ITA 8
“Kalo instrukturnya ndak jadi datang, biar Mbak Susi wae yang mimpin senamnya…”, ucap Bu Denok.
“Aih aih… jangan Bu, aku ndak bisa”, cegah Susi menolak dengan senyum lembut.
Hari minggu ini, di pendopo balai dusun yang juga sering difungsikan sebagai aula, ibu-ibu di dusun Losawah hendak melakukan senam kebugaran bersama-sama. Ada belasan perempuan tua maupun muda tampak bersemangat mengikuti kegiatan yang diinisiasi oleh Bu Lurah tersebut. Selain Susi dan Bu Denok, tampak juga Yu Jum, Bu Mimin, bahkan Bu Guru Aini, sementara Jeng Yeni yang masih satu geng dengan Bu Denok, sedang absen karena ada keperluan. Semua perempuan itu kompak berbusana olahraga seperti umumnya ibu-ibu. Hanya Bu Guru Aini saja yang agak tertutup dengan hijab dan baju olahraga sekolah yang ia punya.
Namun, diantara semua perempuan yang memakai outfit yang membungkus erat lekuk tubuh mereka, Susilah yang paling menonjol. Sebab bentuk badannya yang montok dan sekal, ditunjang dengan payudara yang besar dan pantat yang membusung, membuatnya terlihat sangat seksi.
Untungnya, di aula pendopo pagi itu hanya dipenuhi ibu-ibu, jadi tidak ada mata-mata nakal yang bakal tergiur oleh kesintalan tubuhnya. Ada juga anak-anak kecil bermain dan berlari-larian di sekitar. Diantaranya ada Tono kecil, satu-satunya bocah yang pernah melihat sosok tuyul ketika hujan deras di malam hari. Pengalamanya itu sempat ia ceritakan terus menerus di sekolah. Meski hampir tidak ada yang percaya, namun rumor tersebut perlahan menyebar meskipun senyap. Salah satu orang yang justru masih menyimpan kabar burung tersebut dalam benaknya adalah Bu Guru Aini sendiri. Apalagi dengan kerapnya kabar uang hilang beberapa bulan terakhir.
Bu Guru Aini, Tono, maupun ibu-ibu dan anak-anak yang sedang ramai di sekitaran pendopo pagi itu tidak akan menyangka, bahwa ada Induk Tuyul yang membaur di tengah-tengah mereka.
Tak lama, datanglah sebuah mobil besar berhenti di pinggir jalan. Semua mata tertuju pada mobil itu. Lalu turun sopirnya yang bermuka bengis, berbadan besar, dan berkulit hitam. Ia membukakan pintu penumpang. Dari dalam, keluarlah seorang perempuan kurus dengan ekspresi tidak bersemangat. Masih di kursi penumpang, disamping perempuan itu, ada sosok pria tua berambut dan berkumis putih, dialah Pak Lurah di dusun Losawah. Sorot matanya sangat berkarisma, jika tidak mau disebut sangat mengintimidasi. Namun oleh Susi, ada hal lain yang bisa ditangkap oleh instingnya.
Pria itu bukan orang sembarangan, ada ilmu yang menjadi pegangan nya. Karena sebagai orang yang juga berurusan dengan hal-hal tidak normal, Susi bisa memastikan itu. Ketika tatapan Susi dan Pak Lurah saling bertemu, keduanya refleks menunjukan ekspresi waspada. Agaknya mereka tahu sama tahu. Namun Pak Lurah segera membuang muka dan mengomongi perempuan kurus disebelah, yang mana adalah istrinya, Bu Lurah.
“Selesai senam. Segera pulang. Ndak ada acara-acara lain. Anak-anakmu butuh kowe”, ujar Pak Lurah ketus.
“Nggih Pak”, jawab perempuan itu patuh.
“BLAM!”
Setelah pintu mobil ditutup, Pak Lurah dan sopirnya segera beranjak pergi, meninggalkan Bu Lurah yang berjalan menemui ibu-ibu. Langkahnya gontai, seperti orang sakit.
“Selamat Pagi ibu-ibu…, maaf saya telat”, ucap Bu Lurah.
“Ndak papa Bu Lurah, lhawong instrukturnya wae belom datang kok…”, jawab Bu Denok.
Ketika Bu Lurah mendekat dan berbincang di barisan depan, Susi mendengar bisik-bisik di belakangnya. Tampaknya mereka menggosipkan perawakan Bu Lurah yang semakin kurus, tidak sama seperti awal mula diperistri Pak Lurah dan tinggal di kelurahan tersebut. Konon, Bu Lurah yang ini adalah istri ke sekian Pak Lurah. Makanya usia mereka terlampau jauh. Padahal umur Bu Lurah yang sekarang mungkin lebih muda dari Susi, namun sorot matanya seakan tidak punya semangat kehidupan.
“Jadi begini… saya lupa memberi kabar kalo instrukturnya berhalangan hadir, lagi sakit demam katanya..”
“Wadoooh lha piye iki? Sudah terlanjur kumpul-kumpul begini lho…”, respon ibu-ibu.
“Atau begini wae? Mumpun wis pada kumpul, kita senam bebas wae piye? Ini kan sound-nya sudah ada. Pake lagu aerobik dari yutup wae…”, usul Bu Denok.
“Lha kalo senam bebas lak yo malah amburadul to bu?”, kata Yu Jum.
“Ya wis kita pilih wae satu orang buat komando di depan…”, kata Bu Lurah.
“Nah iya… Bu Denok wae yang suaranya lantang”, usul mayoritas ibu-ibu.
“Wah ndak mau ndak mau! Lhawong aku gembrot gini kok, geraknya pasti lelet. Nanti malah pada ketawa liat aku lompat-lompat,” tolak Bu Denok sambil tertawa lepas, tangannya melambai-lambai seolah menepis usulan itu.
