengan hati yang agak berdebar, Leni pun duduk di atas paha Gandar sambil menundukan kepalanya. Tanpa ragu dan sungkan, tangan besar Gandar melingkari tubuh Leni sambil mencium pucuk kepalanya.

“Dialah pasanganmu malam ini ... Nikmatilah ... Ha ha ha ...” Ucap Mareksa seraya pergi meninggalkan mereka berdua.

Seluruh hasrat Leni berkobar ke dalam gelembung gairah yang tak tertahankan ketika tangan besar siluman raksasa itu mulai merabai payudaranya. Tanpa malu, Leni mulai melenguh kenikmatan. Wanita itu merasakan gairah seksnya meningkat tajam secara tiba-tiba dan merasa tidak tahan untuk segera melakukan hubungan badan. Leni melompat dari pangkuan sang raksasa, kemudian menarik tangannya membawa gandar ke dalam kamarnya.

Bagaikan pengantin yang baru saja menikah, tanpa diminta Gandar mengangkat tubuh Leni dan meletakkan tubuh indahnya dengan lembut di atas ranjang. Walaupun awalnya kaget, namun Leni menuruti saja kemauan lelaki perkasa itu. Gandar duduk di samping Leni yang terbaring. Dengan berani Leni menyentuh pundak laki-laki raksasa digdaya yang rebah di sampingnya. Ia menyentuh pundak Gandar tanpa melepaskan pandangan dari mata pria raja siluman itu. Tangan lembut Leni meraih bagian belakang kepala Gandar dan menariknya ke bawah, lalu bibir seksi si cantik itu mengecup bibir sang raja siluman. Ciuman lembut Leni yang tulus mengoles bibirnya bagaikan obat untuk semua lelah, gelisah dan keluh kesah yang pernah Gandar keluarkan seumur hidupnya. Olesan lembut bibir mungil itu juga membuat tubuh Gandar bagaikan disentak aliran listrik berjuta volt, seandainya dia adalah sebuah baterai hidup, Gandar sudah langsung tercharge dengan energi hingga penuh. Bibir mereka berdua saling mengelus, saling menimang, beruntai, berjalin, menikmati sentuhan pelan dan nikmat yang tak bisa diungkap dengan kata.

“Mmmhh…” Desah Leni manja. Ia memejamkan mata dan membiarkan bibir Gandar menari di atas bibirnya yang lembut, membiarkan bibir tebal dan keras sang raksasa menyelimuti bibirnya yang ranum. Lama pagutan bibir mereka tak saling lepas, Gandar mulai mengeluarkan lidahnya yang bagai ular. Lidah Gandar membuat Leni makin tak berkutik dan tenggelam sepenuhnya dalam pelukan sang raja raksasa.

“Kang Mas?” Tanya Leni ketika bibir mereka lepas sejenak.

“Hmm?” Gandar bersuara. Namun Leni tak bisa buru-buru bertanya lagi karena kembali menikmati lidah dan bibir Gandar.

“Aku… mhh… mmhh… mau… tanya…”

“Hmm?” Kembali bibir Gandar menggelayut di bibir Leni namun kali ini wanita itu menolaknya.

“Iiihhh… kakang nakal! Aku kan mau tanya sesuatu yang penting, jangan diganggu dulu!” Genit Leni.

“Habis bibir kamu menggemaskan, mungil dan mengundang, aku jadi tidak tahan.” Kata Gandar sambil tersenyum. “Baiklah, kamu mau tanya apa, sayang?” Lanjut Gandar.

“Bagian mana dari tubuhku yang paling kakang suka? Akan langsung aku berikan sekarang juga.” Kata Leni sambil menggigit bibir bawahnya dengan genit.

“Aku suka yang ini ...” Sahut Gandar seraya tangannya mengusap-usap belahan vagina Leni yang sudah basah.

“Kalau begitu cepat lakukan kakang ... Aku sudah gak kuat ...” Ucap Leni tanpa malu meminta Gandar untuk memulai permainan yang sesungguhnya.

Gandar tersenyum sambil melepas kain penutup selangkangannya. Saat terlepas kain itu, Leni terbelalak melihat penis sang raksasa yang begitu besar dan panjang berurat, melebihi milik Mareksa. Leni meneguk ludahnya kasar, ia mulai memegangi penis raksasa itu dan melahap penis itu pelan ke dalam mulutnya dan hanya seperempat saja yang masuk. Sementara Gandar merasa panas dingin saat penisnya dimanjakan Leni. Elusan lembut jemari Leni pada batang kejantanan Gandar membuat raksasa itu bergetar dan menggelinjang tak kuasa menahan nafsu. Hal itu membuat Leni tersenyum tertahan, seperkasa apapun Gandar, ia ternyata tidak tahan dengan jari-jarinya yang lembut.

Raja siluman itu mengerang kecewa ketika Leni berhenti menyentuh kejantanannya, namun karena ia mendapati Leni sudah tak berbusana ketika ia membuka mata, Gandar tak mengeluh sedikit pun. Gandar berdecak kagum ketika kembali bisa menikmati keutuhan tubuh molek Leni. Benar-benar seorang bidadari yang turun dari langit, sempurna tiada duanya. Pandangan matanya tak ingin lepas dari kesempurnaan Leni, wajah cantik lembut dengan rambut yang terurai indah, kulit mulus seputih susu yang memancarkan keharuman mewangi, payudara sempurna yang sintal dan menggairahkan, pinggang ramping, pantat bulat. Leni diam saja tanpa mempedulikan kekaguman Gandar kepadanya dan meneruskan ‘pekerjaannya’ memainkan kejantanan sang raksasa.

Gandar buru-buru sadar dari rasa kagum yang membuatnya terbengong-bengong dan segera mengambil posisi, ia berbaring dan membiarkan wajah Leni tepat berada di depan penisnya sementara ia sendiri berhadapan langsung dengan selangkangan sang bidadari. Wanita itu masih memejamkan mata, ia membiarkan tangan Gandar bergerak nakal menyusuri pahanya yang putih mulus sampai ke pangkal paha. Leni membuka pahanya lebar-lebar memperlihatkan keindahan bibir vaginanya yang merekah merah muda, kuncupnya yang mungil mempesona Gandar. Ia kagum karena Leni masih memiliki bentuk vagina yang indah padahal sudah berbulan ia memberikan segalanya pada Mareksa. Jari jemari Gandar bergerak lincah menyusuri daerah sekitar vagina Leni tanpa sekalipun menyentuh bibir vaginanya. Tubuh Leni menggelinjang karena menahan nafsu yang kian lama kian tak tertahankan. Sekali-sekali Gandar menyentuhkan jarinya ke bibir vagina Leni seakan tak disengaja.

