ITA 9
SUSI
Jam menunjukan pukul 11 siang, hajatan kini sudah masuk jam prasmanan. Meja panjang penuh tumpeng, ayam goreng, perkedel, sambal goreng krecek, sampai es cendol di ujung. Antrean mengular panjang, orang berebut piring, sendok, dan lauk. Bau nasi kuning, bawang goreng, dan keringat campur aduk.
Di meja Susi dan Jeng Yeni sudah tersedia makanan dan minuman yang disediakan tim dapur untuk mereka. Namun karena mulai gerah, Susi merasa dahaga menyerangnya, dia hendak mengambil es kelapa muda. Melihat orang berdesak-desakan, Susi mencari celah, dilihatnya Pak RT dan Bapak pengantin pria yang sedang mengobrol akrab dalam barisan itu. Karena mengantre sambil berbincang, maka ada sedikit space diantara mereka. Dengan gesit Susi menelusup celah itu dari samping, langsung nyemplung ke tengah-tengah Pak RT dan Si Bapak. Tubuhnya yang montok itu langsung jadi bemper hidup. Depan-belakang nempel semua.
Susi tahu persis posisinya. Dia hanya memberi senyum memohon pada kedua bapak-bapak yang menjepitnya. Dan sudah jelas Pak RT dan si bapak mertua Bu Aini justru jadi sumringah. Malah Susi sedikit mendesah pelan, “Duh… sempit tenan nggih Pak antreannya…, untung Susi ada di deket bapak-bapak iki”
Si Bapak mertua langsung nyengir lebar. Ia mundur selangkah, punggungnya menempel dada Susi. Meskipun atas pendek tubuhnya, payudara Susi lebih tepat disebut bersandar di bahunya.
“MBYOTT”, Sepasang buntalan yang penuh susu itu langsung tergencet.
“Wah Mbak Susi… ini sampean kok bawa semongko gede tenan lho? Apa ndak berat?” bisik si bapak sambil menggesek-gesek punggungnya pelan.
“Aih aih, ini bukan semangka Pak… maaf Susi nitip disangga dulu nggih di punggung sampean, hihihi”
Pak RT Komar di belakang juga langsung ambil kesempatan. Ia maju-majukan tubuhnya, terutama pinggulnya, kontolnya yang sudah ngaceng dari tadi langsung nempel di bokong Susi. Rok kebaya belah tingginya cuma menutup setengah paha, jadi tangan Pak RT gemetar gemas ingin mengelusnya.
“Eh Mbak Sus… bokong ini sampean kasih pupuk opo to, kok subur dan gembur gini?” bisik Pak RT serak di telinga kiri Susi, sembari lengannya menggesek pelan lekuk pinggul itu.
“Aih aih… cuma olahraga di pendopo dusun kok, biar kencang Paak…”, jawab Susi lirih tanpa menoleh penuh dengan sedikit melirik.
Pak RT tidak begitu menggubrisnya, ia sibuk menelanjangi leher Susi yang ditumbuhi bulu-bulu halus dengan mata cabulnya. Tanpa sadar ia menelan ludah dan bibirnya menganga, serasa ingin mencaplok leher ranum itu. Ia menatap telinga Susi yang juga bersih dan cerah, bagian belakang telinganya sedikit merona merah muda.
Barisan sedikit demi sedikit mulai maju, Pak RT mendesak Susi, Susi mendesak Bapak Mertua pengantin. Pak RT tentu menikmati sensasi gesekan dan gerakan pantat kenyal janda itu, penisnya semakin menegang. Sementara si bapak mertua mulai pusing memikirkan buntalan payudara indah yang menekan lehernya dari belakang. Antrian di belakang semakin ramai sehingga perlahan mengubah posisi berdiri mereka. Badan bapak mertua kini agak memutar menyamping, sehingga wajahnya menjadi sangat dekat hanya beberapa cm dengan daging kenyal di dada Susi yang berurat tipis.
Di antara sesak orang-orang di sekitar sibuk sendiri, tidak ada yang ngeh kalau di tengah kerumunan itu si Bapak mertua sudah memutar badan tepat menghadap Susi. Badannya yang pendek membuat wajahnya tepat sejajar dengan dada Susi yang membusung. Maka badan sintal Susi kini benar-benar seperti roti isi yang digencet dari dua sisi, terjepit diantara dua pria tua yang sedang birahi.
“Maaf ya Mbak Susi…”, ucap si bapak tanpa melihat wajah Susi. Isi otaknya sudah dipenuhi susu besar yang terpampang nyata di depanya.