Ibu-ibu lain ikut cekikikan, suasana pagi itu makin ramai dengan suara tawa mereka yang bergema di pendopo balai dusun Losawah. Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa aroma rumput basah dari sawah di sekitar, tapi tak ada yang peduli—semua fokus pada perdebatan kecil ini.
Bu Lurah, yang mukanya masih pucat seperti orang kurang tidur, menghela napas pelan. “Lha terus siapa dong? Aku ndak bisa, badanku lagi ndak enak. Kalau Yu Jum? Sampean kan biasa ngomong di depan orang.”
Yu Jum langsung geleng-geleng kepala kuat-kuat, mukanya merah padam. “Aduh ndak lah Bu, aku malu. Suaraku kecil, nanti ndak kedengeran. Lagian aku ndak hapal gerakannya, pasti salah-salah terus.”
Ibu-ibu mulai saling pandang, bisik-bisik lagi. “Bu Mimin aja? Sampean kan lincah.”
Bu Mimin cuma nyengir, “Wah, aku ndak pede. Badanku kaku, nanti malah kayak robot geraknya.”
Tawa meledak lagi, membuat anak-anak kecil yang lagi main di sekitar pendopo ikut melirik penasaran. Tono kecil, yang lagi duduk di pinggir sambil main tanah, angkat kepala dan matahari pagi menyinari wajah polosnya. Dia ingat-ingat lagi sosok tuyul yang pernah dilihatnya itu, tapi sekarang pikirannya teralihkan oleh keramaian ibu-ibu.
Bu Guru Aini, yang berdiri agak di belakang dengan hijabnya yang rapi, ikut angkat bicara pelan. “Mungkin Mbak Susi aja? Kan Mbak Susi badannya sehat, gerakannya pasti bagus. Aku liat tadi pas pemanasan, Mbak Susi lincah banget.”
Semua mata langsung beralih ke Susi. Dia lagi berdiri santai, tangan di pinggang, tanktop hitamnya nempel ketat di dada montoknya yang naik-turun pelan setiap bernapas. Legging pendeknya membungkus paha sintalnya yang mulus, dan saat angin berhembus, rambutnya yang panjang ikut bergoyang lembut. Susi cuma senyum tipis, tapi dalam hati dia tau, tubuhnya yang makin subur ini memang bikin orang susah buang mata.
“Aih aih, jangan aku Bu. Aku kan baru ikut, ndak hapal gerakannya. Nanti malah bikin kacau.”
Tapi Bu Denok ndak mau kalah. “Ayo lah, coba wae. Kami ikutin aja gerakanmu. Sound-nya kan ada, tinggal play lagu aerobik dari YouTube. Pasti bisa lho, Mbak Susi!”
Ibu-ibu lain mulai setuju, sorak-sorak kecil. “Iya Mbak Sus, ayo! Kamu cantik, pasti gerakannya enak diliat!”
Bu Lurah ikut manggut-manggut, meski matanya masih sayu. “Nah, Mbak Susi aja. Aku yakin Mbak bisa.”
Susi sedikit ragu, namun akhirnya dia pikir tiada salahnya gerak-gerak badan, hitung-hitung berolahraga. “Yo wis lah, kalau pada maksa. Tapi janji yo, ikutin wae gerakanku. Kalau salah, jangan ketawa!” katanya sambil senyum.
Bu Denok langsung nyalain speaker sound system yang udah disiapin, colok ke hape, dan play lagu aerobik upbeat: “Pump it up... feel the beat... one, two, three, jump!” Musik bergema, bikin suasana langsung hidup. Susi maju ke depan, berdiri di posisi pemimpin, dan mulai gerak pelan.
“Oke ibu-ibu, kita mulai dari pemanasan dulu ya. Angkat tangan atas... turun pelan... satu... dua... tiga... goyang pinggul!”
Gerakannya mulus banget, tubuh montoknya bergoyang ritmis mengikuti irama. Payudaranya yang besar ikut naik-turun setiap lompat kecil, tanktopnya menempel basah karena keringat mulai keluar, membuat bentuk pentilnya samar-samar keliatan. Ibu-ibu mengikuti dengan semangat, dan mata mereka seakan terhipnotis oleh Susi.
“Wah, Mbak Sus ini gerakannya seksi tenan ya... pinggulnya goyang kayak lagi nari,” gumam Yu Jum sambil berusaha mengikuti.
Susi makin masuk ke ritme, suaranya lantang mengaba-aba: “Sekarang squat! Turun pelan... angkat bokong... satu... dua... tiga! Goyang lebih kenceng, biar lemaknya ilang!”
Saat squat, pantatnya yang membusung maju mundur, leggingnya ketat sampai celah pantatnya keliatan samar. Keringat menetes di lehernya, mengalir ke belahan dada yang dalam, membuat kulitnya kinclong di bawah sinar matahari pagi.
“Ayo ibu-ibu, jangan malu! Goyang pinggul kiri kanan... shake it!”
Intensitas naik pelan-pelan. Susi tambah gerakan seksi: twist badan, tangan di atas kepala, dada maju, sambil senyum manja ke ibu-ibu. “Enak kan? Rasain ototnya kerja... oooh, ini bagian favoritku!” Napasnya mulai ngos-ngosan, tapi malah bikin suaranya lebih seksi, seperti lagi mendesah.
Bu Lurah yang lagi ikut, meski lemes, mulai tersenyum kecil—mungkin ini pertama kalinya dia ngerasain semangat lagi setelah entah sekian lama.
Anak-anak kecil, termasuk Tono, berhenti main dan duduk di pinggir, mata melotot liat Susi. “Wah, Tante Susi goyangnya lucu,” kata Tono polos.