“Ahhhh...!! Ahhh...!!” Desah Leni manja, tubuhnya bergetar hebat tiap kali Gandar memancingnya.

Leni tak tahan lagi, dia sodorkan bibir kewanitaannya ke mulut Gandar. Dengan kedua jarinya, Gandar membuka sedikit mulut vagina Leni. Ia pun segera mencari titik kelemahan wanita itu, klitorisnya. Ketika tonjolan cukup panjang yang mematikan itu berhasil ditemukan, Gandar memperlancar aksinya menaklukkan Leni. Bentuk klitorisnya memang agak panjang menyerupai penis kecil tepat di atas lubang kewanitaannya. Jilatan, hisapan dan sedotannya membuat tubuh Leni melonjak-lonjak bagai kuda liar yang sangat binal. Gandar bahkan harus memegang erat tubuh Leni agar tak terlonjak jatuh dari ranjang. Gandar melumat lembut kelentit sang wanita cantik yang ada dalam pelukannya, ciumannya lalu beralih ke sisi luar bibir vagina dan akhirnya ke bawah, masuk ke dalam liang cintanya. Sekali lagi Leni melonjak ke atas dan mendesis dengan keras, wajahnya yang cantik terlihat histeris namun ia berusaha keras menahan teriakannya.

“Kakang...! Sudah, kakang...! Aku tidak kuat lagi! Masukkan! Ayo! Masukkan…!” Ceracau Leni menahan nikmat. “Ayo masukkan, kakang...! Cepeeeet!! Aku tidak tahaaaan...!!” Rengeknya manja.

Dengan hati-hati Gandar menaiki tubuh sempurna milik Leni, putihnya kulit mulus Leni yang bagai pualam membuat pria raksasa itu terkagum-kagum. Kontras sekali kulit bidadari ini dengan kulitnya yang hitam. Apalagi melihat payudara sempurna yang tak puas-puas diremas dengan gemas. Betapa kagetnya Gandar ketika Leni nekat menarik batang kemaluannya yang sudah sangat mengeras.

“Ouuuughhhh, besar sekali… ehmmmm… masukan, kakang!! Cepeeettt!!” Rengek Leni yang manja tiada henti. Tentu saja Gandar tidak ingin begitu saja menyodokkan penisnya ke kewanitaan Leni walaupun dia sangat ingin. Dengan gerakan ringan, digoyangkan ujung gundul penisnya ke bibir vagina Leni tapi selalu ditariknya batang kemaluan itu ketika Leni ingin membimbingnya masuk ke dalam.

“Aaaahhh! Gimana sih!! Ayoooo, aku sudah tidak tahaaaann!!!” Rengek si cantik.

Dengan hati-hati batang kejantanan Gandar ditarik oleh Leni masuk ke dalam liang vaginanya. Bagi Gandar, ini yang namanya mimpi menjadi kenyataan. Wanita yang cantik jelita dan seksi sangat bernafsu menikmati kemaluan raja siluman raksasa. Leni sudah tidak ingat lagi statusnya sebagai piaraan Mareksa, ia hanya ingin disetubuhi saat ini, disetubuhi oleh penis raksasa Gandar!

Penis Gandar melesak masuk dengan tidak mudah karena meskipun kewanitaan Leni sudah sangat basah dan cairan pelumas yang keluar di dalam liang kenikmatan Leni membanjir dengan deras, batang kejantanan Gandar terlalu besar untuk langsung melesak masuk ke dalam. Leni mengerang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, ia menderita dalam kenikmatan. Ketika melihat Leni sedikit kesakitan, Gandar menunda menyodokkan penisnya, tapi Leni justru mengangkat pantatnya, ingin segera digenjot.

Gandar memaju mundurkan pinggulnya dengan perlahan, ia takut menyakiti vagina milik Leni. Tapi wanita cantik itu sudah terlalu tenggelam dalam kenikmatan birahi yang tanpa ujung. Gandar tak puas-puasnya memandang kecantikan dan kemolekan wajah dan tubuh Leni. Lekuk tubuhnya yang sempurna, buah dadanya yang kenyal, pinggang ramping dan kulit putih mulus sang dewi. Ia bagaikan berada di awang-awang, tak percaya ia ternyata berhasil menikmati keindahan tubuh piaraan Mareksa yang sangat seksi ini.

“Kakang… aku nggak tahan… terussss… aaaahhhh…” Leni terus merengek manja.

Gandar tidak mampu menjawab karena merem melek keenakan. Kewanitaan Leni meremas-remas penisnya, memilin dan menggilingnya dalam liang kenikmatan yang sempit dan lembab. Ia tidak menyangka kewanitaan wanita satu ini masih begitu sempit dan nikmat, penisnya seakan disedot ke dalam tubuh Leni. Kewanitaan si cantik itu lama kelamaan makin basah oleh cairan kenikmatan yang keluar dari dalam, membuat goyangan penis Gandar seakan menumbuk liang yang basah.

Desahan manja dan kecantikan Leni membuat Gandar makin tak kuat menahan nafsunya. Dengan penuh tenaga raksasa itu mempercepat gerakan menumbuknya. Leni makin kebingungan, sakit sekaligus enak sekali rasanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Leni hanya bisa mengimbangi gerakan memilin Gandar dengan menggerakkan pinggulnya maju mundur. Kejantanan Gandar yang ukurannya sangat besar memenuhi liang kenikmatannya dengan penuh, hanya dengan menggerakkan pinggulnya sedikit, penis itu sudah sampai di ujung terdalam dinding kewanitaan Leni, si cantik itupun belingsatan dan merem melek keenakan.

Tempat tidur makin tak berbentuk, sepreinya acak-acakan, bantal dan gulingnya terjatuh entah kemana. Makin lama, kedua insan yang sedang bercinta itu semakin dekat ke puncak kenikmatan. Gandar berusaha keras menahan orgasme, ia tak ingin terlalu cepat mengeluarkan air maninya, ia masih ingin menikmati kewanitaan Leni yang nikmatnya bagaikan surgawi. Tapi ia tak bisa mengingkari kekuatannya sendiri, dengan sekuat tenaga, Gandar menyodokkan penisnya berkali-kali ke dalam kewanitaan Leni yang menjerit-jerit penuh kenikmatan.