Situasi ini seperti mimpi basah bagi si bapak. Wajahnya yang sudah memerah, dengan kumis tipis menghadap belahan dada Susi. Kebaya brokat ketat itu sudah mencapai batasnya sejak pagi, tapi sekarang, di bawah tekanan kerumunan dan panas siang, kondisinya semakin dramatis—seperti kain yang sedang berperang melawan isi yang terlalu berlimpah. Jahitan halusnya yang semula anggun kini melar keras, serat-serat benangnya menegang seperti urat-urat yang mau putus, membentuk pola timbul yang mengikuti kontur dua gunung kembar raksasa itu. Kainnya basah oleh keringat Susi yang mengalir dari leher, membuat bahan brokat menjadi semi-transparan di bagian depan, samar-samar memperlihatkan kulit putih mulus di baliknya. Areola lebar di sekitarnya juga mulai terbayang, warna merah mudanya kontras dengan brokat, seperti dua lingkaran rahasia yang bocor karena panas.
Ingin rasanya si bapak menenggelamkan wajahnya yang tua dan keriput itu ke dalam belahan dada Susi, lalu menguyel-uyelnya dengan gemas, menghisap setiap tetes keringat yang mengalir seperti madu panas. Susi hanya cuek saja, bahkan ketika butiran keringatnya mengalir turun dari leher ke lembah payudaranya yang dalam dan menggoda. Ia meresapi sensasi itu, menduga si bapak pastilah sangat ingin menyucup gundukan dadanya yang montok, menghisap keringatnya seperti es kelapa muda di booth sana—manis, segar, dan membuat birahi membara. Susi menyukai sensasi menggoda ini, membangkitkan gairah pria-pria di sekitarnya hingga tubuhnya sendiri bergetar oleh panas yang menjalar dari selangkangan.
“Kayaknya daripada kelapa yang disana, dua kelapa disini lebih sueger Pak RT…”, seloroh pelan si bapak, suaranya serak penuh nafsu, matanya tak lepas dari belahan dada yang semakin basah.
“Hehe bapak bisa wae, ini juga di belakang sini aku wis nemu sepasang kelapa kembar yang empuk dan puleh lho…”, jawab Pak RT menanggapi tak kalah mesum, tangannya sudah berani menggesek pelan pinggul Susi dari belakang, merasakan kehangatan daging kenyal itu.
“Aih aiiih, tapi kan yang disana ada airnya to, bapak-bapaak…”, sahut Susi manja, suaranya mengalun seperti godaan, sambil sengaja menggeliat pelan, membuat payudaranya bergoyang ringan dan menekan lebih kuat ke bahu si bapak.
“Ah keringetnya Mbak Susi juga sedep kalo dihisap, sluurph hehe”, balas si bapak lagi lebih mesum, sambil memainkan lidahnya di udara, seolah sudah membayangkan rasanya—asin manis, membuat kontolnya mengeras di balik celana.
Barisan maju lagi, pelan tapi pasti, seperti denyut birahi yang semakin intens. Bersamaan dengan itu, guncangan payudara Susi mendorong-dorong wajah si bapak, membuat napasnya tersengal. Kancing di bagian dada kebaya itu seolah berteriak ingin lepas, tegang oleh desakan daging montok yang penuh susu. Dan benar saja, di tengah dorong-dorongan yang kacau, “Pluk! Pluk!”, dua kancing atas kebaya Susi terlepas tiba-tiba, seperti pintu surga yang terbuka lebar.
Dua onggok daging kenyal nan lembut itupun semakin berontak keluar dari sarangnya, meluber gemas, putingnya masih tersembunyi. Gila! Si bapak jadi pusing tujuh keliling, matanya membelalak melihat pemandangan itu dari jarak dekat, aroma keringat manis Susi memenuhi hidungnya. Apalagi ketika Susi meminta tolong si bapak untuk mengaitkan kancing itu lagi, suaranya lirih penuh godaan, “Tolong ya Pak… tangan Susi kejepit nih…”. Tangan Susi memang terhimpit oleh orang yang berdesak-desakan, tapi sebenarnya ia sengaja membiarkan, menikmati getaran birahi yang menjalar.
Dengan gemetar hebat, si bapak berusaha menarik kancing itu ke dudukannya satu persatu, jari-jarinya “tak sengaja” menyentuh kulit halus payudara Susi, merasakan kelembutan yang membuat darahnya mendidih. Susah sekali, entah karena ukuran payudara yang jumbo atau baju yang kekecilan, tapi dia tahu betul alasannya—daging itu terlalu penuh, terlalu menggiurkan. Saat dikaitkan, gumpalan buah dada yang subur itu menggembung kembali ke atas, seperti ingin melompat keluar lagi, menggoda si bapak hingga kontolnya berdenyut sakit.