Musik makin kenceng, Susi tambah heboh: “Jump! Lompat tinggi... land soft... goyang dada! Ayo, shake shake!” Payudaranya bergoyang-goyang kayak jelly, bikin ibu-ibu cekikikan tapi ikut semangat. Suasana pendopo jadi seperti pesta kecil, tawa dan sorak-sorak campur irama lagu.
Tanpa sadar, keramaian ini mulai menarik perhatian orang luar. Awalnya cuma satu-dua orang lewat jalan, tapi lama-lama, pedagang jajanan gerobak yang biasa keliling dusun mulai berhenti. Tukang bakso mendorong pelan gerobaknya, matanya melotot liat Susi dari jauh. “Wah, cewek montok lagi senam... bokongnya guede banget, goyang-goyang gitu,” gumamnya, lupa dorong gerobak lagi.
Tak lama, tukang es campur ikut parkir di pinggir, pura-pura istirahat tapi matanya nempel ke Susi. “Seksi tenan... susunya maju, kelihatanya empuk itu,” batinnya, sambil nyengir mesum.
Pedagang cilok dan gorengan juga datang, gerobak mereka berjejer di sekitar pendopo. Mereka tidak bilang apa-apa, cuma liat sambil pura-pura sibuk, tapi jelas-jelas tergoda. Satu pedagang yang lebih berani, bisik ke temannya: “Itu Mbak Susi kan? Yang janda montok itu... wah, edan. Bener-bener semok”.
Ibu-ibu di dalam pendopo mulai sadar ada kerumunan di luar, tapi Susi tak peduli, dia malah tambah heboh, gerakannya makin intens, seperti sedang menggoda semua orang. “Ayo terakhir! High kick... satu... dua... tiga! Finish dengan goyang bebas!” Tubuhnya berputar, keringat bercucuran, bikin outfitnya transparan sedikit, dan sorak ibu-ibu makin kenceng.
Akhirnya senam selesai, ibu-ibu tepuk tangan, “Wah Mbak Sus, hebat! Kamu cocok jadi instruktur tetap nih!” Susi cuma tertawa, napasnya masih ngos-ngosan, dada naik-turun, sambil mata melirik ke kerumunan pedagang di luar. Dalam hati, dia senang sekali, nafsu birahinya jadi naik karena pandangan-pandangan cabul orang-orang.
—---------------------------—---------------------------—---------------------------—---------------------------
Pagi hari di sekitar kantor kecamatan, 2 orang wanita tampak tergesa-gesa. Mereka adalah Bu Denok dan Jeng Yeni yang hendak menuju ke tukang jahit yang lumayan terkenal di kecamatan mereka. Tukang Jahit itu melayani berbagai permintaan pembuatan maupun penyewaan baju-baju kekinian, khususnya untuk acara-acara formal seperti resepsi pernikahan maupun hajatan-hajatan lain. Beberapa waktu lalu Jeng Yeni sudah memesan untuk dibuatkan kebaya khusus untuk penerima tamu di acara pernikahan Bu Aini. Seperti yang sudah diperintahkan oleh bu Denok, bahwa Jeng Yeni memesan 2 pasang stel kebaya serupa untuk dirinya dan Susi sebagai penerima tamu.
Namun yang membuat mereka tergesa dan tampak panik adalah kelupaan mereka untuk mengajak Susi fitting baju. Sehingga 2 ukuran baju yang dipesan Jeng Yeni adalah sama persis seperti ukuran tubuhnya sendiri.
“Sekali lagi maaf yo Bu Denok… aku lupa tenan ee…”, ucap Jeng Yeni merasa bersalah.
“Lha kowe iki piye to kok yo ndak ngajak Mbak Susi buat fitting lho”, omel bu Denok.
“Lha kukira ukuran badan Mbak Susi mirip-mirip denganku lho Bu”
“Haish! Mirip darimana, lhawong Mbak Susi montok gitu kok, kalo kowe kan kerempeng gini”, ucap Bu Denok ceplas ceplos seperti biasanya.
“Nah kuwi Bu, aku wis lama tenan ndak jumpa Mbak Susi, terakhir ketemu dulu seingatku perawakanya langsing, ndak segemuk sekarang…”
“Wis wis… diem dulu, kita coba tanya ke penjahitnya apa masih sempat dimodif…”
“Oke Bu Denok, ini penjahitnya…”
Sambil menunjukan sosok perempuan tua berkacamata yang tampak galak, Jeng Yenni mengiringi langkah Bu Denok masuk ke kios penjahit.
“Selamat Pagi Bu…”, sapa Jeng Yeni.
“Oh iya, ini sudah bisa dibawa…”, jawab si penjahit datar sambil menyodorkan satu tas berisi kebaya yang sudah terbungkus rapi.
“A’anu Bu… ng…”, ucap Jeng Yeni tergagap agak ragu.
“Halah, kesuwen! Begini Bu Penjahit, bisa kami minta tolong untuk dipermak sedikit salah satunya? diubah ukuranya…”
“Oh, bisa…”, jawab si penjahit masih dengan intonasi datar dan agak cuek.
Mendengar itu, Bu Denok dan Jeng Yeni seketika lega.
“...dikecilkan atau dibesarkan?”
“Dibesarkan Bu, nanti biar orangnya kesini untuk fitting, biar besok langsung bisa dipakai”, jawab Bu Denok.
“Oh ndak bisa kalo untuk besok, antrianya masih banyak”, jawab si penjahit ketus.
“Lho tadi katanya bisa…”, protes jeng Yeni.