Persetubuhan mereka dilakukan dengan waktu yang cukup lama. Akhirnya Gandar mengeluarkan satu lolongan panjang, ia meremas bahu Leni kuat-kuat. Ia hampir sampai di puncak kenikmatan. Leni yang tahu Gandar sudah hampir orgasme juga tak mau kalah, ia menggerakkan tubuhnya dengan gerakan menggila dan mendaki jalan nikmat menuju puncak. Ia hanya ingin memuaskan birahinya secara alami, tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Leni mengangkat kakinya dan mengapit pinggul Gandar, ia sodokkan pantatnya ke atas untuk melesakkan penis Gandar lebih dalam lagi. Akhirnya si cantik itu sampailah ke ujung perjalanan permainan cinta ini, ia mengerang tanpa terkendali.

“Kakang... Kakaangg...! Aku mau keluaaaaaar...!!” Jerit Leni panik, ia tak kuat lagi menahan orgasme. “Ahhhhhh! Aaahhhh...!!!” Pekik Leni berlanjut.

“Ahhhhmmm!! Ayo sayang! Kita sama-sama keluar! Aaahhh!!! Sayaaaang....!!” Balas lenguhan kuat Gandar.

Semprotan demi semprotan air mani mengalir deras di dalam kewanitaan Leni, bercampur dengan cairan cinta yang memancar dari dalam. Cairan kental meleleh dari ujung bibir vagina sang wanita cantik itu, membuktikan penyatuan kedua tubuh insan berlainan jenis ini. Desah nafas kelelahan berpacu dari mulut Leni dan Gandar yang masih berpelukan dalam ketelanjangan, keringat deras membanjir di seluruh tubuh mereka, kejantanan Gandar masih bertahan di dalam liang lembut Leni. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya terdiam, membiarkan waktu berlalu dan mencoba memperoleh kembali nafas mereka yang kembang kempis.

###Milf_Love###

Sejak saat itulah Leni mulai belajar untuk tak hanya berhubungan seks dengan Mareksa. Satu demi satu, Mareksa memperkenalkan Leni dengan siluman-siluman lainnya yang beraneka ragam bentuknya. Dengan bimbingan Mareksa yang penuh kesabaran, wanita itu akhirnya mau juga belajar membagi tubuh dan cintanya kepada makhluk-makhluk itu. Maka Leni pun mulai membiasakan diri terhadap anjuran Mareksa untuk berganti-ganti pasangan dalam bersetubuh.

Apalagi ketika Leni mulai terbiasa bahwa makhluk-makhluk itu ternyata menaruh hasrat yang sangat luar biasa kepada wanita manusia. Bagi mereka, bersetubuh dengan Leni adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Mereka sangat memuja wanita cantik itu dan menganggap dirinya seolah-olah adalah seorang dewi seks yang turun dari kahyangan untuk memuaskan hasrat segala makhluk. Leni pun akhirnya merasa tersanjung dan sebagai timbal baliknya, ia merasa berkewajiban untuk melayani mereka sebaik mungkin. Membagi kesenangan dan kenikmatan badani kepada sebanyak mungkin siluman yang mungkin selama ini tak semuanya memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung apalagi berhubungan seks dengan wanita manusia.

Beberapa purnama telah berlalu. Leni seorang dewi seks, namanya harum semerbak kembang padma. Kharismanya menembus dimensi ruang dan waktu. Berbagai raja siluman terang-terangan memuji kecantikan Leni yang bagaikan seorang dewi. Namun tak pernah terduga sebelumnya, raja-raja siluman tersebut mulai berebut ingin memiliki Leni. Berbagai tawaran diajukan kepada Mareksa untuk menukar Leni dengan harta yang sangat berlimpah. Mareksa sang gendruwo mulai kewalahan dengan permintaan para raja siluman. Kesalahan Mareksa adalah menunda-nunda penawaran. Sang gendruwo tidak menyadari kalau tindakannya mengakibatkan permusuhan di antara bangsa siluman yang pada akhirnya menimbulkan peperangan.

Peperangan semakin meluas dan kekacauan hampir-hampir tidak dapat dikendalikan. Peperangan antar bangsa siluman tersebut pada akhirnya menyeret Mareksa ke dalamnya. Mareksa dan pasukannya merasa tidak berdaya mendapat serangan dari bangsa-bangsa siluman yang mempunyai pasukan perang yang banyak dan terlatih. Mareksa dan beberapa anak buahnya yang selamat melarikan diri ke wilayah Zalanbur. Dan Leni pun ikut bersama rombongan Mareksa. Untung saja Zalanbur menerima Mareksa dengan tangan terbuka.
“Aku akan melindungi kamu, ... Tapi dengan satu syarat ...!” Ucap Zalanbur dari singgasananya kepada Mareksa di ruang pendopo beratap limasan.

“Katakanlah, ... Aku pasti akan mengabulkannya ...” Jawab Mareksa karena tidak ada lagi kekuatan baginya untuk beradu argumen.

“Aku menginginkan gundikmu lagi ... Wanita itu akan kujadikan gundikku ...” Kata Zalanbur.

Mareksa tidak berdaya karena keselamatan dirinya sangat terancam. Maka dengan berat hati sang gendruwo menerima permintaan Zalanbur. Sejak saat itulah Leni menjadi ‘piaraan’ Zalanbur kembali. Leni pun menyambutnya dengan sangat riang. Bagaimana pun bersama dengan Zalanbur lebih baik daripada tetap bersama dengan Mareksa. Zalanbur adalah sebangsa jin yang memiliki tingkat keilmuan dan kesaktian tertinggi. Tata cara hidup dan pergaulan sangat berkelas. Jika dibandingkan dengan kehidupan di dunia manusia, Zalanbur adalah setingkat dengan para bangsawan sementara Mareksa adalah rakyat jelata. Negara kekuasaan Zalanbur adalah negara adidaya sedangkan negara Mareksa adalah negara dari dunia ketiga.

Peperangan antar bangsa siluman pun berhenti setelah mengetahui kalau dewi seks yang mereka incar sekarang berada di bawah kekuasaan Zalanbur. Tak ada satu bangsa siluman pun yang berani menyerang Zalanbur. Zalanbur pun secara tegas menolak seluruh permintaan dari raja-raja siluman yang selama ini menginginkan Leni. Dan sekali lagi, para raja siluman tak berkutik bila harus berhadapan dengan Zalanbur yang kuat dan perkasa. Para raja siluman lebih memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan Zalanbur. Setelah itu, peperangan pun mereda tidak ada lagi pertarungan untuk memiliki dewi seks yang selama ini diperebutkan oleh mereka.