Si bapak akhirnya dengan gelap mata berbisik, napasnya panas menyentuh kulit Susi, “Mbak Susi… kalo begini terus bisa-bisa aku nekat nyucup susu sampean…”
Mendengarnya, Susi bergidik nikmat, bulu-bulu halus kulitnya meremang, dan cairan kewanitaannya mulai membasah dan merembes pelan, membanjiri selangkangannya yang sudah panas. Tubuhnya bergetar, memeknya berdenyut-denyut seperti meminta disentuh. Maka dengan pelan diapun berbisik balik, suaranya menggoda seperti bisikan setan, “Di sini cuma ada santan, Pak. Kalo Bapak mau susu… adanya di kebon pisang di belakang sana, nanti siang baru dihidangkan… tapi harus pelan-pelan ya, biar enak…”
Mendengar dialog dua orang itu yang penuh nafsu, Pak RT di belakang tidak mau kalah. Ia buka resleting pelan, kontolnya yang pendek tapi gemuk langsung keluar, nempel telanjang di kain rok Susi yang tipis. Ia gesek-gesek pelan, kepala kontolnya yang sudah basah oleh precum menggesek kain lembut yang melapisi pantat bahenol Susi, meninggalkan jejak panas dan lengket. Tidak ada yang menyadarinya kecuali Pak RT sendiri.
Pelan tapi pasti antrian semakin merangsek ke depan, semua orang berebut mengambil es kelapa muda yang bersantan, tapi bagi Susi, santan asli ada di antara tubuhnya yang terjepit dua pria birahi. Hingga tiba giliran si bapak mertua pengantin yang tampak kecewa karena tidak lagi menempel Susi, wajahnya merah karena birahi yang tak tersalur. Ketika tiba giliran Susi, ternyata Bu Denok yang jadi pelayan es kelapa-santan.
“Lho Mbak Susi, bukannya tadi wis ngambil es yo?”, tanya Bu Denok, suaranya penuh tanya.
“Lho belom kok Bu”, jawab Susi manja, sambil menggeliat pelan, membuat payudaranya bergoyang lagi.
“Lhah itu sampe tumpah-tumpah santan-nya ke rokmu di belakang…?”
Seketika Susi memutar pinggangnya untuk melihat rok jarit batiknya bagian belakang. Di situ, di bagian pantatnya memang terlihat basah terlumur cairan putih seperti santan, namun lebih kental, lengket, dan hangat. Lalu Susi reflek melihat wajah Pak RT yang cengar-cengir penuh kepuasan, kemudian berpindah melihat tonjolan di selangkangan Pak RT yang juga sedikit basah, kontolnya sudah lemas tapi puas.
“Aih aih…”, itu saja respon Susi sambil cekikikan genit, tapi dalam hati ia tersenyum—birahi hari ini baru saja dimulai.
—---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di sebuah rumah mewah di pusat Kabupaten, Bu Siti dan Pak Karto sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke luar negeri. Minggu depan, pesawat akan membawa mereka ke Singapura untuk urusan bisnis mebel yang menggiurkan. Tiket bisnis dan dokumen kontrak, sudah sia dengan rapih di meja.
Pak Karto sedang mondar-mandir memeriksa daftar barang, sementara Bu Siti duduk di sofa sambil memeriksa pesan di ponselnya. Anak mereka, yang sedang SMA dan sering bermasalah dengan nilai jeblok serta bullying di sekolah, menjadi perhatian utama. Mereka tak ingin ada panggilan dari sekolah saat sedang jauh.
"Bu, kowe wis konfirmasi lagi sama Susi? Jangan sampai dia berubah pikiran," tanya Pak Karto sambil melipat jas favoritnya.
Bu Siti mengangguk, matanya tak lepas dari layar. "Sudah, Pak. Baru wae tadi pagi aku telepon dia. Susi bilang dia setuju jadi wali sementara untuk anak kita. Katanya, bisnis linen dia wis berjalan baik. Dia merasa ada hutang budi pada kita yang telah membantunya mengatasi masalah hidup lewat Mbah Jenggot"
Pak Karto tersenyum lega, "Baguslah. Jangan lupa kasih dia nomor guru wali kelas Ian. Pokoknya, selama kita bisnis trip ini, anak aman di tangannya."