“Pancen bisa, tapi ndak sekarang Mbak, ngantri dulu, pesanan yang lain masih banyak”
Bu Denok dan Jeng Yeni saling berpandangan dengan putus asa. Dengan pasrah keduanya membayar ongkos jahit lalu melangkah keluar dengan lemas. Merasa tidak enak, Jeng Yeni terus-terusan minta maaf, untungnya Bu Denok bisa mengerti, lebih tepatnya mau bagaimana lagi. Hendak mencoba memodif di penjahit lainpun, mereka ragu, karena bisa beresiko merusak pakaian jika sudah berpindah ahlinya.
Lalu Bu Denok langsung menelepon Susi untuk memberi pengertian.
“Haloo… Mbak Susi…”
“Nggih Bu Denok… auh…”, jawab Susi di seberang telepon.
“Ng… anu, ini ada sedikit kesalahan teknis…”
“Nggih? ah, pelan-pelan sayang kenyotnya…”
“Lho Mbak Susi sedang ngopo to? Lagi repot yo?”
“Mmh… ndak Bu, ada apa nggih?”
“Hmm… untuk kondangan Bu Aini besok, seragam kebaya penerima tamu sampean, kayaknya iki kok agak kekecilan, maaf yo Mbak”
“Maaf Mbak Susi…”, imbuh Jeng Yeni sambil mendekatkan suaranya ke handphone Bu Denok.
“Ooh ndak papa Bu…, nanti kan bisa diakali”
“Heem, makasih ya. Ini kan aku nginfo dulu ke sampean, supaya ndak kaget… soalnya kan tahu dewe, susumu kuwi tumpah-tumpah…”, canda Bu Denok.
“Aih aih… yowis berarti besok jamnya ndak berubah nggih Bu?”
“Iyo masih sama, nanti kebayanya tak anter ke rumahmu… wis yaa…”
“Nggih Bu…”
“Tuut… tuut… tuut…”
—---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari pernikahan Bu Aini akhirnya tiba. Pagi sekitar jam 08.30, rumah besar keluarga mempelai perempuan di pinggir dusun Losawah sudah ramai betul. Bendera-bendera warna-warni berkibar, tenda terpal biru terbentang lebar, dan bau nasi kuning sama ayam goreng sudah menguar kemana-mana. Di depan gerbang masuk, meja penerima tamu sudah didirikan rapi. Jeng Yeni dan Susi sudah berdiri anggun sebagai pagar ayu.
Susi duduk di sisi luar, dengan buku tamu dan pulpen yang sudah siap di meja. Kebaya yang dikenakannya benar-benar bencana sekaligus berkah. Bencana karena ukurannya jelas salah total; berkah karena salahnya itu malah membuat setiap inci tubuhnya terpahat sempurna dalam imajinasi para tamu. Brokat halus itu ketarik keras sampai serat-seratnya terlihat menegang, seperti mau robek kapan saja. Belahan dada kebayanya nganga lebar, memperlihatkan jurang dalam yang bikin orang takut jatuh sekaligus pengen nyemplung. Dua gunung kembarnya yang raksasa terjepit rapat, nyaris melompat keluar setiap kali dia menarik napas dalam. Pentilnya seperti dua mata kecil yang lagi mengintip dari balik kain tipis.
Belahan rok kebayanya juga sangat tinggi, hingga pertengahan paha. Bokongnya yang bulat montok dan padat membuat kain itu melar sampai batasnya. CD putih yang dia pakai, garis-garisnya terlihat jelas bagi yang mau (dan semua mau) melirik ke arah bokongnya.
Jeng Yeni yang berdiri di sebelahnya cuma bisa geleng-geleng kepala tiap melihat Susi. “Mbak Sus, kowe iki… kebayane jadi kaya njerit minta dilepas,” bisiknya sambil cekikikan.
Susi cuma senyum ramah, “Lha piye to Jeng, pancen gini adanya. Ndak apa-apa lah yang penting seragam. Biar ndak gerah juga hihi,” katanya sambil mengipas-ngipas dada, bikin toketnya bergoyang-goyang kecil.
Di depan pelaminan, terdapat kursi tamu khusus pembesar-pembesar kampung. Kursi Pak Lurah masih kosong, hanya ada istrinya disana dengan tatapan kosong. Di sampingnya ada Bu Udin, dan di sebelahnya lagi ada Pak Udin yang duduk gelisah. Rupa-rupanya dia sedang gusar memikirkan Susi. Memang saat datang tadi, dia sangat terpukau dengan Susi yang berkebaya seksi sehingga sampai di tempat duduk depan pelaminan pun dia pikirnya masih dipenuhi oleh Susi. Selain ingin melihat pemandangan indah itu lagi, ia juga khawatir dengan tatapan-tatapan pria yang bertemu Susi, pastilah mereka jelalatan memandang payudara montok itu, begitu pikirnya. Pak Udin menjadi cemburu dan resah sampai duduknya tidak tenang.
Di kursi-kursi sebelahnya ada Pak RT, Pak RW, kerabat-kerabat dekat mempelai dan seterusnya.
“Ehm, Pak RT, apa ndak sebaiknya Mbak Susi disediakan kursi di sini saja? Dia kan sudah termasuk golongan orang kaya sepertiku, layaklah dia di sini”, bisik Pak Udin ke Pak RT Komar di sebelahnya.
“Oh gitu Pak, baik biar ku panggil…”, jawab Pak RT menurut karena segan.