Ada alasan mengapa Zalanbur menolak permintaan para raja siluman walau diiming-imingi oleh harta dan kekuasaan, tiada lain karena Zalanbur kini sangat menyukai Leni. Tidak pernah terduga kalau Leni menjadi wanita yang sangat cantik. Aura kecantikannya bagaikan paripurna di kalangan wanita mana pun. Zalanbur benar-benar terpesona, matanya tidak pernah ingin beralih pada Leni.

###Milf_Love###

Pagi yang cerah. Senyum di bibir Leni merekah. Sejuta asa bahagia menyambut harinya yang baru. Pandangan Leni menerawang menjelajahi rumah siluman tua yang eksotis itu. Ada nostalgia yang muncul kembali di benaknya. Secara fisik tak banyak yang berubah. Hanya ada suasana berbeda yang dirasakannya. Ada semacam keheningan dan kekosongan. Zalanbur bisa merasakan apa yang ada dalam pikiran Leni.

“Ranggawelang sekarang tak ada di sini lagi. Ia sudah kukirim ke alam manusia…." Kata Zalanbur. Leni mengangguk-angguk mendengar penjelasan Zalanbur. Ia mengerti sekarang kenapa suasana di sini dirasanya lebih sepi. Itu menjelaskan semuanya.

“Ia gelisah terus sejak dirinya kau tinggalkan. Karena itulah kuiizinkan ia ke alam manusia." Lanjut Zalanbur. “Harapannya, ia dapat menemukan wanita lain sebagai pengganti dirimu. Ia telah begitu ketagihan menyetubuhi wanita manusia. Jika di sini terus, tentu ia tak akan mungkin melakukannya…. Aku hanya berharap ia berhasil menemukan jodohnya di sana…” Kembali terdengar penjelasan Zalanbur kepada Leni.

Leni hanya tercenung mendengar penjelasan Zalanbur. Ada sedikit perasaan bersalah tersirat di dalam hatinya. Apa daya, waktu itu ia hanya menjalankan perintah dari Zalanbur sebagai tuannya. Leni hanya bisa berharap siluman kera itu segera menemukan wanita lain di sana. Namun, sedikit banyak Leni merasa lega mendengar penjelasan Zalanbur itu.

Leni lalu mohon izin kepada Zalanbur untuk mandi karena ia baru saja bersih kembali dari haidnya. Zalanbur menjawabnya dengan senyuman dan anggukan kepala. Leni pun berjalan ke pancuran tempat ia mandi di bagian belakang istana itu. Sesampainya di sana, Leni langsung membuka pakaiannya lalu langsung berdiri di bawah pancuran. Tubuhnya terguyur air dingin dari pancuran dan hanya tersenyum saat ia mengetahui kalau Zalanbur sedang memperhatikannya.

Satu hal yang tak disadari Leni, bahwa Zalanbur telah berubah. Saat itu Zalanbur telah merampungkan ilmunya. Sekarang ia tak perlu lagi menahan nafsu birahinya. Ia sekarang sudah lebih sakti dan dapat kembali ke sifat asalnya yang senang mengumbar birahi. Leni yang tak menyadari itu membiarkan saja ketika Zalanbur menatapinya selama ia mandi di pancuran. Ia sudah terbiasa bugil dan mempertontonkan keindahan tubuhnya di hadapan tuannya itu. Zalanbur yang mengagumi betapa cantik dan moleknya Leni. Timbullah keinginannya untuk juga melampiaskan birahinya kepada wanita itu.

“Leni ... Kau cantik sekali…” Ucap Zalanbur mengutarakan kekagumannya sambil mendekat ke wanita yang sedang mandi tersebut.

“Ada apa, Tuan…?” Tanya Leni keheranan sambil berdiri di bawah pancuran. “Tuan telah begitu baik kepadaku selama ini… tapi rasa-rasanya Tuan jarang memujiku seperti itu….” Lanjut Leni keheranan.

“Aku telah berbuat baik kepadamu…?” Tanya Zalanbur seolah meminta penjelasan.

“Ya, Tuan… Tuan telah mencarikanku jodoh selama tinggal di sini dan mengajari saya begitu banyak hal…” Jelas wanita itu sambil tersipu.

“Aaah… itu bukan apa-apa, sayangku… Memang itulah salah satu tujuanku membawamu kemari…” Kata Zalanbur dengan mata yang berbinar-binar memandangi tubuh bugil Leni yang sangat menggugah hasratnya. “Kau suka dengan apa yang telah kulakukan padamu selama ini?’ Tanya Zalanbur kemudian. Leni mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi anda belum menjawab pertanyaan saya, Tuan…” Kata Leni pelan.

“Apa itu?” Zalanbur balik bertanya.

“Mengapa Tuan tiba-tiba memuji saya…” Lirih Leni sambil menundukan wajahnya genit.

“Leni ... Aku ingin kau tahu tentang satu hal… Aku telah menyelesaikan ritualku… Kini aku telah menjadi semakin sakti dan dapat menyalurkan hasrat seksualku lagi seperti biasa… Sekarang kau telah menjadi seorang dewi ... Aku sangat menginginkan dirimu ...“ Jelas Zalanbur.

Mata Leni terbelalak mendengar penjelasan itu. Entah kenapa dirinya merasa senang sekali mendengar hal tersebut. Tanpa berkata apa-apa, Zalanbur pun berjalan mendekati wanita itu. Keduanya saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seakan ada suatu kontak batin yang kuat sedikit demi sedikit terjalin di antara mereka berdua. Lalu entah siapa yang memulai, tiba-tiba kedua makhluk itu pun saling berpelukan dan berpagutan di bawah pancuran.

Momen yang terjadi sekilas dan tiba-tiba itu ternyata membawa Leni ke suatu titik balik. Suatu hal besar yang di luar pemikiran dan perkiraannya telah terjadi. Hal itu tiba-tiba terlintas di dalam benaknya. Membuatnya tiba-tiba mampu membuat suatu keputusan berani yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.

“Tuan, bawalah aku pergi bersama dirimu…” Tiba-tiba Leni berkata setelah mereka berciuman beberapa lama. “Aku akan mengikuti dan mengabdikan diri saya pada Tuan…” Kata Leni lagi mantap sambil menatap ke arah mata tuannya yang sekaligus ia harapkan mau menjadi kekasihnya pula.