Bu Siti bangkit, membantu suaminya mengecek daftar souvenir untuk klien. "Iyo, dia malah antusias. Bilang mau ajak anak kita jalan-jalan juga biar ndak kesepian. Ndak salah aku membantunya dulu."
Pak Karto menghela napas, "Bener, Bu. Semoga bisnis ini lancar, dan pesugihan kita tetap aman. Minggu depan, kita harus siap sepenuhnya."
Mereka berdua memandang sebuah botol bening yang berdiri di atas peti kayu berukiran rumit, dengan penuh keyakinan atas kekayaan yang mereka bangun bersama.
Setelah segala persiapan hampir rampung, Bu Siti dan Pak Karto merasa tenang. Bisnis di luar negeri bukan hanya peluang, tapi juga kesempatan untuk memperkuat kerajaan mebel mereka. Susi, sebagai istri mendiang Wira yang merupakan kerabat jauh, telah membuat mereka tenang. Mereka berharap semuanya berjalan mulus, tanpa gangguan dari sekolah si anak atau rahasia gelap mereka.
—---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di dusun Losawah, hajatan pernikahan Bu Aini mulai mereda sekitar pukul satu siang. Matahari sudah tegak di atas kepala, membuat udara semakin pengap meski angin sesekali menyelinap di antara tenda hajatan. Tamu-tamu rombongan mempelai pria sudah banyak yang pulang, menyisakan keluarga inti dan para pembesar kampung yang masih berbincang santai di sekitar pelaminan. Mobil-mobil pengantar berderet meninggalkan dusun Losawah, meninggalkan debu tipis yang beterbangan. Di antara itu semua, si bapak dari mempelai pria duduk gelisah, tangannya memilin ujung kemeja batiknya. Istrinya sibuk mengobrol dengan keluarga Bu Aini, sementara anaknya yang baru saja menikah sudah sibuk foto-foto bersama pengantin perempuan.
Si bapak tak bisa tenang. Otaknya dipenuhi bayangan Susi, penerima tamu yang bertubuh molek itu. Dari pagi tadi, mulai dari pandangan pertama di meja penerima tamu, games konyol di depan pelaminan, hingga kejadian di antrean prasmanan yang membuat kontolnya mengeras sepanjang hari. Terutama ucapan Susi yang terakhir: "Kalo Bapak mau susu… adanya di kebon pisang di belakang sana, nanti siang baru dihidangkan…" Kata-kata itu seperti kode rahasia yang terus bergaung di telinganya. Apa maksudnya? Apakah itu undangan terselubung? Atau cuma godaan iseng? Si bapak menelan ludah, matanya melirik ke arah meja penerima tamu yang sekarang sudah kosong. Susi dan Jeng Yeni tak terlihat lagi, mungkin sudah ikut bantu-bantu membersihkan atau istirahat.
"Ehm, Bu... aku ke belakang dulu ya, perutku agak mules," bisik si bapak ke istrinya, suaranya dibuat sekalem mungkin meski jantungnya berdegup kencang.
Istrinya cuma mengangguk sambil melanjutkan obrolan, tak curiga sedikit pun. Si bapak berdiri pelan, berpura-pura berjalan santai menuju arah belakang rumah besar itu. Sebenarnya, dia tak tahu persis di mana "kebon pisang" yang dimaksud, tapi dari tadi pagi dia perhatikan ada kebun kecil di belakang, penuh pohon pisang yang rindang, berbatas pagar bambu sederhana. Mungkin di sana. Langkahnya pelan, tapi pikirannya berlari kencang. Bayangan payudara Susi yang montok, basah keringat, dan hampir meluber dari kebaya ketat itu membuat selangkangannya kembali bereaksi.
Saat melewati dapur hajatan yang masih ramai orang memindah-mindah piring kotor, si bapak sempat bertanya halus ke Bu Denok yang tadi melayani es kelapa. "Bu, kebon pisang di sekitar sini cuma yang di belakang ini nggih?"
Bu Denok cuma tersenyum sambil mengangguk, "Bener, Pak kalo panjenengan seneng pisang, nanti saya pesen ke mantu sampean biar dibawakan kalo berkunjung"
“Oh, nggih… ya lumayanlah hehe, matursuwun, Bu”, jawab si bapak sekenanya.