Iapun beranjak dan berjalan menuju arah penerima tamu. Sesampainya disana terbelalaklah mata PakRT Komar. Betapa ia melihat Susi yang sedang menulisi buku tamu, sehingga belahan kebayanya terbuka lebar seperti pintu gudang yang lupa dikunci. Dua buah gunung kembar itu nyaris tumpah ruah, hanya ditahan sehelai kain brokat tipis yang sudah menyerah kalah. Dari sudut pandang Pak RT yang berdiri tepat di depan, pemandangan itu bikin jantungnya nyaris copot. Putih mulus, lembah dalam yang gelap, dan dua titik merah muda kecil yang seperti mengintip malu-malu. Pak RT langsung lupa kata-kata yang mau diucapkan, mulutnya menganga seperti ikan koi kekurangan oksigen.
“M-mbak Susi… eh, anu…” Pak RT tergagap, matanya berusaha keras naik ke wajah Susi tapi terus-terusan melorot lagi ke jurang itu.
Susi menegakkan badan perlahan, sadar betul apa yang baru saja “terlihat”. Tapi bukannya malu, dia malah tersenyum manis sambil mengatupkan kebaya sedikit dengan jari telunjuk, gerakannya malah bikin kain itu ketarik lebih kencang lagi. “Nggih Pak RT, ada apa nggih?” tanyanya polos, suaranya lembut tapi ada nada menggoda di ujungnya.
Pak RT menelan ludah keras-keras. “E-eh, Pak Udin nyuwun… nyuwun Mbak Susi dipindah ke kursi depan. Katanya lebih… lebih sopan, lebih sesuai status, gitu loh…”
Susi memandang ke arah pelaminan. Matanya langsung bertemu dengan Pak Udin yang dari tadi sudah gelisah menatap ke arahnya, wajahnya campur aduk antara cemburu berat dan nafsu yang nggak bisa disembunyikan. Bu Udin di sebelahnya tidak sadar dengan itu karena sedang sibuk ngoceh pada Bu Lurah.
“Wah, Pak Udin baik tenan nggih,” kata Susi sambil tertawa kecil, suaranya mengalun manja. “Tapi saya kan tugasnya di sini, Pak. Ndak enak sama Jeng Yeni kalau ditinggal sendirian. Lagian… di sini kan lebih sejuk, angin-anginan,” katanya sambil sengaja mengipas-ngipas dada lagi dengan buku tamu, bikin susunya bergoyang pelan seperti gelombang laut tenang.
Jeng Yeni yang dari tadi cuma bisa cekikikan di samping, akhirnya angkat bicara, “Lha yo dipanggil Pak Udin langsung kok ditolak, Sus? Jarene wong kaya kudu bareng-bareng wong kaya to?”
“Aih aih Jeng Yeni bisa wae lho. Aku bukan orang kaya kok, biasa wae”, jawab Susi.
Sambil menelan ludah memandang urat-urat di belahan dada itu, Pak RT langsung mundur selangkah, wajahnya merah padam. “Y-ya wis kalau gitu… aku… aku balik dulu ya…” katanya buru-buru sambil ngeloyor pergi, takut kepergok orang lain kalau celananya mulai “bereaksi”.
Saat Pak RT kembali ke kursi depan dan bisik-bisik ke Pak Udin bahwa Susi menolak dipindah, wajah Pak Udin langsung merah padam. Bukan marah—tapi malah semakin penasaran. Dia gelisah sekali, kakinya tidak bisa diam, matanya terus melirik ke arah meja penerima tamu.
Terlihat Susi dan Jeng Yeni sedang selfie-selfie berdua dengan pose-pose manis. Kemudian mereka berdua mengunggah di story WA masing-masing. Otomatis semua orang di kontak mereka yang sedang online menjadi terpana, utamanya oleh Susi yang dengan nyata terpamerkan buah dadanya yang menggiurkan.
Tak terkecuali Jono, preman dusun yang kini jadi sopir Susi, yang sedang santai di parkiran tamu depan bersama kawan-kawan premanya. Melihat story juraganya dengan kebaya seksi, Jono hanya tersenyum sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Hehehe… pancen jos bosku iki”, ucapnya.
“Opo to Jon?”, teriak kawan yang penasaran. Di depan mereka bertebaran botol miras dan rokok.
“Iki lho, biasalah Mbak Susi… hehe”
“Mana, mana?! Wueladalah, kuwi susu opo semongko, bangsat?!”
“Asu! Ngacengin tenan juraganmu, Jon?!”
“Hehe… aku kan wis bilang…”
“Kenal-kenalin lah Jon! Ajak kami maen ke Mbak Susi lah…”
“Yo ayok wae, asal dia pas gak sibuk…”, jawab Jono santai.
Kembali ke area hajatan dimana rombongan mempelai pria sudah datang. Mobil-mobil pengantar diparkirkan rapi di area lapangan RT. Dari jauh iringan mempelai pria tampak berjalan pelan menuju pelaminan. Susi dan Jeng Yenipun berdiri bersiap menyambut tamu.
Rombongan mempelai pria sudah mendekat. Dari kejauhan, barisan pria berjas batik dan songkok hitam tampak rapi, tapi begitu mata mereka menangkap sosok Susi yang berdiri di meja penerima tamu, langkah mereka langsung melambat. Mata kelelakian mereka menangkap potensi sesosok figur yang menggiurkan.
Susi sadar betul. Ia cuek saja berdiri dengan posisi sedikit menyamping, bokong montoknya menonjol ke belakang.
Di barisan paling depan rombongan, mengantar putranya meminang Bu Aini, bapak dari pengantin pria berjalan bersemangat. Matanya seperti serigala kelaparan. Tubuhnya yang pendek tidak mengurangi antusiasnya. Ia memandang Susi dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu berhenti lama di dua titik: dada dan bokong.
Setelah dekat, Susi cuma nyengir.
“Waduh… iki opo iki… susu segede semongko, bokong segede lesung…” gumam bapak pengantin dalam hati, celananya langsung menggembung di bagian depan.