Leni baru sadar bahwa dirinya sebenarnya telah mengagumi siluman tua yang gagah perkasa itu sejak pertemuan pertama mereka. Sekarang dirinya baru sadar bahwa ternyata ia juga mencintainya dan rela dijadikan sebagai apa pun olehnya. Zalanbur balas menatap dalam-dalam mata wanita yang berada dalam pelukannya itu. Dilihatnya pancaran mata yang tulus dan jujur dari seorang wanita yang tengah jatuh cinta pada dirinya.

“Aku akan menjadikan dirimu ratuku ....” Kata Zalanbur mantap.

“Oooh… Tuan…” Desah Leni dengan penuh hikmat. Mereka pun saling berpelukan erat di bawah pancuran air.

Zalanbur mengangkat ringan tubuh telanjang Leni. Dibawanya Leni ke ruang pribadi Zalanbur. Di ruangan pribadi Zalanbur yang bernuansa hutan, kedua makhluk berbeda alam itu pun memadu kasih seperti layaknya sepasang pengantin baru. Leni seakan baru tersadar bahwa inilah sebetulnya saat yang ditunggu-tunggunya sejak pertama kali ia dibawa ke alam siluman.

“Junjunganku Tuan Zalambur ... akhirnya kita bisa bersatu juga… Sejak pertama kali saya bertemu dengan Tuan… Saya sudah sangat ingin merasakan diri Tuan…” Jelas Leni membuka rahasianya yang terbaring pasrah tak berdaya dalam pelukan Zalanbur.

“Ratuku….” Balas Zalanbur haru sambil memagut bibir wanita itu. Mereka pun berciuman dengan dalam seperti sepasang kekasih yang sudah lama terpisahkan.

Zalanbur menyisipkan penisnya yang berukuran besar ke dalam vagina Leni. Wanita itu menahan nafas. Ia menantikan kenikmatan yang sudah lama diidam-idamkannya. Leni merasa badannya bergetar saat penis Zalanbur bersatu secara utuh dengan vaginanya. Untunglah Leni sudah terbiasa melayani Mareksa dan para raja siluman. Kebetulan makhluk-makhluk itu semuanya memiliki ukuran penis yang besar melebihi ukuran penis manusia. Namun bagaimana pun juga penis Zalanbur memang masih lebih besar dari yang lainnya.

Setelah sang Ratu terbiasa menerima alat kelamin Zalanbur di dalam tubuhnya, siluman itu pun mulai menggenjotnya. Leni pun menikmati setiap detik dari persenggamaan mereka. Keduanya menjalani persenggamaan seperti layaknya sepasang pengantin baru. Seperti sudah diduga oleh Leni, Zalanbur adalah pecinta yang sangat hebat di atas ranjang. Dengan pengalamannya yang sudah mencapai ribuan tahun, dibawanya Leni ke puncak orgasme sampai berulang-ulang dengan berbagai teknik yang membuat wanita itu terkagum-kagum.

Hingga saat Leni sudah kelelahan dalam kubangan orgasme yang datang beruntun, Zalanbur memberi kesempatan wanita itu untuk beristirahat sejenak. Masih dengan alat kelaminnya yang tegang tertancap teguh di dalam kemaluan Leni, siluman tua itu mendekatkan wajahnya ke wajah Leni yang ada persis di bawahnya.

“Bagaimana rasanya?” Bisik Zalanbur.

“Tuanlah yang terbaik ... Ayo, teruskan tuanku ...” Balas wanita itu dengan mesra.

“Tentu, ratuku….” Balas Zalanbur sambil meningkatkan genjotannya yang membuat kemaluan Leni terasa semakin panas. Akibatnya, orgasme yang beruntun pun tak terelakkan lagi menerpa tubuh wanita itu. Leni pun merasakan sebuah hempasan dahsyat penuh kenikmatan yang serasa membuat semua tulang belulangnya seperti copot satu per satu dan setiap sendi-sendi di tubuhnya meleleh dalam sebuah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Suasana yang memabukkan menghempas dirinya yang bugil dalam pelukan siluman tua itu.

“Ooooouuuuu….uuuuhhh…..” Desah wanita itu berkepanjangan sambil satu tangannya meremas seprai ranjang tempat mereka memadu kasih. Sementara tangannya yang lain mendekap tubuh besar siluman tua itu yang menindih tubuhnya.

Tak lama kemudian, Leni pun merasakan siluman itu melepaskan semprotan air maninya ke dalam rahimnya. Zalanbur melenguh panjang. Leni pun tersenyum bahagia dengan lebarnya. Mereka lalu saling berpagutan sambil berpelukan. Beberapa lama mereka berdua terpaku dalam posisi Zalanbur menindih tubuh Leni. Kedua alat kelamin mereka masih bersatu. Cairan sperma siluman tua itu tampak mengalir keluar dari dalam vagina Leni saking banyaknya. Membasahi seprai putih yang mereka tiduri.

“Tuan ... Aku mencintaimu ...” Desah Leni sembari mengusap wajah Zalanbur.

“Sejak sekarang ... Kau adalah ratuku ... Pendampingku ... Kau mempunyai kekuasaan atas anak buah dan rakyatku sepertiku di sini ...” Ucap Zalanbur.

“Ooohh ... Tuanku ... Terima kasih ...” Leni memeluk kekasihnya erat. Tak pernah disangkanya kalau ia akan menerima anugerah sebesar itu.

Singkat cerita, akhirnya Leni menjadi permaisuri Zalanbur yang cantik mempesona,juga sangat dicintai rakyatnya karena kepandaiannya melesaikan masalah dan keramahannya kepada semua makhluk yang berada di kekuasaannya. Seiring berjalannya waktu, raja dan ratu hidup bahagia hingga sang ratu hamil dan melahirkan seorang putri yang cantik jelita namun kepalanya dihiasi tanduk kecil seperti ayahnya.

Kebahagiaan raja dan ratu terus berlanjut sehari, seminggu, sebulan, setahun dan seterusnya. Keduanya masih diliputi oleh cinta yang tak bertepi. Namun tak ada resep rahasia agar bahagia selamanya. Ya, setelah lima tahun bersama Zalanbur, Leni mulai merasakan kerinduan kepada ‘dunia manusia’, dunia di mana ia dilahirkan. Walau harta dan kasih sayang berlimpah, Leni merasa hampa hidup di ‘dunia siluman’. Wanita itu ingin sekali kembali ke ‘dunia manusia’ namun keinginannya itu tidak berani diungkapkan kepada sang raja. Kesedihan melingkupi hari-harinya, wajahnya selalu muram dan itu akhirnya diketahui Zalanbur.