Jawaban itu sudah cukup bagi si bapak, dalam hati dia berteriak kegirangan. Jadi ini kebon yang disebut Susi. Ia beranjak pura-pura kembali kedepan. Langkahnya semakin cepat, tapi tetap hati-hati agar tak menarik perhatian. Dia menyusuri jalan setapak kecil di samping rumah, melewati tumpukan kursi lipat, hingga tiba di pinggir kebon pisang. Setelah dirasa sepi, dia berbelok masuk ke kebon pisang.
Kebun itu tak terlalu luas, mungkin seluas lapangan voli, penuh pohon pisang tinggi yang daunnya lebar saling bertautan, menciptakan bayangan sejuk di bawah matahari siang. Angin sepoi menyapu daun-daun, membuat suara gesekan pelan seperti bisikan.
Si bapak berhenti di pinggir, matanya menyapu kebun itu dengan hati-hati. Tak ada orang terlihat, tapi dari kejauhan, di balik batang pohon yang tebal, dia mendengar suara samar—seperti desahan pelan, disusul erangan kecil yang terdengar seperti... nikmat? Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia menyelinap masuk, berjalan pelan di antara pohon-pohon, menggunakan batang pisang sebagai tempat bersembunyi. Setiap langkah, dia berhenti sebentar, mengintip ke depan. Bau tanah basah dan daun hijau bercampur dengan sesuatu yang manis—mungkin aroma tubuh wanita?
Akhirnya, dari balik sebatang pohon pisang yang besar, si bapak melihatnya. Susi! Dia duduk di atas tumpukan daun kering yang ditumpuk seperti alas sederhana, punggungnya bersandar ke batang pohon. Kebayanya sudah setengah terbuka, kancing atasnya lepas, memperlihatkan payudara montok yang sejak pagi tadi seperti mau meledak. Matanya tertutup, wajahnya memerah, dan tangannya... ya Tuhan, tangannya sedang memijat-mijat salah satu payudaranya sendiri, jari-jarinya meremas pelan sambil mendesah. Si bapak membeku, matanya tak bisa lepas. Dari jarak sekitar lima meter, dia bisa lihat detail: puting Susi yang merah pucat sudah mengeras, dan dari ujungnya menetes cairan putih kental, susu? Benar-benar susu! Susi seperti dimabuk birahi, napasnya tersengal, tubuhnya bergoyang pelan seolah menikmati setiap sentuhan.
"Ahh... penuh banget... harus dikeluarin... " gumam Susi pelan, suaranya lirih tapi penuh gairah.
Si bapak menelan ludah, kontolnya langsung mengeras di balik celana. Dia tak berani bergerak, hanya mengintip, merasakan tensi yang naik perlahan seperti api yang menyala pelan.
Susi tak sadar ada yang mengintip. Sejak tadi, setelah hajatan mereda, payudaranya semakin sakit dan berat. Efek tuyul yang rakus dua malam berturut-turut membuat susunya menumpuk, seperti mau meledak di dalam kebaya ketat yang sudah basah keringat. Panas siang hari tambah membuatnya gerah dan horny, birahi yang memuncak dari godaan-godaan sepanjang hari. Dia bilang ke Jeng Yeni mau istirahat sebentar, lalu menyelinap ke kebon pisang ini, tempat sepi di belakang rumah hajatan, rindang dan mudah diakses tanpa dicurigai. Di sini, dia bisa melepaskan tekanan fisik itu, "memerah" susunya sendiri agar tak sakit lagi. Tapi dalam hati, dia berharap si bapak mertua pengantin itu penasaran dan mengikuti kode tadi.
"Kalau dia datang... biar dia yang menyusu ke aku," pikirnya sambil tersenyum kecil, jarinya semakin rakus memijat, membuat susu menetes lebih banyak ke perutnya yang mulus.
Si bapak tak tahan lagi. Napasnya semakin berat, tangannya tanpa sadar menggeser celana untuk memberi ruang pada tonjolannya.
“Uhuk…”, Dia batuk pelan, sengaja membuat suara agar "ketahuan".
Susi kaget, matanya terbuka lebar, tapi bukannya marah, dia malah tersenyum manja, seperti sudah menunggu. "Aih aih… Si bapak... akhirnya datang juga. Susunya wis nunggu dari tadi," katanya lirih, suaranya menggoda sambil menarik kebaya lebih lebar lagi.Si bapak maju pelan, ragu-ragu, matanya terkunci pada payudara yang basah itu.
"Mbak Susi... ini... beneran?" tanyanya serak, suaranya gemetar.
Dia mendekat, tangannya menyentuh bahu Susi dulu, pelan seperti takut membakar. Susi mengangguk, menarik tangannya ke pinggang, membuat tubuh mereka semakin dekat. Aroma keringat manis Susi memenuhi hidungnya, membuat birahinya meledak.