Di depan meja penerima tamu, ia sengaja menabrak meja sedikit, membuat buku tamu bergeser. Susi langsung membungkuk mengambil pulpen yang jatuh, dan saat itu juga Rok kebayanya langsung tertarik naik semakin memperlihatkan garis CD putih yang nyaris transparan di balik kain tipis. Bokongnya yang bulat sempurna itu terlihat seperti dua buah kelapa muda yang baru dipetik, kenyal dan menggiurkan. Buah dadanya meluber gemas dans sedikit basah oleh keringat. Bapak pengantin pria yang berdiri tepat di depan, langsung melihat pemandangan surga: puting pink besar, areola lebar, dan lembah dalam yang bikin orang pengen mati di situ.
Nyaris lupa dengan tujuannya, bapak mempelai pria langsung kembali lanjut menggandeng putranya menuju pelaminan bersama istrinya. Namun dalam hatinya bertanya-tanya siapakah penerima tamu bertubuh molek dan berwajah manis tadi. Ia bertekad ingin berkenalan dan mencari tahu.
Lucunya, barisan pengiring pengantin pria menjadi kacau dan tidak teratur. Tentu karena para laki-laki terutama bapak-bapak terpikat oleh kesensualan Susi ketika mereka melewati penerima tamu. Reaksi Susi hanya tersenyum ramah, meskipun sebenarnya ada gejolak yang bangkit.
Setelah barisan habis dan semua tamu menempati kursi, Susi kembali duduk di kursi penerima tamu, kakinya disilang dengan tujuan menahan sesuatu yang mulai bereaksi di selangkanganya.
Sebenarnya, 2 malam berturut-turut tuyulnya pulang membawa uang kertas dengan jumlah yang sangat besar sampai Susi harus “nyusuin” lebih lama dari biasanya. Tuyul itu rakus sekali, menghisap susunya sampai bengkak, bahkan hingga fajar menyingsing. Sekarang payudaranya terasa penuh sekali, berat, seperti mau meledak di dalam kebaya yang kekecilan itu. Setiap kali dia menarik napas sedikit dalam, brokat kasar menggesek putingnya yang sudah mengeras sejak dari rumah, bikin aliran listrik kecil langsung nyelonong ke selangkangan. Ia yakin cairan surgawinya mulai bereproduksi di bawah sana.
Di depannya, ia tahu puluhan pasang mata laki-laki bergerak serentak mengikuti setiap gerakannya. Ada yang pura-pura ngobrol sambil melirik ke belahan dada yang semakin nganga, ada yang berhenti jalan karena lupa langkah, ada yang celananya langsung menggembung di depan anak-istri sendiri. Susi merasakan pandangan-pandangan itu seperti tangan-tangan kasar yang meraba sekujur tubuhnya sekaligus. Perasaan jadi daging segar di tengah kawanan serigala itu selalu bikin memeknya berdenyut-denyut.
Ditambah lagi yang membuat Susi semakin bergairah adalah tatapan Pak Udin dari kursi tamu VIP. Pria itu duduk gelisah, matanya merah, rahangnya menegang, tangan kanannya terus menggenggam paha sendiri seperti menahan sesuatu yang mau meledak. Susi tahu persis apa yang ada di balik sarung mahal itu—kontol tua munafik.
Sinyal cemburu dan kekhawatiran Pak Udin atas tatapan liar pria-pria pada Susi, membuat Susi semakin senang. Dalam hatinya sangat bahagia bisa memanas-manasi orang munafik itu. Semakin cemburu, semakin menjadi-jadi tingkah Susi.
Kali ini dia meminta izin pada Jeng Yeni untuk membagikan souvenir pada tamu rombongan mempelai pria yang sudah terlanjur duduk, sementara Jeng Yeni stand by di kursi penerima tamu.
Susi mengambil tumpukan kotak souvenir, lalu dengan santai melenggang. Pinggulnya bergoyang pelan mengikuti irama gamelan yang mengalun, rok belah tingginya terbuka-tiup angin setiap langkah, memperlihatkan paha mulus yang berkilau keringat. Kebaya brokatnya sudah basah di bagian punggung dan ketiak, membuat kain itu semakin menempel ketat, serat-seratnya seperti mau putus satu per satu.
Ia mulai dari barisan para bapak-bapak rombongan mempelai pria yang duduk di belakang. Begitu Susi mendekat, obrolan langsung berhenti seketika. Puluhan pasang mata langsung terkunci pada tubuhnya. Susi tersenyum ramah, lalu membungkuk dalam-dalam menyerahkan kotak souvenir satu per satu.
Setiap kali membungkuk, gumpalan lemak di dadanya ikut menjuntai indah, begitu tebal dagingnya, memberi pemandangan segar bagi para tamu. Dari posisi Pak Udin yang duduk di barisan VIP paling depan, ia hanya bisa melihat dari kejauhan: belahan dada yang terbuka lebar, bokong montok yang terjepit rok ketat, dan tangan-tangan para bapak yang sengaja “tak sengaja” menyentuh jari Susi lebih lama saat menerima kotak.
“Souvenir dari mempelai ya, Pak…” kata Susi lembut, suaranya terdengar sampai ke depan karena hajatan sedang sepi sesaat.
Saat bicara, ia sengaja menarik napas dalam, membuat dadanya naik turun pelan seperti gelombang laut. Seorang bapak paruh baya yang duduk di tengah langsung terpaku, mulutnya menganga, tangan yang tadi mau menerima kotak malah lupa gerak. Matanya menyelam jauh ke dalam lembah gelap itu, sampai-sampai air liurnya hampir menetes.