“Ada apa dinda ...? Belakangan ini kamu terus bermuram durja ...” Tanya Zalanbur kepada permaisurinya. Sejenak Leni memandang wajah Zalanbur lalu membaringkan kepalanya ke dada sang raja.

“Maaf kanda ... Aku sangat ingin pulang ke duniaku ...” Lirih Leni memelas.

“Jadi itu kesedihan dinda selama ini ... Kenapa dinda tidak membicarakannya padaku?” Ucap Zalanbur sambil membelai kepala permaisurinya.

“Kanda ... Ijinkan aku kembali ke duniaku untuk sebentar saja ... Aku rindu rumah dan orangtuaku ...” Pinta Leni sangat berharap.

“Untukku untuk masuk ke duniamu sangat lah mudah, bisa setiap saat masuk dan keluar sesukaku tetapi bagimu yang sudah terikat alam jin, hal itu sangat sulit dilakukan ... Ada ritual tertentu yang harus dinda lakukan dan itu sangat berat. Kedua, bagi dinda tidak bisa setiap saat keluar masuk ke duniamu, hanya bisa dilakukan satu tahun sekali.” Jelas Zalanbur.

“Kanda ijinkan aku ...” Leni akan melakukan apapun untuk bisa pulang ke dunianya asalkan Zalanbur mengizinkannya.

“Ya ... Aku izinkan ...” Ucap Zalanbur seraya memeluk permaisurinya erat.

Setelah menghitung waktu yang cocok, akhirnya Leni memulainya ritualnya agar bisa membuka dimendi ruang bagi dirinya. Pati geni yang dilakukannya yaitu bertapa membisu tanpa makan dan minum selama tujuh hari tujuh malam dibawah bimbingan Zalanbur. Dengan keteguhan dan kerja keras, semuanya dapat dilalui Leni dengan tuntas. Dirinya sudah siap melalui pintu dimensi yang dibuat oleh Zalanbur. Sang raja siluman menggandeng tangan permaisurinya melalui lubang hitam sebagai pintu masuk ke dunia manusia. Leni masuk tanpa ragu. Untuk sesaat penglihatannya gelap namun hanya beberapa detik mengalami kegelapan, Leni pun akhirnya bisa melihat cahaya dan alam sekitar.

“Apakah aku sudah di duniaku, Kanda?” Tanya Leni.

“Ya ... Dinda sudah berada di dunia manusia ...” Jawab Zalanbur.

“Tapi ... Sekarang aku ada di mana?” Tanya Leni kembali karena apa yang dilihatnya tidak dikenalnya. Wanita itu berada di sebuah ruangan yang sangat megah. Ia mengedarkan pandangannya menikmati desain ruangan yang sangat elegan itu.

“Ini adalah rumahmu ... Letaknya di sebelah desamu dahulu ... Aku sudah mempersiapkan semua yang dinda butuhkan di sini ...” Kata Zalanbur.

Sambil bergandengan tangan, Leni dan Zalambur berkeliling rumah megah bertingkat itu. Memeriksa segala peralatan yang tersedia. Leni benar-benar bahagia karena telah disediakan semua keperluannya untuk hidup di dunia manusia. Tak henti-hentinya Leni mengucapkan terima kasih pada sang raja atas semua yang telah diberikan.

“Dinda ... Aku hanya memberi waktumu setahun untuk tinggal di sini ... Dan aku akan datang setiap malam jumat kliwon untuk menjengukmu ... Tetapi dinda bisa memanggilku kapan saja dengan mencium cincin ini tiga kali ...” Kata Zalanbur seraya menyematkan cincin intan berlian di jari Leni.

“Terima kasih kanda ...” Hanya itu yang bisa Leni ucapkan kepada Zalanbur.

“Aku pergi sekarang ...!!!” Kata Zalanbur lalu bergerak menuju pintu dimensi yang diikuti Leni dari belakang.

“Kakang ... Jaga anak kita baik-baik ...” Ucap Leni sebelum Zalanbur benar-benar masuk ke dalam pintu dimensi.

“Ya ....” Setelah itu tubuh Zalanbur seakan tertelan kegelapan dan tak lama kemudian pintu dimensi itu pun menghilang.

Leni tersenyum lega. Mimpinya selama ini terwujudkan. Langkah pertama untuk hidup di dunia manusia adalah melapor keberadaan dirinya ke RT dan RW. Lalu membuat Kartu Tanda Penduduk di kantor Desa dan Kecamatan. Selama beberapa hari, Leni pun mendapatkan dua orang pembantu wanita, supir dan tukang kebun. Kehidupan sebagai manusia mulai berjalan normal. Leni dikenal di lingkungan itu sebagai seorang janda kaya raya. Tak perlu berminggi-minggu, namanya sudah menjadi pembicaraan masyarakat sekitar.

Sabtu, 11 Oktober 2025

tuyul



Di desa terpencil dan rumah kecil wanto (30th) dan ayu (25th)serta putri kecilnya yang bernama talita yang masih berusia (2th) hidup dengan keadaan yang pas-pasan.

Wanto yang bekerja sebagai buruh tani harus kehilangan pekerjaannya karena lahan yang biasa ia garap telah di jual oleh pemiliknya dan kini keluarga wanto hanya berharap pada ayu istri wanto yang bekerja sebagai tukang cuci.

1 bulan berlalu keuangan keluarga Sarmin semakin tak mencukupi.

Wanto yang sudah kesana kemari mencari pekerjaan hasilnya tetap saja nihil

Ia suah mencoba kepasar untuk menjadi kuli angkut tetap saja tidak ada karna barang lagi susah dan kuli angkut pun banyak yang nganggur.

Ketika di perjalanan pulang tiba-tiba truk pengangkut pasir membunyikan klakson dan mengagetkan wanto yang sedang berjalan.

Dan truck itu berhenti tepat di depan sarmin.

Ternyata yang turun itu bejo teman lama wanto.

"Kamu kenapa to jalan kok sambil melamun"
"Gimana kabarmu to "Ucap Bejo

"Kabarku lagi gak baik jo aku sudah kesana kemari tetap saja tidak dapat pekerjaan "Ucap wanto.