Pendekatan itu bertahap, tapi tak lama. Si bapak mulai berani, jarinya menyusuri lekuk pinggang Susi, lalu naik pelan ke sisi payudara. Susi mendesah, mendorong tubuhnya agar membusung maju.
"Pelan-pelan ya Pak... biar enak," bisiknya, tapi matanya penuh tantangan.
Si bapak tak bisa menahan lagi. Dengan nafsu yang sudah membara, dia menunduk, mulutnya mendarat di salah satu puting Susi. Hisapannya brutal dari awal—rakus, seperti serigala kelaparan. Giginya menggigit pelan, lidahnya berputar-putar, menarik susu yang manis itu ke dalam mulutnya.
“Slurrph Nyoot nyot nyot nyot nyot ppuaaahh... enak... susu Mbak Susi... manis banget!" desahnya di antara hisapan, tangannya meremas payudara yang satunya dengan kuat, membuat Susi menggelinjang campur sakit dan nikmat.
Susi memegang kepalanya, menekan lebih dalam, tubuhnya bergoyang mengikuti irama. "Nyusu lebih kenceng Pak... sedotin semuanya!" erangnya, birahinya memuncak.
“Nyoot nyot nyot nyot nyot…”
Di kebon pisang yang sepi itu, suara desahan mereka bercampur angin, dengan risiko ketahuan dari suara tamu yang samar-samar dari kejauhan, membuat semuanya semakin menegangkan.
Si bapak tak berhenti, hisapannya semakin ganas, susu menetes ke dagunya, sementara tangannya mulai merayap ke bawah, mencari lebih banyak kenikmatan. Dengan rakus, mulutnya bergantian dari puting kiri ke kanan, menarik susu manis Susi dengan hisapan yang semakin dalam.
"Nyoot nyot nyot... ahh, Mbak... susu iki... enak pol! Kaya madu campur krim!" gumamnya di antara napas tersengal, lidahnya berputar-putar liar, gigitannya pelan tapi cukup bikin Susi menggelinjang.
Tangan kirinya meremas payudara yang lagi tak dihisap, jari-jarinya mencubit puting sampai susu muncrat kecil ke udara, basahi wajahnya yang sudah merah padam. Susi mendesah panjang, kepalanya menengadah ke langit, tubuhnya bergoyang mengikuti irama, tapi matanya setengah terbuka, waspada dengan suara angin dan tamu samar dari kejauhan.
"Ahh Pak... sedot lebih kuat... sedot sampe abis! Susuku iki wis penuh banget, butuh dikosongin..." erang Susi, tangannya menekan kepala si bapak lebih dalam, seperti memaksa dia tenggelam di dada montoknya.
Birahinya memuncak, memeknya sudah basah sejak tadi, tapi dia tahan dulu—nikmati dulu sensasi penyusuan ini. Si bapak tak peduli lagi risiko, tangan kanannya merayap ke bawah, menyelinap ke rok kebaya Susi yang sudah kusut, jarinya menemukan celana dalam yang lembab, lalu menyusup masuk, menyentuh bibir memek yang licin dan panas.
"Wueladalah... Mbak Susi... memekmu iki... basah tenan... pengen aku jilati!" desahnya, jarinya mulai menggosok klitoris Susi pelan, membuat tubuhnya bergetar.
Susi menggigit bibir, menahan erangan, tapi tiba-tiba matanya melirik ke samping—ada gerakan samar di balik pohon pisang. Seseorang mengintip? Bukannya kaget, Susi malah tersenyum licik, birahinya malah naik level. Dia tahu siapa itu: Pak RT Komar, yang dari pagi udah tergila-gila sama tubuhnya, apalagi setelah "insiden santan" di antrean tadi.
Pak RT, yang sejak hajatan mereda ikut penasaran dengan kode Susi di antrean (dia dengar samar ucapan "susu di kebon pisang"), diam-diam ikuti si bapak mertua pengantin ke belakang. Kontolnya yang udah lemas setelah ejakulasi di rok Susi pagi tadi, sekarang mengeras lagi saat mengintip adegan ini.
"Setan Alas! Mbak Susi lagi menyusui... susu beneran! Aku mau gabung!" batinnya, tangannya sudah mengocok kontolnya sendiri dari balik celana sarung.
Tapi PakRT terlalu horny, kakinya menginjak ranting kering “kretek!”
Suara kecil tapi cukup bikin si bapak kaget, mulutnya lepas dari puting Susi dengan suara “plop” basah.