Pak Udin dari kursi depan hanya bisa mengepal tangan. Jaraknya terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan para bapak itu ke telinga Susi, tapi ia bisa lihat jelas: ada yang tersenyum lebar sambil melirik ke bawah, ada yang mengangguk-angguk sambil menelan ludah, ada yang sengaja memegang tangan Susi lebih lama sambil berkata “Matur nuwun, Mbak… ayu tenan…” dengan suara serak.
Susi malah balas tertawa kecil, suaranya mengalun manja sampai terdengar samar-samar ke Pak Udin. Lalu ia membungkuk lagi ke orang berikutnya, kali ini lebih dalam, sampai bokongnya menonjol ke belakang. Rok belahnya terangkat tinggi, memperlihatkan garis CD putih yang sudah basah di bagian tengah, bahkan sampai bayangan hitam kecil di antara paha mulusnya terlihat oleh para bapak yang duduk di belakangnya.
Pak Udin menggeser posisi duduknya berkali-kali. Kemaluanta sudah menggembung keras, tapi ia tak bisa bergerak mendekat karena Bu Udin di sebelahnya terus ngoceh tanpa henti. Matanya merah menatap ke arah Susi yang terus menjadi pusat perhatian puluhan pria. Setiap kali Susi tertawa atau membungkuk lagi, ada desahan pelan terdengar dari barisan tengah-belakang, cukup keras sampai membuat Pak Udin semakin tak jenak.
Susi tahu persis Pak Udin sedang memandangnya. Sesekali ia melirik sekilas ke depan, lalu tersenyum kecil penuh kemenangan. Ia sengaja memutar badan sedikit saat membungkuk berikutnya, membuat bokongnya mengarah tepat ke arah Pak Udin yang duduk di depan.
Seorang anak muda yang duduk di ujung barisan malah berani sekali. Saat Susi menyerahkan kotak padanya, tangannya sengaja “jatuh” ke paha Susi, mengelus pelan seolah tak sengaja.
“Eh maaf Mbak… tanganku licin,” katanya sambil nyengir nakal.
Susi cuma cekikikan, malah membungkuk lebih dalam lagi di depannya, “Aih aih, Ndak apa-apa kok, Mas… licin kan enak,” jawabnya pelan, cukup keras untuk terdengar oleh beberapa orang di sekitar. Tawa kecil meledak di barisan itu, disusul bisik-bisik mesum yang semakin keras.
Pak Udin sudah tak tahan. Ia berdiri tiba-tiba, kotak souvenir di pangkuannya hampir jatuh. Bu Udin kaget, “Lho Pak, mau ke mana?”
“Toilet!” jawabnya ketus, tapi langkahnya malah terhenti di tengah jalan. Ia hanya bisa berdiri di sana, dari kejauhan, menatap Susi yang terus digerayangi pandangan dan sentuhan puluhan pria, sementara dirinya hanya bisa menonton tanpa daya. Api cemburu membakar dadanya sampai nyaris meledak, tapi di saat yang sama kontolnya semakin keras, membuatnya harus menunduk pura-pura batuk untuk menyembunyikan tonjolan yang sudah tak tertahankan lagi.
Susi yang tahu Pak Udin berdiri di tengah jalan, malah semakin nakal. Ia sengaja mengangkat satu kaki ke kursi kosong di samping seorang bapak, pura-pura mengikat tali sepatu yang sebenarnya tidak lepas. Roknya langsung terangkat tinggi sekali, memperlihatkan hampir seluruh pahanya yang padat. Para bapak di sekitarnya langsung terdiam, napas tersengal, beberapa bahkan tak malu lagi menggeser celana mereka.
Dari kejauhan, Pak Udin hanya bisa menatap dengan mata membelalak. cemburu setengah mati, pria tua munafik itu sedang menderita melihat tubuh wanita pujaanya “dinikmati” orang lain.
Susi mulai merasakan cairan hangat mengalir di dalam memeknya. Dia hanya perlu menggeser sedikit bokongnya di kursi, ia segera kembali ke sebelah Jeng Yeni sebelum orang-orang tahu dia juga sedang horny.
Sementara itu prosesi pernikahan Bu Aini berjalan lancar. Dari akad nikah hingga prosesi adat jawa sewajarnya. Kini kedua mempelai duduk manis di pelaminan yang dihias janur kuning melengkung. Bu Aini pakai kebaya putih berhijab anggun, pengantin pria memakai beskap lengkap dengan blangkon. Di kanan-kiri mereka, orang tua masing-masing duduk rapi: bapak-ibu mempelai pria serta orang tua Bu Aini. Gamelan melamun pelan, tamu sudah pada duduk manis. Diiringi hiburan sederhana oleh MC yang juga merangkap penyanyi organ tunggal.
Sadar akan suaranya yang tidak terlalu merdu dan membuat tamu tampak bosan, MC berinisiatif, “Bapak Ibu yang berbahagia, daripada kita bosan mendengar nyanyian saya yang fales ini, huhuhu, mari kita games saja. Yuk cari satu orang yang paling… ehm… berenergi tinggi hari ini! Siapa hayo?”
Dari meja penerima tamu, Jeng Yeni langsung berdiri sambil melambai-lambai tangan tinggi-tinggi, “Mbak Susiiii! Mbak Susi ke depan dong! Yuk yuk yuk!”
Seketika hajatan riuh meledak. Puluhan laki-laki langsung serentak bersorak
“SUSI! SUSI! SUSI!”
Ada yang bersiul nyaring, ada yang tepuk meja, ada yang langsung berdiri sambil nunjuk-nunjuk.
Susi pura-pura menutup mulut dengan tangan, mata melotot sok kaget, tapi dengan malu-malu melangkah ke depan. Kebaya brokatnya yang basah keringat berkilau membuat siluet tubuhnya terlihat semakin ganas. Sampai di depan pelaminan, MC langsung menyambut sambil beri mic ke Susi.