"Lah kamu bukan sedang menggarap sawahnya pak jamal" "Ucap Bejo"

"Sawahnya sudah di jual Jo buat berobat istrinya pak djarot" "Ucap wanto

"Ya Sudah kamu ikut aku saja kebetulan aku lagi kerja di proyek lagi kurang orang" "Ucap Bejo

"Wah kamu sudah jadi bos ternyata jo?" "Ucap wanto

"Bukan min aku cuma mengawasi saja alias mandor belom jadi bos to... " "Ucap Bejo"

"Ya sudah saya jalan dulu ,besok saya jemput kamu sekalian beli bahan-bahan material" "Ucap Bejo

"Oke jo Terima kasih yah hati-hati di jalan" "Ucap wanto

Kedua sahabat itupun berpisah.

Wanto yang tadi berjalan dengan gontai dan melamun kini Berjalan dengan semangat dan penuh senyum tak sabar ia ingin mengabari istrinya kalau dia besok sudah bekerja.

Sementara di rumah ayu sedang mencuci di buat kaget oleh teriakan suaminya.

"Bu Bu Bu" "Teriak wanto

"Ada apa toh mas teriak-teriak" "Ucap ayu  yang bingung

"Aku sudah dapat kerja dan besok aku berangkat" "Ucap wanto Begitu senangnya

"Syukur alhamdulillah kalo mas sudah dapat pekerjaan."

"Memangnya kerja di mana mas ? " "Tanya ayu

"Tadi aku ketemu Bejo Teman masa kecil aku dan dia sudah jadi mandor katanya sedang nyari orang buat proyeknya" "Ucap wanto

"Wah hebat kebetulan sekali yah mas" "Ucap ayu

"Iya mungkin sudah jalannya dan besok Bejo mau jemput aku sekalian beli beli peralatan katanya" "Ucap wanto.



Keesokan harinya Sarmin sudah menyiapkan barang bawaannya untuk bekerja di tas besar.

Tak lama kemudian datang Bejo dengan Truknya.

"Sudah siap semua to Barang bawaan kamu" "Tanya Bejo"

"Sudah ini di tas" Ucap wanto dengan menunjukkan tas bawaannya

"Kamu bawa baju banyakan kamu mungkin pulang seminggu sekali bahkan bisa sebulan sekali gak mungkin bisa pulang pergi" "Ucap Bejo mencoba menjelaskan"

"Lah terus aku tidur dimana?" "Tanya wanto

"Tenang ada mess kok di sana lagi pula kita kerja di kota proyek nya bukan bangun rumah kecil" "Ucap Bejo menjelaskan

"Okelah aku ambil baju lagi" "Ucap wanto

Wanto lalu kembali kedalam untuk mengambil baju lagi dan ayu keluar untuk memberikan kopi untuk Bejo.

"Kopi nya mas di minum" "Ucap ayu

"Oh Iyah makasih" "Ucap Bejo sambil mengambil gelas kopi

Tak lama wanto pun keluar dengan barang yang lebih banyak.

"Udah to ayo nanti keburu siang" "Tegas Bejo

"Habiskan dulu kopi mu jo" "Ucap Sarmin

Bejo pun lalu mengambil gelas dan menghabiskannya.

Sementara Sarmin berpamitan dengan ayu dan anaknya

"Bapak pergi kerja dulu yah kamu jangan nakal jagain ibu yah "Ucap wanto kepada anaknya talita yg baru berusia 2th

"Mas pergi dulu yah kamu baik-baik di rumah" "Ucap wanto kepada istrinya"

"Iya mas hati-hati kerjanya" "Ucap Ayu Sambil menciun tangan suaminya

"Ayo jo aku sudah siap" "Ucap Wanto 

Bejo berjalan menuju truknya di ikuti oleh 
Wanto 

Perpisahan begitu hangat Ayu dan anaknya melambaikan tangan ketika trus mulai berjalan.


Didalam perjalan kedua teman masa kanak-kanak itu saling berbagi cerita sampai mereka tak terasa sudah sampai di sebuah rumah yang menjadi mess tempat kerjanya.

"Kamu taruh barang-barangmu itu ada lemari kosong" "Ucap Bejo

"Oh oke jo" "Ucap Wanto sambil menaruh tas bawaannya"

Sudah selesai menaruh barang bawaan Wanto mereka pun berangkat ke tempat kerja dan mulai bekerja.

Sementara di rumah Ayu sibuk dengan kerjaannya yaitu mencuci dan menyetrika.

Tak terasa sudah 1 minggu bekerja Wanto mendapatkan gaji.

"To ini gajian seminggu kamu" "Ucap Bejo sambil memberi uang

"Wah makasih banyak jo" "Ucap Wanto sambil menerima uang

"Kalo gitu saya mau pulang dulu ngasih uang ini ke istri anak saya dulu" "Ucap Sarmin"

"Ya sudah kamu pulang dulu kasih uang ini besok-besok pulang nya sebulan sekali saja atau dua minggu sekali, jadi kamu ada penganan uang buat kamu makan atau ngopi di sini" "Ucap Bejo menjelaskan


Wanto pun pulang dengan naik angkutan umum yang beritahukan bejo dan tak lupa mampir ke pasar untuk membelikan bahan makanan untuk istrinya 

Sesampainya di rumah.
"Assalamu'alaikum" "Ucap Wanto 

"Walaikumsalam" "Jawab Ayu dari dalam"

"Mas sudah pulang?" "Tanya Ayu saat membuka pintu

"Talita mana bu?" "Tanya Wanto 

"Dia sudah tidur" "Jawab Ayu sambil membuatkan kopi untuk suaminya

"Kopinya mas" "Ucap Ayu Sambil menaruh kopi di meja

"Mas sudah makan?" "Tanya Ayu

"Tidak usah mas udah makan tadi di pasar" "Ucap Wanto 

Wanto lalu berdiri memeluk ayu dari belakang

"Mas mandi dulu" "Ucap Sri

"Mas kangen sama kamu sayang" "Ucap Wanto 

Wanto pun lantas menuju kamar mandi

Selesai mandi Wanto masuk kekamar dan melihat istrinya sudah telanjang berbungkus selimut.

"Lho bajumu mana?? kenapa telanjang "Tanya Wanto 

"Tadi katanya kangen peluk-peluk aku dah siap malah nanya baju" "Ucap ayu jengkel

Wanto pun tertawa melihat istrinya yang cemberut itu.

Memang sejak talita lahir pasangan ini sudah jarang bercinta karena terlalu memikirkan keuangan keluarga yang serba kekurangan.

Dan mereka akhirnya bercinta kembali Di atas ranjang kayu mereka bermadu kasih setelah sekian lama tidak melakukannya.