"Si... siapa itu?!" bisik si bapak panik, matanya membelalak, kontolnya yang udah keluar setengah mengeras langsung layu sedikit karena takut ketahuan.
Tapi Susi cuma tertawa kecil, tangannya menarik kepala si bapak kembali ke payudaranya, sambil berbisik, "Tenang Pak... itu cuma tamu spesial. Ayo lanjut, biar dia ikut main." Lalu dengan suara lebih lantang, Susi panggil, "Pak RT... ayo keluar wae, ndak usah sembunyi. Susu iki cukup buat kalian berdua kok, hihihi."
Pak RT keluar pelan dari balik pohon, wajahnya merah campur malu dan nafsu, celananya sudah turun setengah, kontolnya yang pendek tapi gemuk tegak keras.
"M-mbak Susi... ternyata bener yang digosipin bapak-bapak selama ini, aku boleh ikut?" tanyanya serak, matanya terkunci pada payudara yang penuh susu itu.
Si bapak awalnya kaget, mau marah, tapi lihat Susi yang malah mengangguk manja, dia pasrah—birahinya lebih kuat dari cemburu.
"Ayo Pak RT, sini... bantu aku kenyotin susuku. Pak mertua wis mulai capek," kata Susi menggoda, tangannya meraih kontol Pak RT dan mengocok pelan, membuat pria itu mendesah.
Pak RT langsung mendekat, mulutnya mendarat di payudara sebelah yang kosong, hisapannya lebih ganas dari si bapak
“Nyot nyot nyot nyot”, gigitannya kuat sampai Susi erang campur sakit nikmat. "Enak tenan Mbak... susu iki manis pol! Kaya santan campur gula!" gumamnya, tangannya meremas bokong Susi dari belakang.
Sekarang Susi terjepit dua pria: si bapak di depan terus hisap puting kiri sambil jarinya ngocok memeknya, Pak RT di samping hisap puting kanan sambil remas pantat. Tubuh Susi bergoyang hebat, desahannya semakin lirih tapi panas.
"Aaahh… uuh…ssshh kalian berdua rakus tenan... sedot lebih kenceng... aku pengen muncrat bareng!"
Risiko ketahuan tambah tegang—suara tamu samar dari rumah hajatan, angin bertiup bawa bau tanah basah campur keringat mereka. Si bapak yang awalnya ragu, sekarang malah ikut mesum, kontolnya digesek-gesek ke paha Susi. Tak lama, Susi dorong mereka mundur pelan, lalu dia berlutut di atas daun kering, kebaya terbuka lebar.
"Sekarang giliran aku “nyusu” kalian... tapi bareng ya, biar adil." Tangannya meraih kedua kontol mereka, mengocok bergantian, lalu mulutnya berganti-ganti hisap.
“slurrp slurrp…,” lidahnya berputar di kepala kontol si bapak, lalu pindah ke Pak RT yang lebih gemuk.
"Nyot nyot... kontol Pak RT iki gemuk, enak dihisap... Pak mertua punya panjang, cocok buat genjot nanti!" erangnya sambil mengelomoh dua batang kontol bergantian.
Sementara air susunya masih menetes dari putingnya ke tanah. Dua pria itu mendesah bareng, tangan mereka meremas payudara Susi lagi, membuat susu muncrat ke wajah mereka. Pak RT yang lebih berani, ia mendorong badan montok Susi hingga telentang, lalu naik ke atas, kontolnya langsung diposisikan ke depan memek Susi yang basah. Pelan tapi pasti kontol itu menyeruak masuk, membelah labia vagina yang lengket. Ditariknya perlahan, lalu dihujam lagi.
“sloooppp…. ploooosshh… slopp… plossh…”
"Ahh Mbak... memekmu iki sempit pol! Enak banget!"
Si bapak tak mau kalah, dia posisikan kontolnya di mulut Susi sambil mengerang, "Emut manuk-ku Mbak Sussiiii oooghh!"
Di samping, si bapak mulai mengentot mulut Susi pelan-pelan, kontolnya maju mundur di antara bibir merekah itu, lidah Susi berputar-putar di kepalanya, menarik precum yang asin manis.
"Slurrp... gokh gokh gokh gokh gokh gokh”
“Uuugh Mbak... mulutmu panas, kayak memek juga... sodok lebih dalem ya, biar aku rasain tenggorokanmu!" desah si bapak, tangan kanannya bergabung dengan Pak RT meremas payudara kanan, mencubit puting sampai susu menetes ke dagu Susi sendiri.