“Wah, ini dia! Nama lengkapnya siapa, Mbak Ayu? Ya Ampun muontoook tenan ikiii!”, seru MC yang agak ngondek itu memuji Susi.
“Susi aja, Mas…” jawabnya manja, suaranya langsung bikin beberapa bapak di baris depan batuk-batuk.
“Oke, Mbak Susi! Kita main games simpel namanya ‘Tebak Gerakan Pakai Tangan’. Mbak Susi jadi modelnya, nanti ada satu bapak yang matanya ditutup, cuma boleh nebak lewat sentuhan tangan. Tangan cuma boleh di bahu, pinggang, sama… pinggul ya, biar tetap sopan!”
Para tamu langsung heboh berteriak “WOOOOOOOOOOOO!!!”
MC melirik ke pelaminan. “Kebetulan bapake pengantin lanang kelihatan paling semangat dari tadi. Pak, mau ndak jadi partner Mbak Susi?”
Bapak pengantin pria yang duduk di samping anaknya langsung lompat berdiri. “Mau! Yo mau to yo! Aku turun dulu ya, Nak!” katanya sambil buru-buru melangkah turun dari pelaminan, badannya gemetar kegirangan. Istrinya cuma bisa geleng-geleng sambil ketawa kecil.
MC memberi kain penutup mata hitam, diikat rapat di kepala bapak. Pria itu berdiri di tengah depan panggung pelaminan, tangan sudah siap-siap meraba-raba udara. Ia berhadap-hadapan dengan Susi. Kontras sekali, Susi yang anggun dan bertubuh indah dan si bapak yang pendek mungkin hanya setinggi dagu Susi.
“Aturan mainnya gini,” kata MC lagi, “Mbak Susi boleh gerak apa wae, boleh joget, boleh nyanyi, boleh goyang pinggul, terserah! Bapak cuma boleh nebak lewat sentuhan tangan. Kalau salah, tamu boleh kasih hukuman apa aja. Siap?”
“SIAPPPPP!” teriak tamu serentak. Sebagian besar tamu laki-laki sudah mengeluarkan kamera hapenya dan semua mengarah ke Susi, termasuk Pak RT Komar yang bersemangat merekam tepat 2 meter di dekat Susi.
Ronde pertama.
Susi mulai goyang pelan ala dangdut, pinggulnya berputar delapan sempurna, bokong montoknya bergoyang ke kiri-kanan mengikuti irama gamelan. Belahan rok batiknya melebar, memperlihatkan paha mulus berkilau keringat.
Tangan Bapak pengantin pria langsung mendarat di pinggang Susi dari depan, jari-jarinya gemetar.
“Ini… ini… joget poco-poco ya?” tebaknya salah.
“Bukan!” teriak tamu.
Susi cekikikan, lalu sengaja mendekatkan badannya sampai dada besarnya hampir menyentuh dada si bapakt. Ia tarik napas dalam-dalam, kebaya brokatnya ketarik keras sampai bunyi “krekk” kecil, belahan dadanya nganga lebar.
Ronde kedua.
Susi pura-pura “mencuci baju”, tangannya gerak naik-turun di depan dada, sengaja membuat payudaranya bergoyang hebat seperti gelombang laut. Setiap gerakan, brokat tipis itu semakin tembus pandang, sampai lingkaran areola pinknya samar-samar kelihatan.
Tangan si bapak naik sedikit lebih berani, jari telunjuknya “tak sengaja” menyentuh sisi luar payudara Susi yang melimpah itu.
“Ini… ini nyanyi sambil nari perut ya?” tebaknya lagi, suaranya sudah serak.
“Bukan, Pak! Itu gerakan nyuci BH ukuran jumbo!” teriak Pak RT yang disambut gelak tawa penonton. Suasana menjadi meriah sekali, tidak terkecuali si pengantin dan keluarga.
Ronde ketiga, yang paling ditunggu.
MC bilang, “Sekarang bebas! Mbak Susi silakan gerak seenaknya!”
Susi langsung memutar badan, punggungnya menghadap si bapak. Lalu ia membungkuk dalam-dalam seolah mengambil sesuatu dari lantai. Rok belahnya langsung terbuka lebar, bokong bulat sempurna menonjol ke belakang tepat di depan tangan si bapak.
si bapak langsung “menemukan” sasaran. Kedua tangannya mendarat pas di bokong Susi, meremas pelan-pelan seolah lagi menimbang buah.
“Ini… ini… bola voli ya?!” teriaknya kegirangan.
Gelak riuh tamu pecah total. Ada yang tepuk meja sampai bunyi, ada yang bersiul panjang. Susi tetap bungkuk beberapa detik lagi, sengaja menggoyang bokongnya pelan di telapak tangan si bapak, lalu bangun perlahan sambil cekikikan.
MC akhirnya buka penutup mata si bapak. Begitu matanya terbuka dan langsung bertemu Susi dari jarak 30 cm, pria itu melongo, mulut menganga, napas tersengal.
“Matur nuwun, Mbak Susi… matur nuwun tenan… ini baru hiburan hehehe” katanya sambil tangannya masih betah menepuk-nepuk pelan pinggang Susi.
Susi cuma mengedipkan mata, lalu berjalan pergi sambil melambaikan tangan ke tamu yang masih tepuk tangan riuh. Sepertinya banyak diantara mereka punya koleksi bacol baru di galeri video handphone. Sementara itu di barisan depan VIP, kursi Pak Udin sudah kosong. Kotak souvenir tergeletak di lantai, penyok. Pria tua itu terlihat melenggang cepat ke arah parkiran, dibakar api cemburu langkahnya tergesa, tanpa menoleh lagi.
bersambung…