"Sayang... Ayo entotin aku" Ucap ayu nakal.

Mendengar bisikan nakal ayu , wanto dengan beringasnya dia langsung mencium bibir ayu,  Dilumat habis bibir ayu oleh bibirnya.. 

" Sleerppp... Sleerpp p.... " "Mmmmhhh.... Mmmmpphhh... " Gumam mereka berdua sambil berciuman.

Tak mau membuang waktunya Tangan Wanto langsung meremasi kedua payudara besar ayu,
"Aaarhhhh... " Ayu sudah sangat basah dan bernafsu...

Dia meremas kedua payudara ayu yg besar dengan gemas sambil memilin putingnya.
'Criitt crittt .' Air susu ayu muncrat membasahi jarinya"Mmmhhhhh... Ssshhh.. " Lenguh ayu 

Lalu Wanto pun tidak mau hanya berdiam, mulutnya mulai mendekat ke arah payudara dia lanngsung melahap dan menghisap juga menjilati payudara ayu secara bergantian yg kiri dan kanan...

"Mmmhhh... Aaaahhhh.... Uuuhh… Enak sayang" Lenguh ayu berbisik di telinganya..

Setiap ayu mendesah, Wanto makin bernafsu meremas dan menghisap payudaraku.

Saat Wanto sedang menikmati payudara, Ayu mulai memasukan tangannya kedalam kolornya dan mencari penis milik Wanto 

Saat aku berhasil menyentuh penisnya, terasa penisnya sudah tegak di dalam sana.

Ayu pun mulai mengelus dan mengocok penisnya dengan perlahan..

' Slebb ..slebb ..seleb'

"Udah di buka aja ini celananya" Ucap ayu berbisik padanya.

Ayupun terus mengocok penis Wanto dengan tempo lebih cepat... "Mmmmhh.. Mmmhh… " Gumam Wanto yg sedang menghisap payudaraku saat aku mulai menaikan tempo kocokanku pada penisnya.

"Enakkk sayang... Kamu suka nete sambil aku kocokin gini.." Ucap ayu pelan menggodanya.

"Aaaahhhh... Uuhhhh.. Terusshh sayang, kenyot tetek aku, Sedot ASI nya... Aaahhh... Mmmhhhh... "Desahku Kenikmatan..

Setelah sekitar 5 menit Wanto menikmati payudara ayu sambil aku mengocok penisnya..

Ayupun kemudian mengehentikan aksinya...

Ayupun langsung melepaskan pakaianku dan langsung memelorotkan celana suaminya... Terlihat batang penis milik wanto sudah tegang... Tanpa ragu ayu langsung memasukannya kedalam mulutnya. 
"Happpp... "
 "Slurrrrppp.... Slurrpppp.... " Di kulum dan dijilat penis Wanto sambil tangan Wanto pun terus meremas dan memainkan puting payudara besar ayu. 

“Aarrghhh sayang, mulut kamu enak banget...” Desah Wanto.

"Wlokkhhhh.... Wlookhhhh... Wlokkkhh" Suara mulut ayu yg sedang naik turun memblowjob penis 

Vagina ayu sudah berdenyut dan sudah sangat basah, tanda jika ayu sudah sangat bernafsu dan ingin segera di setubuhi....

Ayu pun berhenti mengoral penisnya, kemudian merubah posisi berada tepat diatas Wanto yg sedang tiduran dan mengangkangkan kaki , lalu di pegang penisnya Wanto dan diarahkan untuk masuk ke dalam ke vaginanya..

“Ayoo yah entot bunda" ucapnya nakal 

“Iya sayang, sini aku entot kamu..” ucapnya dengan bernafsu.

Setelah kepala penisnya tepat di liang vagina , Wanto pun mendorongnya masuk.. “Bleesss... "Masuklah penis Wanto... 
"Aaaanghhh.... " di ikuti dengan erangan ayu..

Ayu pun mulai menggerakan pinggulnya naik turun di atas tubuhnya
 "Plokk... " Aaahhhh..." Plokk… aaahhhh" Bunyi benturan pantat di ikuti desahan keduanya ....

“Aaahhh… Uuuhh…. Sayang, enak banget kontol kamu sayang..” Desah ayu

“Arrghh.. Iya bunda sayanghh... Memek kamu jg enak bangett...” Desah Wanto 

"Plokk.. Plokk.. Plokk.. Plokk.. “ Suara genjotan Wanto pada vagina ayu....

“Aaahhh.. Uhhhh… Enaakhh Sayangh, Aaahhh.. terus genjot bunda sayang.... Mentokin sayang.... Aaahhhhh... Kenyot dan remes tetek bunda juga sayang... " Desah ayu sambil menyodorkan payudara besarnya ke mulut suaminya..

"Sruuppt ...sruuuptt ..Mm ..ASI kamu masih keluar aja sayang ..Mmmp ..." Wanto menyusu.

10 menit kemudian. 
"Plokkk..... Plokkkk..... Plookkkk... Plokkk..... Plokkkk..... Plookkkk... " 
“Plokkk..... Plokkkk..... Plookkkk... Plokkk..... Plokkk…" Wanto menggencangkan gejotannya, Serta ia juga menarik sedikit rambut ayu kebelakang sambil sesekali menampar pantatku.. "Plaakkk... Plaakkk.. " suara tamaparan tangannya di pantat ayu.

"Plaakkk... " Tamparan pada pantat ayu

Lalu Wanto langsung membalikan tubuh ayu tanpa melepas penisnya, Kali ini posisinya berada di atas, kemudian ia kembali menggenjot penisnya ke vagina ayu dengan cepat.

"Plokkk... Plokkkk... Plookkkk... Plokkk... Plokk…”

"PLOKK....PLOKKK..... PLOKKKK..... PLOOKKKK... PLOKKK..." Makin keras genjotan wanto.

Dan tidak lama kemudian.... 
"Aaarghhh... sayang.. kamu nikmat bangett.. Arghhh… Arrghh…" Gumam Wanto.
"Croootttt..... Croootttt.... Crottttt...... Croootttt..... " Sperma wanto pun keluar membanjiri liang vagina ayu..

Setelah itu Wanto pun ambruk diatas tubuh ayu, dan mereka pun saling bertatapan sambil tersenyum puas.

Kemudian Wanto mengecup kening dan bibir ayu... “Muachh..” “Muachh..”

Setelah persetubuhan yg sangat liar dan panas, mereka pun akhirnya memutuskan untuk istirahat dan tidur…