Mereka berdua seperti serigala rakus, tangan-tangan kasar itu bergantian remas payudara dan pantat, membuat tubuh Susi bergetar hebat di antara mereka. Birahi memuncak pelan tapi pasti, genjotan Pak RT semakin cepat.
“Plok plok plok plok plok plok plok…”
Memek Susi yang semakin basah terhantam dengan cepat, cairan muncrat kecil setiap dorongan. Susipun mengerang di antara hisapan kontol si bapak.
"Akh... Pak RT... kontolmu nggaruk tempikku dalem tenan... aku... aku mau muncrat nih... kencengin paaaakk…!"
Tubuhnya kejang tiba-tiba, orgasme pertama datang seperti gelombang dahsyat—memeknya menyemprot cairan hangat ke kontol Pak RT, menyiram paha mereka berdua.
“Crrrrrrrrsssshhhhh……”
"Aaaahhh... muncrat aku... enak pol... jangan berhenti Pak!"
Mereka tak kasih jeda, langsung ganti posisi dengan nafsu yang semakin liar. Susi dibalik diminta menungging, bokong montoknya menonjol ke atas, memeknya menganga basah mengundang. Si bapak mertua langsung ambil alih, kontol panjangnya didorong masuk dari belakang.
“SLOOOOOOPPHHHHSSSSS…”
"Ahh Mbak... memekmu basah banget, enak tenan nyodok tempikmu... aku genjot dalem ya, biar sampe rahim!" erangnya, pinggulnya maju mundur kasar, hantaman daging semakin kencang.
“Plok plok plok plok plok plok plok…”
Suara daging kemaluan yang berkawin bercampur gila dengan desahan mereka. Tangan si bapak meremas pantat Susi, jarinya memukul pelan bokong itu, membuatnya bergoyang seperti jelly. Pak RT sekarang di depan, berlutut di hadapan wajah Susi yang memerah.
“Ueheheheh… susumu iki lho Mbak, gondal gandul kayak pepaya… bikin ngiler wae!”
Mulutnya langsung mendarat kembali ke payudara kiri Susi. Dihisapnya lagi dengan ganas,"Nyot nyot nyot…”
Sembari menetek, tanganya mengocok kontol gemuknya pelan, ia gigit puting Susi sampai Susi mendesah panjang. Susi tak mau kalah, ia balas dengan meraih kontol Pak RT, mengocok kasar.
"Pak RT... kontolmu iki gendut, gemes pengen aku sedot lagi... tapi lanjut sedot susuku yo, biar muncrat bareng!", perintahnya kesetanan. Rambutnya sudah awut-awutan dan kebayanya sudah robek berserakan entah kemana.
Suara hantaman daging semakin kencang dari genjotan si bapak di belakang, bercampur kemyotan maut Pak RT di depan, dan erangan-erangan erotis Susi yang semakin liar.
"UOOOOGHH... Mbak Susi... memekmu
Nafsu setan menguasai syahwat mereka bertiga di tengah hari bolong tanpa takut ketahuan. Suara tamu samar dari rumah hajatan terdengar lebih dekat, angin bertiup bawa bau tanah basah campur keringat dan cairan birahi mereka—tapi itu malah bikin adrenalin naik, membuat setiap dorongan terasa lebih nikmat, lebih terlarang.
Susi ngecrit lagi, tubuhnya kejang hebat, memeknya menyemprot cairan ke kontol si bapak yang masih genjot ganas.
"Aaaaiiiihhh... muncrat lagi aku... Pak... lanjut sodok dalem... kontolmu panjang, nyodok enak pol!"
Dua pria itu tak tahan lama lagi, nafsu mereka memuncak nyaris bersamaan. Si bapak muncrat dulu di dalam memek Susi, peju panasnya menyembur sangat dalam, "Ahh... aku ngecrot Mbak... dalem banget... enak pol memekmuuuu Mbak Susssssiiiiiihhhhhhh!!”
“CROOOOOOTTTTT CROOOOTTTT!!!”
Pak RT ikut klimaks, kontolnya dia arahkan ke payudara Susi yang mengkilat karena cairan susu maupun liur, muncrat sperma kental ke dada montok itu, "Aaaahhh... ngecrot aku... ke susumu Mbak... campur susu iki... enak tenan!"
“CROOOOOOTTTTT CROOOOTTTT!!!”
Susi tersenyum puas, tubuhnya lemas tapi bergetar bahagia, peju kental bercampur susu dan sperma menetes di sekujur badan sintalnya.
bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar